Patriotisme Kaum Bersarung

Wednesday, May 2nd 2018. | Essay, Uncategorized

Pada tanggal 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” yang menabur benih inspirasi bagi para santri dan pemuda. Di sejumlah daerah, terutama di Surabaya, mereka berjuang mati-matian menegakkan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) pada 10 November 1945 yang merupakan salah satu tonggak dalam riwayat pergerakan dan kebangkitan bangsa Indonesia.

Pada hari itu, Arek-arek Suroboyo bersama-sama merenungi hakikat kebersamaan. Egosentrisme berbasis agama, suku, ras, dan golongan dihilangkan. Harmonisasi diciptakan demi mengatasi berbagai ragam perbedaan. Ikhtiar menegakkan sendi-sendi kehidupan komunal dilakukan dengan menomorduakan kehidupan individual yang serba personal. Betapa dengan semangat yang meluap dan hasrat yang tak bisa dibendung, anak-anak muda mendedikasikan diri sebagai garda terdepan penyelamat bangsa dari segala unsur kolonialisme.

Dikukuhkannya 10 November sebagai Hari Pahlawan mengandung reorientasi nilai kepahlawanan para pemuda dalam mengobarkan imajinasi tentang heroisme, nasionalisme, serta revolusi. Mereka menyingsingkan lengan baju, mengobarkan api perjuangan, bersiap gugur di medan pertempuran. Refleksi kemerdekaan diletakkan dalam bingkai keharmonisan dan solidaritas, sehingga kaum penjajah terusir dari bumi pertiwi.

Boleh dibilang, capaian kemerdekaan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran ulama dan santri. Tak boleh dimungkiri, gegap gempita perjuangan Arek-arek Suroboyo digenapi dengan pekikan, tetesan darah, dan gugurnya kaum bersarung. Betapa rasa cinta tanah air yang mendalam mampu menumbuhkan inspirasi, keberanian, dan daya juang. Mereka berupaya meraih kehidupan yang bebas demi menuju Indonesia yang beradab.

Dengan mengumandangkan lafadz takbir, Allahu Akbar, kaum bersarung bertempur di medan perang. Meski hanya menggenggam “bamboe roencing”, para ulama dan santri senantiasa memiliki semangat dan pantang mundur. Bagi mereka, menghembuskan nyawa terakhir saat berperang melawan penjajah merupakan mati yang indah. Canggihnya senjata imperialis Barat tak mungkin mampu memadamkan hasrat pengorbanan ulama dan santri yang hatinya dipenuhi dengan rasa cinta terhadap manisnya kemerdekaan. Mereka memegang teguh prinsip, “Lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah.”

Dalam buku Api Sejarah 2 (Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia), tercatat bahwa Perang Sabil pada 10 November 1945, Sabtoe Legi, 4 Dzulhijjah 1364, di Surabaya, menampailkan semangat rela berkorban dan keberanian luar biasa para ulama, santri, serta Tentara Keamanan Rakjat – TKR. Ketika itu, Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah. (hlm. 210)

Ahmad Mansur Suryanegara menulis bahwa dunia enggan membiarkan tentara sekutu Inggris dan NICA melancarkan pembantaian dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Protes keras antara lain digencarkan oleh Ali Jinnah dari Perserikatan Moeslimin India dan Jawaharlal Nehru dan India. Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang menunjukkan patriotisme ulama dan santri akhirnya dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan.

Karya ini genap mengantongi berbagai apresiasi, antara lain oleh Prof. Dr. Taufik Abdullah. Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia, Peneliti Utama, Ketua LIPI 2000-2002 tersebut mengatakan, “Saya ikut bangga atas terbitnya buku ilmiah Api Sejarah, yang demikian tebal ini. Bukanlah prestasi yang enteng saat sebuah buku ilmiah mampu sukses di pasaran. Api Sejarah 1 dan Api Sejarah 2 telah membuka tabir akan berbagai aspek sejarah yang masih gelap. Selamat dan terima kasih atas karya besar ini.”

 

 

 

Judul                                       : Api Sejarah 2 (Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Penulis  : Ahmad Mansur Suryanegara

Tebal                      : 598 halaman

Peresensi              : Multazam

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Patriotisme Kaum Bersarung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *