Pengibar Bendera Rasulullah di Ibu Kota

Saturday, July 20th 2013. | Jejak Utama, Tokoh

Habib Mundzir Al Musawa

HABIB MUNDZIR AL MUSAWA

Pengibar Bendera Rasulullah di Ibu Kota

Peringainya tenang menampakkan kalau beliau sosok yang berwibawa dan bersahaja. Beberapa kata hikmah yang terlontar dari pemimpin Majelis Rasulullah di Ibu Kota Jakarta ini begitu menyentuh, menggambarkan kedalaman ilmu dan kekuatan pengaruh beliau. Tentunya, Ulama yang jalur nasabnya sambung kepada Rasulullah Saw yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Al Musawa ini, mempunyai kharismatik yang luarbiasa membina dan membimbing ribuan jamaahnya di Ibu Kota menuju jalan Allah dan Rasulullah Saw.
Putra Seorang Jurnalis
Habib Mundzir dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa Barat pada hari, Jumat 23 Februari 1973 M yang bertepatan dengan 19 Muharam 1393 H. ayahanda beliau Habib Fuad Abdurahman Al Musawa pernah menetap dan lahir di Palembang, Sumatera selatan dan dibesarkan di Mekah Al Mukarramah, Habib Fuad kemudian mengambil gelar sarjana di Newyork University bidang Jurnalistik. Beliau kemudian kembali lagi ke Indonesia dan bergelut dalam dunia jurnalis sebagai wartawan luar negeri, di harian Berita Yudha dan Berita Buana. Habib Fuad menjadi wartawan luar negeri kurang lebih selama empat puluh tahun, beliau kemudia wafat pada tahun 1996 dan dimakamkan di Cipanas Cianjur Jawa Barat, di sinilah sosok Ulama luarbiasa penyejuk umat, Habib Mundzir Al Musawa dilahirkan.
Mencari Ilmu sampai ke Negara Seribu Wali Yaman
Dalam situs resminya www.majelisrasul.org dijelaskan bahwa, Habib Mundzir belajar agama kepada ayahandanya Habib Fuad Al Musawa, baru setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had As Saqafah asuhan Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan.
Kemudian beliau mengambil kursus bahasa Arab, di LPBA As Salafy Jakarta Timur, yang dilanjutkan perdalaman Ilmu Syariah Islamiyah lagi di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur. Puncaknya, Habib Mundzir meneruskan perantauan ilmunya ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman. Empat tahun di sana, di bawah bimbingan Habib Umar bin Salim bin Hafidz, beliau mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Alqur’an, Ilmu Hadits, Ilmu Sejarah, Ilmu Tauhid, Ilmu Tasawuf, Mahabbaturrasul Saw, Ilmu Dakwah, dan ilmu-ilmu syariah lainnya.
Dakwah dari rumah ke rumah
Setelah kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1998 Habib Mundzir memulai dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Pertama kali beliau berdakwah bukanlah berceramah naik mimbar satu ke mimbar yang lain, menyebarkan syiar Islam dari masjid ke masjid, tapi dakwah beliau mencerminkan keikhlasan dengan mengunjungi rumah-rumah penduduk, duduk dan bercengkerama dengan mereka, beliau sering memberi mereka jalan solusi dan jalan keluar dalam segala permasalahan.
Kemudian, atas permintaan masyarakatlah, Habib Mundzir mendirikan Majelis. Jumlah hadirin majelis awal beliau sekitar enam orang saja. Beliau tidak menyerah dan terus tidak henti-henti berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt. Metode bil hikmah itulah yang membuat pendengar merasa sejuk.
Dalam situsnya, Habib Mundzir berkata : “Ketika berdakwah, saya tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Namun, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak-gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy. Kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan umat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan. Inilah konsep dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing-masing individu bergelut dengan kesibukannya, tapi hati mereka bergabung dengan satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam.”
Majelis Rasulullah Saw Nasional
Perjuangan Habib Mundizr membesarkan Majelis Rasulullah Saw membuahkan hasil, perluasan jaringan Majelis ini hampir menasional. Bahkan sudah menembus luar negeri. Majelis ta’lim yang berpusat di Masjid Al Munawar Pancoran Jakarta Selatan yang diadakan setiap Senin Malam dan setiap malam Jumat di kediaman beliau, kini sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta Pusat yang beliau kunjungi satu bulan sekali. Jawa Barat meliputi, Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang. Jawa tengah : Slawi Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang. Jawa timur : Mojokerto, Malang, Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo. Bali : Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem. Nusa Tenggara Barat : Mataram, Ampenan. Luar Negeri : Singapura, Johor, Kuala Lumpur. Namun, Habib berkata bahwa, walaupun permintaan dari wilayah-wilayah untuk kehadiran beliau, kunjungan keluar Jakarta dicukupkan hanya setahun sekali, karena perintah Guru beliau.
Tidak hanya di majelis-majelis beliau berdakwah, Habib Mundzir juga menjadi Narasumber di beberapa stasion TV swasta, yaitu di Indosiar untuk acara Embun Pagi tayangan 27 menit, di ANTV untuk acara Mutiara Pagi tayangan 27 menit, RCTI, TPI, Trans TV dan La TV.
Dua Ulama yang dikagumi dalam Perjalanan dakwah 2000km meter
Dalam perjalanan ribuan kilometer dari Jakarta ke Lirboyo Kediri dan Langitan Tuban, Habibz Mundzir menemukan kesejukan luarbiasa ketika beliau mengundang secara langsung dua Ulama Khos Jawa Timur, KH. Idris Marzuki Pengasuh PP Lirboyo Kediri dan KH. Abdullah Faqih Pengasuh PP Langitan Tuban, pada 15 Februari 2011 M / 12 Rabiul Awal 1432 H dalam acara Maulidur Rasul di Monas Jakarta.
Ketika sampai di Lirboyo, Habib Mundzir berkata : “Sungguh akhlak Rasul Saw jelas terlihat dari Kiai sepuh ini, tidak selayaknya beliau yang sepuh turut keluar menyambut hamba yang masih sangat muda, namun hal itu merupakan cermin budi pekerti Rasul saw dari beliau yang memimpin ratusan ribu santri yang sudah alumni dan masih nyantri ini. Mbah Yai Idris bercerita bahwa, beliau mengutus 1.000 santri untuk keluar ke wilayah berdakwah, sampai ke sumatera dan lain lain untuk mengajari penduduk di wilayah, hukum hukum shalat, puasa, dan lain lain yang sebagian kaum muslimin dipelosok belum memahaminya, subhanallah..”
“Hamba pamitan, dengan perasaan bagaikan menemukan ayah, hamba mencium tangan beliau berkali kali, dan mohon pamit.” Kenang Habib.
Saat beliau sampai di Langitan, Habib bercerita, “Sambutan hangat dan desakan massa yang bersalaman tak bisa dihindari, satpol pp, kepolisian, bahkan staf angkatan darat dari Kodim pun kepayahan menertibkan desakan massa yang ingin bersalaman, hamba sudah kepayahan melewati desakan itu, tiba tiba semua desakan hilang, semua mundur dan menjauh, demikian pula para aparat, hamba yang masih terhuyung huyung terkena desakan massa menjadi kaget dan bertanya tanya, mereka semua menghindar mundur dan menghilang, hamba berdiri sendiri ditemani beberapa Kiai dan putra ayahanda Mbah Yai Abdullah Faqih. Kemudian putra beliau berkata : ‘Silahkan Habib, ayahanda yai menanti Habib. Hamba lihat sosok sederhana dengan wajah bercahaya dan penuh wibawa, dan sangat rendah hati berdiri dihadapan hamba, hamba mencium tangannya dan beliau memeluk hamba, dalam hati hamba baru bisa menjawab : “Oh, inilah yang membuat desakan massa kabur menghilang, kewibawaan ayahanda Kiai sepuh ini membuat mereka lari menghindar? subhanallah.”
“Yai Sepuh Ayahanda KH Abdullah Faqih sangat tawadhu (rendah hati), namun sangat karismatik dan berwibawa, tak satupun orang yang berdesakan berani menyalaminya, kecuali para Kiai sepuh. Selepas acara khoul, ketika Yai Faqih berdiri, para Kiai sepuh yang lain tak berani berdiri sebelum Yai Faqih meninggalkan pendopo acara, setelah itu barulah mereka sebagian mulai berdiri dan bubar, sungguh luar biasa tata krama adab penghormatan pada ulama sepuh yang hamba temukan di sana.” Tambah Habib.
“Hambapun bersimpuh mencium paha beliau dan pamitan, beliau tampak gemetar dan serba salah untuk berusaha menolak perbuatan penghormatan hamba, namun karena beliau sudah sepuh maka tak mampu menolak perbuatan hamba, lalu hamba mundur untuk undur diri dan pamitan.”
Ketika pulang kembali ke Jakarta, Habib bercerita, “Selepas shalat magrib dan isya dengan jamak, kami meluncur menuju pulang, hujan deras dan padat merayap terus menghambat kecepatan laju kendaraan, kami tiba di Jakarta pukul 3.00 dinihari Sabtu 15 Januari 2011, saya melirik hitungan kilometer di kendaraan yang sengaja di Nol kan saat meluncur dari Lirboyo, hitungan kilometer berakhir pada angka 889 km di batas kota jakarta, berkisar 2.000 km perjalanan jauh ini, untuk menjumpai dua sosok ulama besar yang shalih, luas ilmu, dan berakhlak luhur, lembut, dan cermin budi pekerti Rasul saw.”
Jalur Nasab mulia Habib Munzir
Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumiy bin Muhammad Annaqib Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azzahra Putri Rasul Saw. Semoga kita dikumpulkan bersama-sama orang-orang pilihan Allah. Amin.
Sumber :  munziralmusawa@ yahoo.com & www.majelisrasul.org

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Pengibar Bendera Rasulullah di Ibu Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *