Mitos Gerhana dan Geliat Astronomi

Friday, July 20th 2018. | Cakrawala

 

 

Di pagi yang mendung, seorang kakek terlihat asyik ndongeng di hadapan anak berumur tiga tahun. Dengan logat ndeso yang khas, ia memberitahukan kepada cucunya tersebut bahwa suatu waktu matahari dimakan oleh Buto. Di waktu lain, bulan juga dilahap oleh raksasa tersebut. Dengan menggerakkan jemarinya, sang kakek berkisah bahwa kejadian ini bermula saat para dewa ingin membagikan tirta amerta. Namun, karena jumlahnya terbatas, pimpinan dewa bermaksud membagikannya secara merata.

Rencana di atas ternyata diketahui oleh Buto. Karena ingin merasakan khasiat air penghidupan, si raksasa mengubah wujud aslinya. Perubahan bentuk tubuh dilakukan agar keberadaannya tidak terendus. Makhluk berbadan besar tersebut beralih rupa layaknya dewa. Bethoro Suryo mengerti kalau ia bukanlah termasuk rombongan para dewa. Ketika antri mendapat giliran minum, dewa matahari Bethoro Suryo memergokinya seraya berkata, “kalau ikut antri gitu kan pasti ketahuan”. Namun, karena tirta amerta terlanjur sampai di lidah Buto, Bethoro Suryo terpaksa memanah lehernya.

Buto melancarkan protes dengan melumat bulan dan matahari. Bentuk bulan atau matahari yang tidak utuh di langit menunjukkan bahwa si raksasa tidak menelannya seketika. Ia memakannya secara bertahap: secuil demi secuil. Itulah mengapa, saat terjadi gerhana bulan atau matahari, masyarakat Jawa ramai-ramai menabuh lesung. Konon, tindakan demikian dipercaya mampu mengusik ketenangan Buto. Merasa terganggu, Buto bakal memuntahkan bulan atau matahari, sehingga gerhana berakhir.

Rasionalisasi

Apabila diceritakan kepada generasi zaman now, mitos yang dahulu kala diwariskan lintas generasi ini barangkali akan diragukan atau bahkan ditertawakan. Nilai-nilai modernisasi dan globalisasi yang diselipkan dalam kurikulum pendidikan genap mempengaruhi cara berpikir anak-anak masa kini. Para siswa terkesan lebih tertarik kepada materi-materi pelajaran yang memuat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibanding hikayat-hikayat tempoe doeoloe yang kerap dibumbui dengan mitologi kuno. Lantaran berpikir rasional, mereka seolah tidak ingin mengetahui pesan atau kearifan lokal di balik cerita-cerita khayal. Kecenderungan demikian dilegitimasi oleh fenomena bergesernya lembaga pendidikan tradisional ke modern.

Informasi mengenai munculnya penemuan-penemuan sains mutakhir, diluncurkannya satelit ke luar angkasa, ditemukannya planet baru dalam tata surya, dikembangkannya robot-robot canggih, atau diproduksinya mobil tanpa bahan bakar tentu lebih memancing daya tarik mereka ketimbang legenda Rara Jonggrang yang menjadi asal mula berdirinya Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga. Rasionalisasi membimbing mereka untuk senantiasa memaksimalkan kinerja otak sekaligus menomorduakan intuisi dan perasaan. Hasilnya, mereka gemar mengesampingkan ‘produk-produk lama’ serta segala hal yang dianggap ketinggalan zaman.

Mereka kurang lagi meyakini kebenaran pengetahuan lapuk yang sukar dicerna akal. Bagi mereka, mitos hanyalah cerita pengantar tidur serta pemantik kenangan. Padahal, dahulu kala, mitos merupakan bagian dari kehidupan para leluhur. Betapa hari-hari masyarakat Jawa tidak terlepas dari keberadaan mitos. Itulah mengapa, berlangsungnya suatu peristiwa atau kejadian kerap dihubungkan dengan mitos. Dalam perkembangannya, keyakinan terhadap mitos melahirkan berbagai larangan dan pantangan.

Objek Observasi

Bagi para ahli fisika, matahari merupakan objek penelitian yang luar biasa. Dengan mempelajari matahari, mereka dapat membuka wawasan dan memperluas cakrawala tentang karakteristik bintang. Atas dasar inilah, para ahli fisika berlomba-lomba untuk melakukan pengamatan atau observasi terhadap matahari. Tak heran jika dalam ilmu astronomi, matahari kerap mengantongi sebutan Batu Rosetta. Oleh Champolleon, arkeolog Prancis, batu prasasti ini genap dimanfaatkan sebagai sarana pemecah rahasia tulisan hieroglif Bangsa Mesir Kuno.

Dalam catatan historis, telaah tentang matahari sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Pengamatan dan pencatatan atas gerhana matahari total genap ditemukan sejak tahun 2.000 SM oleh Bangsa Cina, dan sejak tahun 600 SM aktivitas ini dilakukan oleh Bangsa Yunani. Pada tahun 350 SM, Theoprastus dan Athena, dua murid Aristoteles, menjadi orang pertama yang mengamati adanya bintik matahari. Sejak itulah, pengamatan matahari semakin kerap dilakukan oleh para tokoh astronomi lainnya, semisal Galileo Galilei, Tycho Brahe, Johannes Kepler, dan lain sebagainya (A. Gunawan Admiranto, 2009: 23).

Sementara itu gerhana bulan juga menjadi objek observasi para ilmuwan. Bagaimanapun, para astronom sangat tertarik dengan hal-hal seputar bulan. Salah satunya gerhana bulan penumbral. Majalah Bimasakti Edisi 2013 menyebutkan bahwa pada masa ini, “secara kasat mata, bulan akan nampak bundar penuh sebagai bulan purnama tanpa ada bagian yang tergelapkan, namun jika diobservasi dengan teleskop/binokuler, akan tampak bagian yang sedikit menggelap dibanding biasanya.”

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Mitos Gerhana dan Geliat Astronomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *