Perjuangan Kiai Kampus (Mengenang KH Prof Dr. Ahmad Muchdlor)

Tuesday, April 8th 2014. | Essay

Ketika masih sedang berada di Medan, saya mendapatkan sms dari  Dr. H. Imam Muslimin, Ketua Hai’ah Tahfidzil Qur’an UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bahwa KH Achmad Muchdlor wafat. Dalam sms itu disebutkan bahwa jenazah Pengasuh Pesantren Luhur Malang dimaksud sedang dimandikan.

Pada tahun 1971, masuk kuliah
Waktu itu saya merasa beruntung,  mendengar bahwa  Pak Haji Muchdlor  bersama dosen lain,  di antaranya  Pak Buchori Saleh, LAS, Pak Wiyono,  KH Masduqi Mahchfudz, KH Oesman Mansyur, berencana mendirikan  pesantren luhur dengan mengambil tempat di Gedung Unsuri (sekarang dikenal menjadi UNISMA). Pada waktu itu,  saya segera ikut bergabung menjadi santri. Pada awalnya, santrinya tidak banyak, hanya beberapa, di antaranya Pak Muchtar Bisri, Pak Achmad Syafi’i, Pak Jihaduddin,  Machrus, saya sendiri, dan beberapa orang lagi lainnya.

Tidak lama kemudian, kegiatan  belajar di pesantren dimaksud dimulai, dan sejak awal  itu  sudah dinamai pesantren luhur. Pak Haji Achmad Muchlor berperan,  semacam menjadi pelopornya. Setiap malam, ——kegiatan pesantren hanya malam hari dan hanya beberapa kali dalam setiap minggu,  Pak Haji Achmad Muchdlor selalu hadir. Itulah sebabnya, beliau dikenal sebagai perintis dan sekaligus tokoh sentral pesantren luhur ini. Semangat beliau membangun lembaga pesantren ini, saya rasakan,   luar biasa besarnya. Pesantren yang dirintis oleh beberapa kyai yang juga mengajar di IAIN Malang ini  sama sekali tidak  memungut biaya dari para santri. Semua adalah gratis, termasuk para kyai yang mengajar tidak diberi apa-apa.

Pak Haji Achmad Muchdlor, ketika itu,  lebih sering dipanggil dengan sebutan Pak Haji.  Pada waktu itu memang belum banyak orang naik haji. Oleh karena itu, sebutan haji hanya untuk Pak Haji Achmad Muchdlor sendiri saja.  Saya rasakan,  beliau  sangat gigih dalam berjuang, terutama memperjuangkan pendidikan Islam.  Kata berjuang,  sehari-hari  ditanamkan oleh Pak Haji Achmad Muchdlor kepada para santrinya. Terkesan sekali, beliau   akan memformat  para santrinya untuk menjadi pejuang. Selama menjadi santri,  saya tidak pernah mendengar, beliau memberi petunjuk agar kelak menjadi pegawai yang baik, melainkan agar menjadi pejuang sungguhan. Tentu antara pegawai dan pejuang, menurut pandangan beliau, adalah  sangat  berbeda.

Oleh karena berstatus sebagai santri pesantren luhur dan  sekaligus mahasiswa itulah,  saya  menjadi sangat dekat dengan para kyai yang juga sekaligus sebagai dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang ini. Setiap menemui  persoalan terkait dengan ilmu agama, saya biasanya datang ke rumah Pak Haji Achmad Muchdlor, ——ketika itu masih bertempat tinggal di Oro-Oro Dowo, untuk mendapatkan jawabannya. Pertanyaan apa saja biasanya dijawab oleh beliau secara jelas.  Atas kedekatan itu,  sewaktu saya masih  menjadi mahasiswa, ———-ketika itu masih  pada tahun pertama, beliau saya ajak ke kampung saya di Trenggalek untuk memberi pengajian umum. Beliau datang berrsama isterinya. Padahal, perjalanan ke kampung, pada waktu itu tidak mudah, yaitu dengan kendaraan umum dan harus berganti-ganti. Di sepanjang perjalanan yang jauh dan cukup berat, beliau tidak mengeluh, malah memberikan semangat, bahwa berjuang untuk Islam harus merasakan keadaan  seperti itu.

Di awal saya memimpin kampus, beliau banyak memberikan nasehat, agar perguruan tinggi Islam diperkuat ilmu agamanya. Selain itu, juga agar dibangun kembali komunikasi antara kampus dengan para ulama, tokoh agama, dan  lembaga pendidikan pesantren. Beliau juga mengingatkan bahwa,  sebenarnya para pendiri perguruan  tinggi Islam, termasuk IAIN Malang,   adalah para ulama, sehingga tepat  sekali manakala hubungan antara kampus dan pesantren yang semakin menjauh itu didekatkan kembali. Atas dasar berbagai nasehat, di antaranya dari Pak KH. Achmad Muchdlor  itu,  selanjutnya  saya kembangkan pembelajaran Bahasa Arab intensif, pembangunan ma’had, mendekatkan para kyai atau ulama dengan warga kampus, dan mengembangkan  berbagai tradisi pesantren, dan lain-lain.

Menurut kesan saya, di sepanjang hidupnya, KH Achmad Muchdlor  tidak pernah berhenti berjuang di dalam  mengembangkan umat Islam. Setiap bertemu, siapa saja diajak berbicara tentang perjuangan. Beliau membangun rumah sakit, pesantren,  dan juga perguruan tinggi Islam. Selain itu, beliau seringkali juga diundang ke mana-mana untuk memberi ceramah atau pengajian di tengah-tengah masyarakat pada umumnya. Saya terakhir bertemu beliau, tatkala sama-sama  diundang oleh Kyai Ibnu di pesantrennya yang berada di sebelah barat Singosari. Tanpa saya duga sebelumnya, ketika saya datang di tempat pengajian itu,  ternyata guru saya,  Kyai Haji Achmad Muchdlor sudah berada di tempat itu.

Akan tetapi,  Kyai  Achmad Muhdlor justru memerintahkan saya untuk berpidato dan sebaliknya beliau akan mendengarkannya. Belum terlalu lama saya ketemu, ternyata   beliau dipanggil oleh Allah swt., terlebih dahulu. Kesan saya yang amat mendalam, bahwa di antara sekian banyak guru saya, beliau sangat tepat untuk dibanggakan, oleh karena keikhlasannya, kedalaman ilmunya, semangat juangnya, dan ketauladannya. Semoga beliau khusnul khotimah, diangkat derajadnya, dan dimasukkan oleh Allah swt., ke sorga-Nya. Amien.

Comments

comments

Related For Perjuangan Kiai Kampus (Mengenang KH Prof Dr. Ahmad Muchdlor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *