Merindukan Senyuman Sosok Tauladan; Wawancara Ekslusif dengan Habib Shaleh al-Jufri, Solo

Thursday, September 24th 2015. | Jejak Utama

al-allamah-al-arif-billah-al-habib-anis-bin-alwi-al-habsyi (smaller)

Setelah mengadakan perjanjian sebelumnya, alhamdulillah kami selaku Tim Reportase Majalah Langitan dapat ber-silaturrahim sekaligus sowan kepada Habib Sholeh al-Jufri selaku murid kesayangan Habib Anis, untuk menanyakan beberapa hal mengenai Habib Anis bin Alwi al-Habsyi. Berikut laporan yang berhasil kami dapatkan.

 

Bagaimanakah sifat-sifat yang menonjol dari Habib Anis?

Yang pertama, beliau adalah seorang guru yang bijaksana. Selalu memberi contoh sebelum berbicara. Apa yang beliau bicarakan adalah apa-apa yang beliau amalkan. Beliau juga adalah seorang yang alim, arif, yang memiliki akhlak yang sangat baik dan tinggi kepada siapapun yang ada disekitar beliau.

Beliau selalu menyambut tamu-tamu yang datang kepada beliau dengan senyuman khas yang selalu nampak dari wajah beliau. Tidak peduli darimana, baik kenal atau tidak, beliau menyambutnya dengan kalimat-kalimat yang lembut ketika memberikan nasihat dan do’a.

Tidak bisa dipungkiri bahwa datangnya Habib Umar ke Indonesia adalah berkat Habib Anis. Sebelumnya tidak ada orang Indonesia yang mengenal Habib Umar. Ceritanya, pada tahun 1993, ketika Habib Anis merampungkan kitab yang bercerita tentang salaf, beliau mengajak para habaib, masyayikh, dan juga siapa saja yang mau supaya ikut menziarahi ‘salaf’ yang sering dibicarakan dimajelisnya, sekalian ada maulid besar. Dan kurang lebih ada 30 orang yang pergi menziarahi Hadramaut.

Kedatangan Habib Anis diketahui oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad As-saqqaf, seorang wali kutb yang waktu itu tinggal di Jeddah. Maka Habib Abdul Qadir sengaja kemabali ke Seul dalam rangka menyambut kedatangan Habib Anis. Akhirnya berjumpalah mereka di Seul.

Habib Anis meminta kepada Habib Abdul Qadir agar ada seorang pemuda dari Hadramaut yang memiliki suri tauladan dan contoh untuk pemuda Indonesia. Maka habib Abdul Qadir memerintahkan Habib Umar yang pada waktu itu masih berumur 30 tahun.

Habib Anis juga yang mempunyai ide agar anak-anak ‘Alawiyyin dan lainnya yang mempunyai semangat tinggi untuk belajar kepada Habib Umar. Dan alhamdulillah pada awal tahun 1994, sebagai kloter pertama, berangkatlah sekitar 30 pemuda Indonesia untuk belajar ke Habib Umar. Mereka diantaranya, saya sendiri, Habib Mudzir al-Musawa, habib Quraisy Baharun, Habib Shodiq Baharun, Habib Jindan bin Novel bin Jindan, Syekh Ridlwan al-Amri, Habib Ali al-Idrus, Habib Hasan bin Isma’il, Habib Hamid Baakwan, dan lain sebagainnya.

 

Untuk Senyuman Beliau, Itu Apakah Memang Ciri Khas Beliau?

Yang menjadi ciri khas beliau itu memang murah senyum. Berbicara pun dengan senyuman. Menyambut dengan senyum dan memberikan wejangan dengan senyuman. Hal itu bukan berarti beliau orang yang tidak punya prinsip. Tapi disaat-saat tertentu yang memang harus menunjukkan ketegasan, beliau sangat tegas sekali. Dan ketika beliau sedang tegas, kita akan tahu kalau beliau memang berwibawa sekali. Tidak akan ada yang berani dan bisa untuk membantah.

Terutama sekali, beliau adalah orang yang sangat tegas dengan aliran-aliran yang menyeleweng dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah dan tidak ada kompromi untuk hal itu. Baik aliran yang merendah-rendahkan sahabat Rasul atau aliran yang merendahkan ahlu bait.

 

Bagaimanakah Pendidikan Beliau?

Habib Anis pertama kali belajar di Rabithah Alawiyah yang berada di Solo. Sebelum namanya berubah menjadi Sekolah Diponegoro. Rabithah Alawiyah sendiri didirikan oleh ulama’-ulama’ sepuh termasuk ayah beliau. Selain belajar di Rabithah, Habib Anis juga ngaji kepada ayah beliau, yakni Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, dan Habib Ahmad bin Abdullah al-Athas yang dulu juga bermukim di Solo. Disana, beliau mendapatkan pelajaran berharga dari sang ayah dan Habib Ahmad.

Sepeninggal sang ayah, beliau melanjutkan majelis-majelis yang dilakukan oleh ayahnya, termasuk pembacaan Maulid disetiap malam Jum’at dan kegiatan di Zawiyah Riyadh yang juga dipegang oleh Habib Anis.

 

Untuk haul sendiri kapan dimulainya?

Untuk haul itu dimulai sejak ayahnya Habib Anis. Jadi di masa Habib Alwi al-Habsyi itu sudah ada. Yang di hauli adalah Habib Ali, kakek Habib Anis. Kalau tidak salah Sejak tahun 40-an sudah ada haul untuk memperingati wafatnya Habib Ali.

 

Terakhir, barangkali bisa diceritakan tentang dawuh-dawuh beliau yang sering di lontarkan sebagai bahan penyemangat?

Hanya sebagian dari nasihat Habib Anis yang bisa saya ingat. Pertama, beliau pernah menasihati langsung secara pribadi kepada saya, bahwa seorang da’i atau ustadz itu harus bisa berdiri sendiri didalam masalah ekonomi. Insya Allah, Allah-lah yang akan memberkahi. Hal ini dilakukan agar kita tidak bergantung pada ummat dan bisa berdiri sendiri. Beliau mencontohkan dengan berkata “Ini saya punya toko, saya punya usaha, agar supaya saya tidak bergantung kepada orang lain”.

Ada satu yang paling terkesan dihati saya pada Habib Anis. Walaupun bukan berupa kata-kata, namun merupakan tauladan dan contoh yang bisa menggambarkan bahwa beliau adalah orang yang sangat tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Artinya, jika ada orang yang berbuat baik pada beliau, orang itu akan diberi yang lebih baik dari apa yang diberikan oleh orang itu.

Dulu pada tahun 1966 ada banjir di Solo. Hingga banyak kitab-kitab Habib Anis yang bagus pada zaman itu, kebanjiran. Beliau kadang-kadang menyebutkan beberapa kitab yang hilang. Ketika beliau menyebutkan, kitab-kitab yang hilang itu saya catat dengan tujuan ketika saya pergi ke negri Arab, akan saya carikan kitab tersebut. Saya mencarinya dan mendapatkannya. Kemudian kitab itu saya hadiahkan kepada beliau.

Tapi ternyata, ketika Hari Raya, Habib Anis memberikan uang yang sangat banyak sekali kepada saya, dan memberikan sarung beliau. Saya kaget. Ternyata beliau adalah orang yang tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Apa-apa yang saya berikan, beliau terima sebagai hadiah. Tapi waktu Hari Raya, beliau memberikan saya uang yang lebih besar beberapa kalilipat dari pada kitab yang saya hadiahkan.

Satu lagi yang bisa kita buat sebagai tauladan. Beliau adalah orang yang sangat perhatian pada da’i. Saya ingat waktu pertamakali datang dari Hadramaut, waktu itu saya masih menyewa rumah dan tidak punya apa-apa. Tidak disangka tempat tidurnya beliau, spring bed, yang beliau pakai dan masih sangat bagus itu dikirim kerumah saya melalui Habib Hasan. Itu sangat luar biasa.

Walau pun sebenarnya banyak dari kita yang tidak bisa merasakan langsung keindahan senyuman beliau, setidaknya kita bisa melihat pancaran senyuman yang terpantul pada murid-murid beliau serta para pecinta beliau. Karena pancaran beliau, adalah pantulan dari pancaran cahaya Rasulullah Saw.

 

[Muhammad Hasyim & Muhammad Ichsan]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Merindukan Senyuman Sosok Tauladan; Wawancara Ekslusif dengan Habib Shaleh al-Jufri, Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *