Peran ‘Lapar’ dalam Penyucian Hati

Saturday, December 12th 2015. | Tasawuf

 

aku lapar

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hasan, “Rasulullah Saw. bersabda: ‘Derajat yang paling agung disisi Allah pada hari kiamat adalah seberapa lama kalian dalam keadaan lapar serta tafakkur pada Allah Swt. Dan perbuatan yang paling dibenci Allah Swt di hari kiamat adalah ketika dalam kesehariannya hanya digunakan untuk memperbanyak makan dan minum.’”

Dari hadits di atas, bisa kita ambil kesimpulan tentang kemuliaan seseorang melawan nafsu perutnya. Dengan rasa lapar, maka hati manusia akan lunak. Syech Abu Sulaiman al-Daroni berkata, “Laparkanlah dirimu, karena itu akan melemahkan nafsu dan melunakkan hati sehingga memperkuat pemahaman tentang (ilmu) samawi”. Juga sabda Nabi Muhammad Saw: “Hidupkanlah hatimu dengan menyedikitkan tertawa dan kenyang. Dan sucikanlah hatimu dengan rasa lapar, maka hatimu akan bersih dan lunak.”

Kebanyakan dari kita mengukur sesuatu dengan seberapa besar ia dapat memuaskan nafsu. Padahal, di baliknya, tersimpan kerusakan yang begitu besar. Manusia seringkali mengukur makanan dari sisi kelezatan dan kekenyangan belaka. Jarang ada yang berpikir tentang kesucian dan halalnya makanan tersebut. Padahal, keduanya merupakan komponen dalam mengabdikan diri kepada Allah serta prasyarat penting diterimanya ibadah dan do’a kita kepadaNya.

 

Faidah Lapar

Lapar mempunyai banyak faidah, di antaranya:

  1. Mencerdaskan akal dan mempertajam mata hati. Rasa kenyang hanya akan menimbulkan kemalasan berpikir, melemahkan kepekaan terhadap urusan akhirat, menyebabkan otak manusia semakin tumpul, serta memperlambat pencerahan mata hati. Nabi Saw bersabda: “Cahaya hikmah adalah lapar. Kenyang hanya akan menjauhkan hamba dari Allah yang Maha Agung, mencintai dan menolong orang miskin akan menjadikan hamba lebih dekat dengan Allah Swt. Janganlah kalian kekenyangan karena itu hanya akan meredupkan cahaya hikmah dalam hatimu. Seseorang yang pada malam harinya dalam keadaan lapar (menyedikitkan makan), maka di malam itu pula dia dijaga bidadari di sampingnya sampai pagi menjelang.”
  2. Sebagai jembatan manusia dalam meraih kelezatan dzikir dan ber Begitu banyak hamba yang berdzikir sebatas pada bibir, tidak sampai meresap dalam hati, seakan-akan antara keduanya terdapat penghalang. Seseorang yang lunak hatinya akan mampu menyaksikan keagungan Allah. Ia akan merasakan keindahan dan sejuknya hati ketika berdzikir kepadaNya. Semaunya ini hanya bias dicapai dengan kosongnya perut. Abu Sulaiman al-Daroni berkata: “Aku menemukan manisnya ibadah ketika perut ini menempel dengan punggung”.
  3. Menumbuhkan rasa hina di hadapan Allah dan hilangnya kesenangan duniawi. Keadaan lapar dapat menjadikan hati tenang dan lebih khusyu’. Suatu ketika, Nabi ditawari dunia beserta gemerlapnya. Beliau menjawab: “Tidak! Aku lebih memilih lapar pada satu hari dan kenyang dihari selanjutnya, karena ketika lapar aku akan sabar dan ketika kenyang aku akan bersyukur.” Adapun dalam sebuah maqalah disebutkan: “Perut dan kemaluan adalah salah satu pintu dari pintu-pintu neraka. Yang mendasarinya adalah rasa Merasa hina dan rendah hati adalah salah satu pintu dari pintu-pintu Surga dan yang mendasarinya adalah keadaan lapar. Maka, seseorang yang menutup satu pintu saja dari pintu-pintu neraka, berarti dia telah membuka satu pintu dari pintu-pintu surga. Karena, keduanya saling berhadapan seperti arah barat dan timur. Oleh karena itu, ketika seseorang mendekati salah satunya, berarti dia telah menjauhi sisi yang lain.”
  4. Mengingat bencana dan siksa Allah kelak.
  5. Faidah yang paling agung yakni menghilangkan keinginan maksiat. Keinginan untuk melakukan maksiat berasal dari sahwat dan kekuatan. Adapun yang mendasari keduanya adalah makanan. Maka, mengurangi porsi makan merupakan cara melemahkan keduanya. Seseorang akan mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia dan akhirat ketika dia mampu mengendalikan nafsunya. Oleh sebab itu, celakalah orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.

Masih banyak lagi faidah lapar yang lain, di antaranya: menyedikitkan tidur, sehingga kita akan merasakan betapa ruginya seseorang yang tidak mampu memanfaatkan waktu dengan baik.. Juga memperkuat gairah beribadah kepada Allah. Menjadikan badan lebih sehat karena terkontrolnya ukuran makanan dalam perut. Termasuk juga dalam aktifitas sehari-hari yang selalu mendahulukan kepentingan umum. Yang tak kalah penting,l lapar memudahkan bersedekah pada fakir miskin ketika ada harta berlebih.

Jika selama ini, kita masih sering kekenyangan, maka ini merupakan cara instropeksi diri dalam rangka peningkatan kualitas ibadah kita kepada Allah. Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita patut bersyukur kepada Allah akan pertolonganNya. Namun sebaliknya, apabila hari ini lebih buruk, maka menangislah dalam do’a dan dekapanNya. Wallahu a’lam.

(Wildan Shofa)

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Peran ‘Lapar’ dalam Penyucian Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *