Pembela Madzhab yang Kritis atas Pemikiran Barat

Friday, June 14th 2013. | Jejak Utama, Tokoh, Wawancara

Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan KH. Muhammad Ridlwan, Lc. MA, salah satu murid Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Bin Mula Ramadhan al-Buthi yang kini sedang menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah. Wawancara ini membicarakan seputar pribadi, pemikiran, dan karya-karyanya. Selamat membaca!

Berapa lamakah kiai di Syiria?
Tidak lama, cuma enam tahun.

syaikh muhammad sa'id ramadhan al buthi Pengajian kitab apa yang kiai ikuti bersama Syaikh Buthi?
Selama di sana, saya mengaji kitab tafsir ala pesantren dengan beliau setiap hari pada waktu subuh. Setiap hari Jumat habis Ashar mengaji Risalah al-Qusyairiyyah di masjid Mulla Ramadhan, malam selasa kitab Riyadus Shalihin dan setiap malam Jumat mengaji kitab Hikam al-Atha`iyyah di masjid Iman Damaskus (masjid yang mana beliau syahid di dalamnya).

Bagaimana Anda memandang Syaikh Buthi?
Beliau juga sosok ulama yang selalu mempraktekkan al-Qur`an dan Hadis. Syaikh Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syariah dan bahasa, tapi juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Dikenal alim da­lam ilmu filsafat dan akidah, mengua­sai ulum al-Qur’an dan ulu­mul hadis de­ngan cermat. Sewaktu-waktu ia melaku­kan kritik atas pemikiran filsafat materialisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, terutama terhadap tuding­an kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai go­longan Salafiyah dan Waha­biyah.

Apa yang menarik dari beliau?
Pertama, hal yang menarik yang sering saya saksikan adalah, beliau sering menangis saat salat. Beliau merupakan sosok ulama yang benar-benar takut kepada Allah dan hal itu dipraktekkan dalam muamalah kepada Allah dan sesama. Semua memuji kepribadian beliau.

Kedua, pribadi yang sangat istiqamah. Salah satu bukti keistiqamahannya beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban mengajar di universitas dan pengajiannya (halaqah-halaqah dars) kecuali udzur syar’i, seperti: undangan seminar ke luar negeri, pertemuan ulama, dan sakit. Selama 6 tahun saya di Syiria beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban mengajar.

Ketiga, dalam hal pemikiran, Dr. al-Buthi diang­gap sebagai tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela kon­sep-konsep madzhab yang empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Gha­zali, dan lain-lain. Sekaligus beliau selalu menjaga umat dari rongrongan pemi­kiran dan pengkafiran sebagian go­longan yang menganggap hanya mere­ka­lah yang benar dalam hal agama. Ber­bekal pengetahuannya yang amat men­dalam dan diakui berbagai pihak, ia me­re­dam berbagai permasalahan yang tim­bul dengan fatwa-fatwanya yang ber­ta­bur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya.

Keempat, memiliki integritas keilmuan yang tinggi. Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah. Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konfe­rensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga pene­li­tian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Pena­sihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

Bagaimana kiai mengenal karya-karya beliau?
Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya menca­pai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Be­berapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain, Al-Mar’ah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Latha’if at-Tasyri’ ar-Rabbaniyy, Al-Islam wa al-‘Ashr, Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu’, Barnamij Dirasah Qur’aniyyah, Syakhshiyyat Istawqafatni, Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-‘Atha’iyah, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah, Hadzihi Musy­ki­latuhum, Wa Hadzihi Musykilatuna, Kalimat fi Munasabat, Musyawarat Ijtima’iyyah min Hishad al-Internet, Ma’a an-Nas Musyawarat wa Fatawa, Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Qur’an, Hadza Ma Qultuhu Amama Ba’dh ar-Ru’asa’ wa al-Muluk, Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb, La Ya’tihi al-Bathil, Fiqh as-Sirah, Al-Hubb fi al-Qur’an wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan, Al-Islam Maladz Kull al-Muj­tama’at al-Insaniyyah, Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun, dan masih banyak lagi.

Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional de­ngan tema-tema yang diusungnya. Tu­lisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sum­ber-sumber rujukan, terutama dari sum­ber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang ti­dak bisa dipahami dengan mudah oleh ka­langan bukan pelajar, disebabkan un­sur Falsafah dan Manthiq, yang memang ke­ahliannya. Oleh karena itu, majelis dan ha­laqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana di­tuturkan pecinta Al-Buthi, di samping mam­pu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.

Bagaimanakah dakwah beliau?
Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan ja­maah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai hala­qah, ia juga aktif menulis di berbagai me­dia massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya ber­bagai pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh para pembaca. Ia juga menga­suh acara-acara dialog keislaman di be­berapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra’ Channel dan Ar-Risalah Channel.

Adakah kenangan manis bersama beliau?
Saya merasakan nikmat yang luar biasa mengaji bersama beliau. Beliau sering menangis saat menerangkan ayat, hadis-hadis atau maqalah (ungkapan) ulama dalam kitab tasawuf. Sehingga kita semua ikut terbenam dalam rasa (dzauq) beliau.

Ada yang lain?
Selama hampir 5 bulan saya selalu di belakang beliau saat berjalan dari rumahnya ke masjid setiap pukul 4, sebelum subuh. 5 bulan itu saya gunakan untuk menyertai beliau berjalan, sebab beliau berjalan kaki dari rumhnya ke masjid dan melewati rumah sewa saya. Saya tahu persis beliau setiap sebelum subuh itu selalu membaca istighfar saat berjalan. Dan saat pulang dari masjid ke rumahnya, beliau membaca tasbih. Ini adalah ajaran al-Qur`an supaya kita memperbanyak baca istighfar sebelum subuh dan membaca tasbis saat pagi dan sore.

Adakah karamah Syaikh Sa’id yang kiai ketahui?
Salah satu istiqamah beliau adalah membaca Hizb Nawawi. Saya pernah mendapat cerita langsung dari beliau, bahwa suatu ketika saat membaca Hizb Nawawi, ada banyak orang yang melihat ribuan burung keluar dari jendela rumahnya terbang ke langit. Burung-burung itu warna hijau, saat ditanyakan apa yang terjadi, beliau menjawab bahwa saat itu beliau dan keluarganya sedang membaca Hizb Nawawi. [Muhammad Sholeh dan Muhammad Hasyim]

KH. Muhammad Ridlwan, Lc. MA,

KH. Muhammad Ridlwan, Lc. MA, salah satu murid Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Bin Mula Ramadhan al-Buthi

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Pembela Madzhab yang Kritis atas Pemikiran Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *