Perjalanan “Dlomir Na” (Cerita Santri yang menjadi Dosen)

Sunday, May 21st 2017. | Pemikiran

 

 

Sosok Dai Muda kali ini adalah tipikal santri yang senang dengan khidmah, baginya khidmah adalah pencapaian yang mengagumkan bagi santri. Barokah khidmah di pesantren, santri bernama lengkap Syafii Jauhari atau akrab dipanggil dengan Kang Syafii ini menjadi salah satu Dosen di IAIN Walisongo Fakultas Tarbiyah.

 

“Dlomir Na”

Seperti pemuda pada umumnya, Kang Syafii lahir di sebuah desa, tepatnya di Desa Menganti 09/03 Kecamatan Kedung yang berada di daerah Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Masuk pesantren Langitan tahun 2001 dan keluar (boyong) pada tahun 2006. Selama nyantri, Kang Syafii pernah menjadi anggota Perpustakaan Langitan dan Amnil Khos (Sie. Kedisiplinan) Ribath Al Maliki (salah satu asrama pondok).

Di pesantren Langitan, ia dipanggil dengan sebutan Mbah Na (diambil dari salah satu kosa kata bahasa Arab, dlomir na). Sesuai arti dlomir na yang mempunyai makna menyeluruh atau bersamaan (baca : kita), Kang Syafii atau Mbah Na dikenal para sahabatnya sebagai sosok teman yang ramah, supel dan kocak.

Saat ditanya apa tujuan pertama kali setelah keluar pesantren, Kang Syafii menegaskan, “Pertama tentunya dengan lillahi ta’ala dengan setulus hati mengamalkan ilmu-ilmu yang didapatkan dari pondok tentunya, dengan berpegang ideologi ahlu sunnah wal jamaah dimanapun berada.”

Kang Syafii menambahkan kenapa memilih dakwah?, “Sebenarnya dakwah bukan pilihan saya, akan tetapi pada prinsipnya hidup adalah realitas yang harus dihadapi dalam segala situasi dan kondisi, dengan dorongan khairunnas anfauum linnaas maka saya akhirnya untuk menapaki suaratan takdir yang telah ditulis di lauhul mahfudz.”

 

Mengajarkan Tafsir Jalalain

Pada tahun 2006 (seletah keluar pesantren) Kang Syafii masuk di perguruan tinggi IAIN Walisongo Semarang Fakultas Tarbiyah mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, di sana ia mendapatkan prestasi cukup lumayan, lulusan terbaik se jurusan. Kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya, yakni Program Pasca Sarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masuk 2010 kemudian lulus tahun 2012, ia bersyukur karena belum sampai wisuda, diterima sebagai staf pengajar di IAIN Walisongo Fakultas Tarbiyah (sekarang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan). Selama mengabdi menjadi Dosen, Kang Syafii mendapatkan amanah mata kuliah: Bahasa Arab I, II, dan III, Nahwu, Ulum al Hadist, Ulum al Qur’an, karya tulis ilmiah, juga evaluasi pembelajaran bahasa Arab.

Kang Syafii mengambil peran santri sebagai pelayan umat di wilayah dunia akademik, ia pernah diamanahi oleh Pondok Pesantren Salam di sekitar kampus untuk mengajarkan Tafsir Jalalin. Menurutnya, hal yang paling berkesan saat ditunjuk giliran menjadi imam salat tarawih dimana di belakangnya ada Prof. Dr. KH. Amin Syukur, MA (guru besar IAIN Walisongo) dan Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D (Kapus LITBANG Kemenag JAKARTA).

Kang Syafii juga pernah dipercaya mengisi khotbah salat Jum’at di masjid IAIN Walisongo. Ia bercerita kalau sebenarnya ngotot tidak mau, tapi tidak bisa menolak. Kang Syafii yakin, bahwa hal di atas sudah menjadi keniscayaan sekaligus kewajiban seorang lulusan pesantren sepertinya.

 

Wisudawan Terbaik

Ibarat sebuah perjalanan tentunya ada suka dan duka, ia menuturkan bahwa semua itu akan lebih mudah bila dikemas dengan chasing suka cita. Puncak perjalanan itu mungkin sempurna menjadi sebuah kebahagiaan saat di IAIN Walisongo Semarang, mendapatkan penghargaan wisudawan terbaik Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dengan predikat cumlaude.

Kang Syafii menegaskan lagi bahwa, pengaruh Pondok Pesantren Langitan selama dalam dunia akademik sangat luar biasa, dimana ajaran ilmu dalam pondok sangat luas sekali. Menurutnya lagi, Langitan sudah mendominasi dari serangkaian kebutuhan di masyarakat yang pernah dialaminya, berusaha semampu mungkin menuju globalisasi dan religius.

 

Tugas Santri Hanyalah Belajar dan Belajar

Segudang prestasi yang membanggakan tentunya lahir dari sosok berjiwa besar, diakhir wawancara, Kang Syafii berpesan, “Santri hendaknya belajar dan terus belajar dengan niat lillahi ta’ala. Yakinlah, bahwa buah jerih kalian hari ini, kelak akan nampak di permukaan yang kalian tidak pernah sangka dan duga.”

 

 

 

  1. R. Umar Faruq

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Perjalanan “Dlomir Na” (Cerita Santri yang menjadi Dosen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *