Musuh Dalam Selimut

Saturday, March 24th 2018. | Uncategorized

 

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja, sedangkan Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, dan rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Taubah: 16)

Ayat di atas menerangkan bahwa seorang mukallaf harus melewati dua hal sebagai ujian agar bisa lolos menjadi seorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

  1. Allah mengetahui orang-orang yang berjihad dari golongan kalian.
  2. Tidak mengambil teman setia selain Allah Swt, rasul-Nya, dan mukminin

Disebutkannya syarat yang kedua karena terkadang orang yang berjihad tidak sepenuhnya ikhlas. Terkadang dijumpai orang munafik, yang batinnya tidak sesuai dengan lahirnya. Dialah orang yang menjadikan kekasih dari selain Allah Swt.

Allah menjelaskan bahwa seorang yang berjihad belum bisa sepenuhnya mendapat keutamaan kecuali dia bisa ikhlas, terlepas dari sifat munafik, riya, dan berharap kepada orang-orang kafir. Karena sebenarnya, tujuan perang bukan hanya sekadar berperang, melainkan karena adanya rasa patuh dan tunduk pada perintah dan hukum Allah Swt. agar tampak dari mereka sebuah pengabdian dengan simbolis berani mengorbankan diri dan merelakan harta untuk mendapatkan ridla Allah Swt. Jihad seperti itulah yang dijamin akan mendapat pahala yang sangat besar.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَكَفَّلَ اللَّهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ مِنْ بَيْتِهِ إِلَّا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ وَتَصْدِيقُ كَلِمَاتِهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ

Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda,Allah menanggung orang yang berjihad di jalah-Nya, yang tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk jihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimat-kalimat-Nya, dengan memasukkannya ke surga atau kembali kerumahnya yang dia keluar darinya bersama pahala atau ghanimah yang ia dapatkan.

Dari kewajiban jihad itulah akan tampak orang-orang munafik dan tidak, dan orang-orang yang membela kepada mukminin dan orang-orang yang memusuhi mereka.

Ayat di atas menyadarkan seorang dai bahwa bisa saja dia mendapat ujian berupa walijah, yaitu teman karib atau pembantu yang jahat dari kalangan orang-orang munafik dan orang kafir. Islam tidak mungkin kalah dengan musuh yang terang-terangan menyerang, namun Islam bisa saja runtuh dengan orang-orang munafik semacam mereka. Mereka adalah musuh dalam selimut, yang bersiap kapan saja menjatuhkan seorang dai dengan berbagai siasatnya, karena tahu seluk-beluk semua kelemahan seorang dai.

Pada masa Nabi Isa As kita mengenal Yahudza Al Askhoriyuthi, salah satu sahabat nabi Isa As yang disalib karena berkhianat terhadap beliau. Bahkan dalam kitab Injil disebutkan dia termasuk salah satu dari Al-Hawariyyin, yakni orang-orang yang membela nabi Isa As.

Yahudza termasuk orang yang sesat dan munafik. Beberapa tahun menyamar menjadi murid Isa As, namun diam-diam dia berkhianat. Dia memberi ruang orang-orang Yahudi untuk membunuh Isa As. Akan tetapi Allah membalas siasat buruknya dengan mengubah wajahnya sama persis dengan nabi Isa. Orang-orang yahudi mengira Yahudza adalah Isa as. Sehingga orang Yahudi bergegas menyeretnya, dan menyalibnya.

Pada masa Nabi Muhammad Saw, ada Abdullah bin Ubay yang berkhianat pada saat perang uhud. Dia juga yang menjadi ikut andil dalam tersebarnya kebohongan fitnah Siti Aisyah yang terkenal dengan hadis al-ifki (berita dusta).

Pada zaman khalifah Utsman bin Affan kita mengenal Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura masuk Islam. Sehingga dia bisa memprovokasi umat untuk memberontak kepada sayyiidina Utsman Ra.

 

احترِسوا من الناس بسوء الظن

Jagalah diri kalian semua dari keburukan manusia dengan berburuk sangka.

Manusia diperintah agar tidak membuka ruang kepada orang lain untuk melakukan kejelekan dengan cara berburuk sangka. Sebagaimana orang yang pergi keluar rumah, kemudian mengunci rumahnya karena menyangka rumahnya tidak aman. Demikian juga, seorang dai harus mengantisipasi setiap taktik dan strategi yang dilakukan orang-orang munafik dan musyrik. Jangan biarkan mereka melancarkan siasatnya, memfitnah dirinya sehingga terhalang dari aktivitas dakwahnya.

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Musuh Dalam Selimut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *