Mujahadah Memupuk Jiwa Kedermawanan

Monday, December 22nd 2014. | Hadist

downloadIni bisa dilakukan dengan mendermakan harta dengan senang hati tanpa keraguan. Tentu saja mendermakannya pada jalur yang benar dan bisa memberi andil bagi munculnya kebaikan-kebaikan yang merupakan syarat diraihnya pahala yang sempurna. Sungguh, Allah Swt telah memberikan aneka warna janji pahala berinfak yang semestinya mendorong manusia beriman untuk bersegera melaksanakannya. Di antara janji-janji yang dimaksudkan ialah:

  1. Mendapat tambahan, karena berinfak merupakan suatu bentuk rasa bersyukur dan Allah telah berfirman yang artinya, “Jika kalian bersyukur niscaya Aku pasti memberi tambahan.” (QS. Ibrahim: 14)
  2. Doa malaikat, yakni Allah menugaskan malaikat untuk berdoa agar orang yang berinfak mendapat ganti. Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah Saw: “Tiada hari saat para hamba memasuki waktu pagi kecuali dua malaikat turun dan salah satunya berdoa,

اللّهم أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَ أَعْطِ مٌمْسِكًا تَلَفًا

Ya Alloh, berikanlah ganti orang yang berinfak dan berikanlah kerusakan kepada orang yang tidak mau berinfak. (H.R. Muttafaq Alaih)

  1. Penjagaan dari bala’, seperti diriwayatkan Ali r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bersegeralah bersedekah, karena bala’ tidak akan bisa melewatinya. (H.R. Rozin)
  2. Kesehatan badan, seperti dalam hadis yang artinya, “Pagarilah harta benda kalian dengan zakat dan obatilah orang sakit kalian dengan sedekah!”

 

Teladan yang baik dan dikap sempurna dalam bab sedekah ini tiada lain adalah Rasulullah Saw. Jabir r.a. mengatakan, “Setiap kali dimintai sesuatu maka Rasulullah tidak pernah mengatakan tidak.” Anas bin Malik r.a. menyebutkan bahwa ada seorang lelaki meminta kambing kepada Rasulullah Saw dan beliau memberinya kambing (yang memenuhi) antara dua gunung. Lelaki itu kemudian kembali kepada kaumnya dan mengatakan, “Wahai kalian, masuklah Islam, sebab sungguh Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak khawatir akan kemiskinan.” Tercatat tidak hanya satu orang yang pernah mendapat pemberian seratus ekor unta dari Rasulullah. Bahkan, beliau pernah memberi Shafwan bin Umayyah tiga ratus ekor unta.

Kedermawanan dan kegemaran untuk berinfak sudah menjadi karakter Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sejak sebelum diangkat menjadi nabi dan utusan. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Beliau, “Sesungguhnya Anda telah menanggung beban orang yang kesusahan dan memberikan pekerjaan orang-orang miskin.” Beliau juga mengembalikan enam ribu tawanan Hawazin secara cuma-cuma. Beliau pernah memberikan kepada Abbas, pamannya, banyak emas sehingga Abbas tidak kuat mengangkatnya. Menerima pemberian hadiah sebesar 90.000 dirham. Beliau segera menuang uang tersebut di tikar dan kemudian membagi-bagikannya sampai habis, dan tak ada seorangpun peminta yang beliau tolak. Seorang pernah datang meminta dan kebetulan beliau tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan, maka beliau bersabda kepada orang tersebut, “Aku tak memiliki apa-apa lagi, tetapi silakan kamu membeli sesuatu sesukamu dan aku yang akan membayarnya nanti bila telah datang sesuatu rejeki kepadaku.” Melihat ini Umar berkata, “Allah tidak memaksa engkau di luar batas kemampuanmu.” Mendengar ini kelihatan ada rasa tidak suka di wajah beliau hingga seorang Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah berinfak dan jangan khawatir  Tuhan Penguasa Arasy mengurangi rejekimu (iqlal).” Ungkapan ini membuat wajah beliau berseri oleh senyuman seraya bersabda, “Seperti inilah aku diperintahkan.” Abu Hurairah juga meriwayatkan sabda beliau:

Andai aku memiliki emas sebesar Uhud maka sungguh membahagiakanku bila setelah lewat tiga hari di sisiku sudah tidak ada apa-apa lagi, kecuali sesuatu yang aku siapkan untuk (melewati) hutang. (H.R. Bukhari)

Uqbah bin Harits berkata, “Aku salat Ashar di belakang Nabi Saw di Madinah. Setelah salam Beliau bergegas bangkit dan melangkahi pundak orang-orang menuju ke hujrah (pondokan) sebagian istri beliau. Orang-orang kaget dan (tak lama) beliau keluar dan menyaksikan wajah-wajah mereka yang masih keheranan. Beliau lalu bersabda, “Aku lupa sedikit potongan emas yang ditempat kami, dan aku tidak ingin sedikit ini menahanku (kelak) yang karena itulah aku menyuruh untuk membagikannya.”

Jejak langkah tersebut juga diikuti oleh para sahabat yang mulia. Perilaku mereka menyatakan kesungguhan dan keseriusan dalam berdakwah, prinsip yang kuat, metode yang realistis dan bisa dipraktikkan selama ada tekad dan kemauan kuat. Bukti nyata dari ini adalah kisah persaudaraan (mu’akhah) antara Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf misalnya, ketika datang di Madinah maka oleh Rasulullah Saw ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari. Ketika itu Sa’ad berkata, “Hai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak harta. Kamu bisa memiliki separuhnya. Aku juga memiliki dua orang istri, maka lihatlah mana yang Anda senangi dan aku akan menceraikannya.” Menanggapi tawaran in, Abdurrahman berkata, “Semoga Alloh memberkahi keluarga dan harta benda Anda. (Cukup) tunjukkan saya di mana pasar!” Setelah ditunjukkan Abdurrahman kemudian membeli dan menjual sesuatu sehingga mendapat laba.” (H.R. Ahmad). Para sahabat Anshar juga pernah berkata, “Wahai Rasulullah, bagilah di antara kami dan saudara kami yang kurus!” (H.R. Bukhari)

Para sahabat Muhajirin mengakui jasa besar ini sehingga mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami tiada melihat seperti kaum yang kami datang kepada mereka yang paling baik memberikan kasih sayang dalam sesuatu yang sedikit dan paling bagus dalam mendermakan sesuatu yang banyak. Mereka mencukupi kebutuhan kami dan menggabungkan kami dalam kesenangan.” (H.R. Ahmad). Sikap-sikap para sahabat terkait hal ini tidak bisa dipungkri dan itu semua ditimba dari sang panutan terbaik, Rasulullah Saw.

Penyokong terkuat dakwah pada masa kini adalah pendermaan harta benda dengan sikap tulus, bersegera dan pemenuhan secara sempurna. Kita menyaksikan musuh-musuh Islam pada masa membelanjakan harta dalam jumlah luar biasa banyak serta potensi kekuatan yang dimiliki untuk menyebarluaskan pemikiran mereka, mendorong dan berusaha menggaet simpati massa, merusak akidah kaum muslimin, menggoyahkan iman, meruntuhkan moral, menyelipkan keragu-raguan dan berusaha mencabut akar keyakinan mereka kepada para nabi dan para imam terkait hadis dan al-Qur’an. Situasi ini diperparah dengan keterlambatan atau sikap acuh kaum muslimin untuk ambil bagian dalam usaha-usaha kebaikan yang bisa memberi pengaruh dalam menjaga ketuhan bangunan Islam serta melindungi sumber-sumber kebaikan, mendorong kaum muslimin agar menjadi pribadi mandiri dan mencegah mereka dari meminta-minta.

Comments

comments

tags:

Related For Mujahadah Memupuk Jiwa Kedermawanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *