NU

Sunday, August 28th 2016. | Cerpen

Nu

 

Masih seperti sore-sore sebelumnya. Mbah Dahlan bersama beberapa jama’ah setia langgar Al Ikhlas selalu menyempatkan diri untuk jagongan selepas Ashar membincang banyak hal, mulai dari padi-padi mereka yang menguning sampai kantong kas Negara yang semakin kering. Ada saja yang Mbah Dahlan jadikan topik, dan gayung bersambut, jama’ah yang lain juga seperti tidak mau ketinggalan bahasan, siap sedia mendengar dengan seksama setiap lontaran kata dari mulut kempong Mbah Dahlan.

“Sini, Le…”

Seru Mbah Dahlan memanggilku, meminta saya untuk duduk dan bergabung dengan yang lain. Dengan senyumannya yang merekah, Mbah Dahlan memamerkan beberapa sisa giginya dan mulai memperkenalkanku pada jama’ah yang lain.

“Ini cucuku, dia ini yang nanti  tak arep-arep bakal ngurip-ngurip NU,”

Mbah ini ada-ada saja, orang-orang juga sudah tahu kalau saya ini cucunya, wong dari kecil saya juga tinggal di sini.

Sore ini sepertinya Mbah Dahlan akan menyoal tentang NU, dia selalu bersemangat menceritakan hal ini. Sejak kecil, saya dan cucu-cucu Mbah Dahlan yang lain tidak pernah bosan dengan cerita-cerita Mbah tentang NU, tentang Mbah Hasyim si empunya NU, juga kiprah kiai-kiai lain dalam memperjuangkan NU.

Sebenarnya saya dan cucu-cucu Mbah yang lain tidak pernah memanggil Mbah Dahlan dengan nama aslinya itu, kami lebih akrab dengan nama Mbah Pong alias kempong. Ya, itu karena Mbah hanya memiliki beberapa gigi saja, ompong.

Mbah Pong; Mbah Dahlan dikenal sangat NU, dia paham betul sejarahnya, sepertinya wiridan Mbah itu ya NU…NU…NU. Warna hijau adalah favouritnya, karena warna itu identik dengan NU, kata Mbah. Yang saya tahu setiap Mbah membeli sesuatu, entah sarung, pakaian, surban atau apa saja selalu bernuansa hijau, warna NU katanya.

***

“Kalau lihat berita di tivi, saya rasanya kudu nangis,

Mbah menghentikan ceritanya, menatap satu per satu wajah jama’ah jagongannya.

“Bagaimana tidak, kayak-kayak NU itu jelek…..gitu di berita, padahal saya yakin NU yang saya kenal sejak dulu tidak seperti itu.”

Semua masih seksama ingin mendengar lanjutan keterangan Mbah Dahlan.

“Dulu NU itu ya…satu, partai NU itu ya cuma satu, tidak ada dua, tiga. Kalau sekarang ini kan tidak, NU itu sudah seperti perawan ayu, rono-rene podo ngrebutno,

Para jama’ah semakin antusias, dengan tanda tanya, makna apa di balik kiasan Mbah Dahlan tentang NU.

“Orang-orang NU itu kan buanyak sekali di Indonesia, malah paling banyak katanya, akhirnya yang punya kepentingan pada berebut suara NU, ingin dapat dukungan NU.”

Pembicaraan Mbah sudah mulai masuk ranah politik, membaca kondisi Indonesia.

“Kasihan sekali NU, dia tidak berdosa malah jadi imbasnya. Sepertinya NU sudah tidak perawan lagi.”

Mbah ini bahasanya bisa saja, padahal Mbah ini hanya tamatan sekolah rakyat, mondok juga tidak pernah, hanya ngaji kuping dan ikut kemana saja gurunya pergi.

“Lalu apa, Mbah? Kenapa NU bisa jadi begini?”

Mendengar pertanyaan saya itu, Mbah hanya mesem, senyum.

“Nah, ini cucuku yang bakal nguripi NU.”

Tidak menjawab, Mbah malah melontarkan kalimat itu lagi sambil menepuk-nepuk pundakku yang duduk di sampingnya.

“NU ini ada di tanganmu, Le, makanya mondokmu kudu rampung.

Ah, Mbah ini sepertinya sengaja menyindir saya, yang beberapa waktu lalu sempat menyampaikan keinginan untuk boyong.

Aku iling salah siji pesene Mbah Hasyim; bahwa kita ini harus ngurip-nguripi NU, ojo malah numpang urip songko NU.

Mbah tertunduk sebentar, sepertinya Mbah meneteskan air mata, namun segera disekanya.

“Mbah-mbah kita itu NU, Bapak kita, Ibu kita, saudara-saudara kita, semuanya NU, maka ayo, kita harus menjaga NU, yo…Le, iki amanah kanggo awakmu.

Sore itu cerita Mbah tentang NU benar-benar berbeda, bukan dongeng kisah seperti biasanya, tapi Mbah mencoba menanamkan kembali NU pada saya, cucunya, Mbah menaruh harapan besar terhadap NU dan saya.

Tapi kadang saya ini merasa geli sendiri kalau memikirkan ini, Mbah ini orang yang sangat NU, mungkin darahnya juga ada tulisannya NU, tapi nama Mbah itu lho, kok bisa sama persis dengan pendiri Muhammadiyah. Ah, selalu menggelitik.

Jagongan sore itu pun selesai tanpa terasa, Matahari sudah berada di kaki Langit, Mbah Dahlan pun memintaku untuk mengumandangkan adzan Maghrib.

21 Syawal 1436 H.

 

*Adi Ahlu Dzikri

*Santri Langitan dari kaki gunung Pegat

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , ,

Related For NU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *