Pakar Khittah NU: KH. Abdul Muchit Muzadi

Saturday, April 2nd 2016. | Jejak Utama

IMG_0313 - Copy

Pakar Khittah NU

 

Dikenal sebagai ulama’ yang cerdas dan tawaddu’, pribadi yang tegas dan sederhana dalam kesehariannya, KH. Abdul Muchit Muzadi merupakan sesepuh Nahdliyyin yang pemikiran banyak pergerakan perubahan dalam NU, terutama dalam hubungan NU dengan kaum Nahdliyyin dan kenegaraan. Salah satunya perumusan NU untuk kembali ke Khittah.

Tanpa kenal lelah beliau memikirkan NU. Walau dalam keadaan sakit, beliau tetap berusaha hadir dalam setiap momen penting NU, meski usia semakin bertambah dan keadaan fisik yang terus menurun beliau tetap terlihat ceria dengan menampakkan wajah berseri ketika berhadapan dengan tokoh NU lainnya.

 

Lahir Sebagai Orang Tuban

Siapa sangka jika beliau ternyata lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 19 Jumadil Awal 1344 H./4 Desember 1925 M. Beliau adalah salah satu murid pendiri organisasi NU, Hadratu as-Syaikh KH. Hasyim Asyari saat nyantri di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau mengaku buka seorang anak dari kiai, namun keadaan revolusi pada waktu itu menuntut beliau untuk aktif melakukan pergerakan. Sejak di Pesantren Tebuireng Jombang, beliau aktif dalam berbagai organisasi, yang membawa pada sikap hidup lebih dewasa dan lebih memahami akan pentingnya berjuang. Akhirnyam ditahun 1941  beliau telah diangkat dalam organisasi NU.

Tergolong murid yang kurang menonjol dalam prestasi tidak menjadikan Mbah Muchit kendor pada waktu itu. Beliau sering bertanya dan meminta penjelasan kepada orang yang lebih faham dalam suatu masalah, sehingga beliau mendapatkan pengetahuan umum yang memadai. Pengetahuan inilah yang menjadi bekal perjalanan hidup beliau selanjutnya, terutama dalam kiprahnya memperjuangkan NU tanpa kenal lelah.

Sepulang dari Tebu Ireng beliau banyak menerapkan pengetahuan perjuangan itu kepada masyarakat. Salah satunya adalah dengan mendirikan Madrasah Salafiyah tahun 1946 di Tuban. Selanjutnya pada tahun 1952 Mbah Muchit mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI), dan mendirikan Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama’ pada tahun 1954. Begitu juga ketika pada tahun 1961 saat mendapatkan tugas sebagai pegawai di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta, disana beliau lebih banyak menemukan gagasan pembaharuan dan semakin mematangkan pemikirannya.

 

Pakar Khittah

Keterlibatan beliau dalam perumusan konsep kembalinya NU ke Khittah sangat besar. Mbah Muchit diangkat Kiai Achmad Siddiq (Rais Amm Syuriyah PBNU 1984-1989) sebagai sekretaris sekaligus penasihat pribadinya. Beliau menulis dan menyusun dengan rapi seluruh konsep dari Kiai Achmad dengan usaha keras selama dua bulan penuh. Buku rumusan yang fenomenal itupun tersusun dan menjadi Khittah Nahdliyyah dan hubungan NU dengan politik, serta penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal Negara, sehingga menjadikan kembalinya NU ke Khittah dan meninggalkan dunia politik praktis.

Perjalanan beliau bersama Kiai Achmad dalam pengembangan NU membutuhkan pemikiran kreatif dan tepat sasaran. Terutama dalam mengimbangi pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum PBNU kala itu. Banyak pemikiran Gus Dur yang nyeleneh dan kurang bisa dinalar akal sehat. Namun ketika difikirkan secara mendalam ternyata mempunyai arti yang sangat besar, Kiai Achmad dan dibantu pemikiran kreatif Mbah Muchit berkolaborasi dan saling mewarnai gagasan pembaharuan itu dengan solusi dan jalan keluar yang mudah difahami, hingga dalam kurun waktu yang relatif singkat NU bisa menjadi organisasi yang maju dan berperan besar baik dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan, termasuk kenegaraan.

 

Asli Warga Nahdliyin

Jika dikatakan, mungkin kata NU sudah mendarah daging didalam hati Mbah Muchit. Khidmah beliau dalam ormas terbesar sedunia ini sudah tidak perlu di ragukan. KH. A. Muchith Muzadi merupakan pejuang organisasi yang luar biasa. Sejak pindah dari Tuban ke sejumlah daerah, dia terus berjuang bersama NU. Di NU, Mbah Muchith pernah menjabat sebagai Sekretaris GP Ansor Jogjakarta (1961-1962), Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Sekretaris PCNU Jember (1968-1975). Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PCNU Jember (1976-1980), pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004), dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).

Dalam perjuangan itu beliau terkenel sebagai sosok yang tawadlu’ dan sederhana. Sering kali ketika beliau ditunjuk untuk menjadi pemimpin beliau menolak dan mengajukan aktivis lain yang lebih muda, dengan alasan yang mudalah yang harus lebih banyak berkiprah.

 

Pribadi yang Tawaddu’

Walaupun sudah menjadi orang besar di kalangan kaum Nahdliyyin, tidak menjadikan Mbah Muchit menjadi pribadi yang suka menyendiri, sikapnya yang low profile dalam bergaul menjadikan setiap orang yang bersama beliau tidak merasa rendah atau direndahkan. Ketika diundang oleh mahasiswa di Jember sebagai pemateri dalam seminar tentang NU dan sejarah di dalamnya, beliau selalu hadir jika tidak ada halangan yang besar. Bahkan ketika sakit, dalam penyampaian materipun terkesan tidak menggurui. Beliau beranggapan bahwa mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan, maka sayang ketika mereka tidak tahu perjuangan para pejuang dan pahlawan terdahulu yang dimotori oleh para Kiai NU.

Dalam suatu kesempatan di Pondok Pesantren Langitan beliau pernah menegaskan, dirinya dipanggil Kiai bukan karena beliau Kiai, namun karena adiknya yang menjadi Kiai. Yakni KH. Hasyim Muzadi pengasuh Pesantren Mahasiswa al Hikam Malang. “Mosok adiknya dipanggil Kiai kok kakaknya nggak, kan kasian” (Masak adiknya dipanggil kiai, sedang kakaknya nggak, kak kasihan) canda Mbah Muchit dengan senyuman khasnya.

 

Wafatnya sang Pakar Khittah

Ahad (6/9/15) dini hari, KH. Ahmad Muchit Muzadi berpulang ke rahmatullah. Beliau meninggal setelah sempat dirawat di RS. Persada Malang, beliau meninggal diusianya yang ke 90 tahun. Jenazahnya di shalatkan di Pesantren al Hikam Malang dan diimami langsung oleh adik beliau KH. Hasyim Muzadi. Kemudian jenazah Mbah Muchit diberangkatkan ke kediamannya di jl. Kalimantan Jember.

Sebelum meninggal Mbah Muchit mewasiatkan tiga hal kepada putra-putranya. Yakni ingin dimakamkan di samping makam istrinya, Hj. Siti Farida, meminta keluarga menghubungi KH Salahudin Wahid dan ketiga meminta kepada tiga orang kepercayaan beliau untuk memakmurkan Masjid Sunan Kalijaga.

[Hasyim/Ichsan/Wildan]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Pakar Khittah NU: KH. Abdul Muchit Muzadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *