Orang Padang, Kuat Beragama dan Rajin Bekerja

Friday, February 14th 2014. | Cakrawala, Uncategorized

 

Saiful Huda [penulis] di depan masjid tertua, Masjid Raya Ganting

Saiful Huda [penulis] di depan masjid tertua, Masjid Raya Ganting

 

Bangunan rumah yang atapnya berbentuk tanduk kerbau menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi para pendatang baru di kota Padang, Sumatera Barat. Tidak hanya rumah, gedung-gedung bertingkat pun tidak jarang menghiasinya dengan tanduk-tanduk runcing yang khas. Bangunan khas orang Minang ini disebut juga rumah Bagonjong atau yang lebih populer dinamakan rumah Gadang.

Dengan jarak tempuh yang singkat, kurang lebih 45 menit dari Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang mudah dikunjungi, sehingga kota yang menghadap langsung ke laut Samudra Indonesia ini menjadi pintu gerbang untuk menuju berbagai daerah di alam Minangkabau seperti Padang Pariaman, Solok, Padang Panjang, Bukittinggi, Painan, Payakumbuh dan sekitarnya. Dengan luas wilayah 694,96 KM2 dan panjang pantai 68,126 Km Padang merupakan kota yang cukup menarik karena memiliki daya pikat alam yang indah baik di daratan maupun perairan.

Padang, Pandai Berdagang

Sepanjang jalan di kota Padang pemandangan yang paling mencolok adalah menjamurnya toko-toko baik bersekala kecil atau besar. Hampir tidak ada areal yang terlewatkan oleh keberadaan toko. Menurut Nasir (40), begitu rapatnya toko yang ada di Kota Padang terkesan tidak seimbang dengan pembelinya yang sedikit, karena memang penduduk Padang seramai di pulau Jawa. “Seakan terlihat banyak orang yang jualan daripada yang membeli,” ujar pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pemandu wisata.

Banyaknya toko-toko yang menghiasi Kota Padang ini makin meneguhkan bahwa orang Padang itu memang gemar dan mempunyai bakat berdagang. Terjadinya gempa yang melanda kota ini empat tahun lalu terbukti tidak memadamkan semangat kerja orang Padang. Bahkan ada joke bahwa nama Padang itu sebenanarnya akronim dari “pandai berdagang”.

Bakat dan kepandaian berdagang orang-orang Padang juga dibuktikan dengan banyaknya orang-orang Padang yang melanglang buana ke daerah-daerah lainnya bahkan mancanegara dengan membuka warung atau rumah makan masakan Padang. Popularitas cita rasa masakan Padang itu merupakan buah atas semangat dan kegigihan orang-orang Padang dalam berusaha dan bekerja.

Museum Adityawarman, Rekam Budaya Minang

Museum Adityawarman

Museum Adityawarman

Salah satu tempat wisata di Kota Padang, Sumatera Barat yang pasti dikunjungi oleh para wisatawan adalah Museum Adityawarman yang lokasinya ada di jantung kota Padang, yaitu komplek lapangan tugu, Jl. Diponegoro No. 10. Museum yang diresmikan pada tahun 1977 oleh Mendikbud Prof. DR. Syarif Thayeb ini menyimpan lebih dari 6 ribu koleksi.

Koleksi Museum Adityawarman antara lain terdiri dari koleksi arkeologi, numismatika, heraldika, keramologika, etnografika, seni rupa, teknologika, biologika, giologika historika dan filologika. Yang menarik di antara ribuan koleksi museum yang lokasinya bersebelahan dengan Monumen Korban Gempa  itu adalah benda-benda budaya Minang yang menjelaskan mengenai sistem kekerabatan yang menjadi ciri khas budaya Minang. Menurut Beni [55] keberadaan museum Adityawarman ini diharapkan dapat merekam jejak budaya Minang sehingga dapat ditiru oleh generasi Minang sekarang dan bahkan oleh orang-orang dari daerah lain.

Islam Mengakar Sejak Lama

Harus diakui bahwa di Kota Padang atau umumnya di daerah Minangkabau agama Islam telah menancap cukup kuat. Hal ini sangat beralasan karena memang menurut sejarahnya, Islam masuk di daerah ini sudah sejak lama sekali yaitu abad VIII atau menurut versi lain, abad XVI. Salah satu bukti keberadaan Islam yang telah ada sejak lama di Padang ini adalah adanya Masjid Raya Ganting yang lokasinya terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang. Masjid ini menurut catatan sejarah sudah berdiri sejak abad XVIII silam.

Mengakarnya Islam di Padang ini tidak hanya terlihat di tengah-tengah kehidupan masyarakat secara umum, tapi juga kental sekali tampak dari kebijakan pemerintah kota. Program-program keagamaan secara berkesinambungan selalu dipelopori oleh Pemkot Padang, misalnya Program Pengelolaan Zakat, Gerakan Membaca Al Quran di Sekolah Dasar, Gerakan Maghrib Mengaji, Gerakan Berbusana Muslim, Program Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Ummat dan Perang Terhadap Narkoba, Program Subuh Mubarokah, Program Gemar Berinfaq dan Sadakah, Program Kembali ke Surau, Program Beras Segenggam, Program Pengajian Ramadlan dan lain sebagainya.

Monumen Korban Gemba 2009

Monumen Korban Gemba 2009

Menurut Sekretaris Pemkot Padang, Safril Basyir, Pemkot tidak henti-hentinya terus berupaya menggalakkan program-program keagamaan di tengah-tengah masyarakat, sesuai dengan visi Pemkot Padang yang ingin menjadikan kota Padang sebagai kota relegi. Bahkan khusus di kalangan Pegawai Negeri Sipil [PNS] juga diberlakukan program-program serupa. “Bapak Walikota telah lama mengkampanyekan puasa Senin Kamis di kalangan PNS, juga setiap dua minggu diadakan shalat jama’ah Shubuh bagi para PNS dan secara bergiliran Kepala Dinas harus mau menjadi imam dan memberi kultum,” ujarnya kepada Majalah Langitan di Kantor Pemkot Padang.

Atas jerih payah dan kepeloporan Pemkot Padang dalam pencanangan program-program keagamaan ini, pernah salah satunya yakni lomba hafalan Juz Amma dan Asma’ul Husna antar SD dan MI se-Kota Padang dicatat oleh rekor MURI sebagai yang terbesar. Selain itu, baru-baru ini Pemkot Padang juga memperoleh penghargaan berupa PIN dari Menteri Agama Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si sebagai kota terbaik melaksanakan kegiatan Gerakan Maghrib Mengaji.

 

 

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Orang Padang, Kuat Beragama dan Rajin Bekerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *