Model dan Problematika Nikah

Wednesday, June 19th 2013. | Fiqih, Kajian

problematika nikahMenikah –bagi kebanyakan orang- adalah awal kebahagiaan yang berselimut rasa cinta dan kasih sayang. Tapi mengapa “banyak” orang yang justru memutus ikatan tali pernikahan tersebut setelah berumur sekian lama? Tentunya pertanyaan ini memiliki banyak perspektif jawaban. Tapi yang jelas, kebanyakan kasus yang teralami oleh sebagian orang (sebut saja kawin cerai, kawin lagi tanpa ridha suami/istri) dikarenakan mereka tidak memahami arti (sebenarnya) dari sebuah pernikahan. Bahwa menikah bukan sekedar perjalanan hidup untuk menghasilkan keturunan ataupun proses rotasi dari sebuah kehidupan duniawi, namun lebih dari itu pernikahan memiliki makna yang dalam. Begitupun dalam pandangan Islam, pernikahan memiliki hikmah bagi jalan seseorang untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Rabnya (QS. An-Nuur: 32).

Lain dari itu pernikahan merupakan sebuah usaha penjagaan diri, bukan menuruti hati apalagi nafsu birahi. Inilah yang terkadang membuat banyak orang salah memahami tujuan dari pernikahan sehingga –terkadang- untuk mencapainya memperbolehkan segala cara tanpa menghiraukan agama. Pada edisi kali ini, kami akan mengupas beberapa term/model pernikahan yang sering menimbulkan pro dan kontra berbagai kalangan (ulama, rakyat maupun pemerintah) berikut hukum-hukumnya dalam kajian fiqh.

NIKAH SIIRRI
Perbedaan sudut pandang menyebabkan adanya khilaf antar beberapa kalangan dalam pengartian nikah sirri. Mayoritas orang Indonesia mengatakan kalau nikah sirri ialah pernikahan yang tidak tercatat dengan surat resmi nikah yang dikeluarkan oleh pihak KUA, meskipun dalam kenyataannya pernikahan tersebut terbingkai dalam syariat (memenuhi syarat-syarat nikah seperti adanya wali dan dua saksi).

Adapun hukum pernikahan seperti sebagaimana di atas adalah sah. Akan tetapi masih terdapat keharaman karena ada aturan pemerintah yang mengharuskan pencatatan resmi (lewat KUA). Kebijakan pemerintah yang seperti ini semata-mata untuk kemaslahatan di masa mendatang. Karena tidak menutup kemungkinan dari kedua mempelai, di suatu saat ada yang mengingkari hubungan yang terjalin atau para lelaki hidung belang akan mudah berganti-ganti pasangan ketika tidak ada bukti yang mengikatnya. Sehingga wajib bagi seluruh warga Indonesia uintuk mencatat nikahnya lewat KUA.

Adapun arti nikah sirri dalam kajian fiqh (yang berlaku di Arab), ialah perikahan yang tidak dihadiri oleh orang yang berstatus sebagai saksi. Madzhab Maliki mendeskripsikan bahwa nikah sirri ialah pernikahan yang dirahasiakan dari mempelai wanita, masyarakat, bahkan keluarganya sekalipun. Oleh karenanya, nikah sirri yang model kedua ini, hukumnya tidak sah dan termasuk dalam sebuah kebatilan. Para ulama sepakat bahwa nikah sirri ini tidak diperbolehkan, karena khilaf yang ada dalam hal saksi itu sabatas dalam pemahaman, apakah dia sebagai syarat nikah atau syarat ketika akan bersenggama. Namun konklusi dari keduanya tetap mengatakan haramnya nikah sirri sebagaimana di atas. (Lihat Fiqh Islami [7]: 71, Bughyah al-Mustarsyidin: 202, Bidayat al-Mujtahid [2]: 13).

TAJDID NIKAH (PEMBAHARUAN NIKAH)
Pelik masalah dalam rumah tangga terkadang menyebabkan banyak akibat seperti penghinaan, pemukulan, pengusiran bahkan sampai pada perceraian. Dari sekian banyaknya permasalahan, ada sebagian orang yang melakukan pembaharuan nikah dengan tujuan utuk berhati-hati atau lain sebagainya. Mengenai hukum pembaharuan nikah memang terjadi perbedaan pendapat, namun pendapat yang lebih sahih mengatakan tajdid nikah itu tidak merusak akad nikah, dan bukan sebagai pengakuan rusaknya akad yang pertama. Sehingga tidak mengurangi jumlah hitungan talak, karena kebanyakan dari tujuan tajdid adalah sebagai bentuk pengukuan atau kehati-hatian. Namun sebagian Syafi’iyah atau yang lebih popular dengan versi Imam Ardalbily mengatakan tajdid nikah itu sah (untuk yang kedua) dan membatalkan akad yang pertama, karena akad nikah yang kedua itu dianggap sebagai idrar bi al-furqah (pengakuan perceraian).

Melihat perbedaan pendapat di atas, maka sebaiknya pembaharuan nikah tidak dilakukan karena menarik diri dari persengketaan ulama adalah sunah. (Lihat Tsamrat at-Raudlah: 195, Qurrat al-‘Ain: 164, Syarh al-Syihab li Ibni Hajar [7]: 490, Al-Anwar [2]: 88, Fath al-Bari [13]: 199, Al-Jamal ala Minhaj [4]: 245).

TAK BETAH DITINGGAL, ISTRI NIKAH LAGI
Demi kebutuhan ekonomi, tak jarang suami rela meninggalkan istri ke luar negeri. Ironisnya, terkadang istri ditinggal pergi begitu saja, tanpa ada kabar yang jelas dari suami, sehingga tak jarang istri yang merasa tak betah dan memilih kawin lagi dengan pria lain untuk memenuhi kebutuhan biologis.

Syariat memberi beberapa aturan tentang hal ini, menurut qaul qadim Imam Syafi’i (pendapat ketika masih di Mesir), sang istri boleh kawin lagi jika telah menanti tidak adanya kabar selama empat tahun, kemudian ditambah iddahnya wafat yaitu 130 hari (empat bulan sepuluh hari), dan penghitungan 4 tahun dimulai dari ketika hakim memerintahkan untuk tambbus (penantian), ini menurut pendapat Abu Ishaq. Sebagian Ashab Syafi’i mengatakan empat tahun itu di mulai sejak terputusnya kabar. Sedangkan menurut qaul jadid (pendapat ketika di Baghdad), sang istri tidak boleh fasakh atau menikah lagi sebelum adanya kabar sang suami telah meninggal dunia. Sebab dalam hal waris-mewaris, suami yang seperti ini belum bisa dibagi warisannya sebelum ada kepastian dia sudah meninggal. (Lihat Majmu’ Syarh Muhaddzab [18]: 155).

NIKAH VIA TELEPON
Kecanggihan alat teknologi menyuguhkan sejuta ekspresi. Akhir-akhir ini, ada wacana tentang nikah lewat jaringan 3G telepon. Hal ini dirasa cukup karena gambar wajah pasangan sudah terlihat. Fiqh formal menyebutkan kalau pernikahan itu disyaratkan harus dihadiri (dalam satu majelis) oleh wali mempelai wanita atau yang mewakilinya, calon suami, dan dua orang saksi. Sehingga akad nikah lewat telepon (meskipun dapat melihat) itu tidak dibenarkan karena empat orang tersebut tidak dalam satu majelis akad. Termasuk hal yang disyaratkan lagi ialah:
a. Saksi punya pendengaran dan penglihatan yang baik
b. Tahu persisi ucapan yang lkeluar dari wali perempuan dan pengantin pria saat ijab qobul
c. Akurat dalam penyaksian,
Sehingga disebut tidak sah pula pernikahan yang ijab qabulnya di tengah malam yang gelap-gulita. (Lihat Majmu’ [20]: 225, Hamisy al-Bujairimy ala al-Khatib [3]: 396).

NIKAH DENGAN JIN
Kecerdasan manusi tidak hanya dalam hal tekhnologi tapi terkadang dalam hal spiritualitas juga. Seseorang yang diberi kemampuan bisa melihat atau berinteraksi dengan jin menyebabkan ia mempunyai niatan untuk menikahinya.

Terjadi khilaf dalam menghukumi pernikahan dengan jin. Menurut Imam Ibnu Hajar tidak diperboplehkan karena tabiat jin sangat jelek, sehingga tidak menutup kemungkinan dia berkhianat di kemudian hari. Namun Imam Ramli mengatakan boleh, bahkan untuk bersetubuh jika dia bisa mengetahui dengan yakin (prasangka kuat) bahwa jin itu adalah istrinya. Menurut pendapat yang memperbolehkan, maka juga ditetapkan hukum-hukum nikah sebagaimana dengan manusia, seperti wajib mandi apabila selesai jima’, batal wudhunya dengan bersentuhan. (Lihat Bujairimy ala Khatib [10]: 218, Fatawi Hadisiah li Ibni Hajar al-Haitami [1]: 558, Hawasy Syarwani [1]: 292).

NIKAH DENGAN ANAK TIRI
Seorang laki-laki yang menikahi janda yang sudah mempunyai anak wanita, apakah boleh baginya menikah dengan gadisnya (anak tiri) apabila sang istri (janda) sudah meniggal?

Fiqih memberi perincian tentang hukum pertanyaan di atas. Apabila sang lelaki sudah pernah bersetubuh dengan sang janda maka haram dia menikahi anak tirinya. Karena anak tiri tersebut sudah termasuk raba’ib (Arab) yang haram dinikah sebagaimana dalam Al-Qur’an. Namun apabila jandag itu belum pernah disetubuhi, maka boleh menikahi anak tirinya. Terkait permasalahan menikahi ibunya istri, istrinya bapak dan istrinya anak itu jelas-jelas haram secara mutlak (tidak ada syarat harus sudah dijima’). (Lihat Bughyah al-Murtarsyidin: 329, Iqna’ [2]: 168).

NIKAH DENGAN IBU TIRI ISTRI
Berbeda dengan menikahi anak tiri, menikahi ibu tiri istri (ketika sang istri punya ayah yang berpoligami dikemudian meninggal) itu diperbolehkan, karena yang dilarang dalam Islam adalah perkawinan yang dilakukan antara anak laki-laki dengan ibu tirinya (istri kedua dari bapaknya), atau antara lelaki dengan mertua perempuannya (mushaharah) sampai ke atas (nenek dan seterusnya). Sedangkan menikahi ibu tiri istri yang sudah dicerai suaminya atau telah ditinggal mati, maka hukumnya boleh. (Lihat Qurrat al-‘Ain: 208, Hasyiah Bujairimi ala Khatib [3]: 245).

[Abdul Mubdi]

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Model dan Problematika Nikah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *