Merenungi Banjir

Monday, September 25th 2017. | Keajaiban

 

Akhir-akhir ini, sejumlah daerah di Indonesia dilanda bencana alam, salah satunya banjir. Banjir merupakan musibah yang menelan banyak korban dan menimbulkan kerugian besar. Harta benda yang telah dikumpulkan dari jerih payah manusia raib entah ke mana. Perhiasan, emas, intan, permata, bisa jadi dilalap habis oleh air yang datangnya seringkali secara tiba-tiba dan di luar dugaan. Manusia hanya bisa merelakan hilangnya barang-barang berharga, bahkan kepergian saudara, kerabat, serta orang yang disayangi. Banjir menjadi semacam alarm betapa manusia adalah makhluk lemah. Manusia boleh saja berencana, akan tetapi Tuhan tetap yang menentukan.

Di antara kota yang menjadi langganan banjir adalah Jakarta. Luapan air besar menambah deretan panjang keruwetan serta problematika Jakarta, selain kemacetan, menumpuknya sampah, tingginya angka pengangguran, dan meroketnya kasus kriminalitas. Dalam catatan sejarah, ternyata banjir di Jakarta bukan hanya terjadi belakangan. Saat masih bernama Batavia dan berada dalam masa pemerintahan kolonial Belanda, kota ini sudah pernah dilanda banjir, antara lain pada tahun 1621, 1654, 1873, 1878, dan 1918. Banjir besar juga melanda ibu kota pada tahun 1979, 1996, 1999, 2002, dan 2007.

Jika dibandingkan, banjir pada tahun 1918 merupakan terbesar setelah sebelumnya tahun 1878 banjir juga menenggelamkan Batavia. Buku bertajuk Banjir Kanal Timur: Karya Anak Bangsa menjelaskan bahwa saat itu selama 40 hari, hujan turun secara terus-menerus. Namun demikian, dampak yang dibawa tidak sedahsyat dan sebanding dengan banjir tahun 1918.

Dalam Kitab Suci

Dalam perjalanan kehidupan manusia, riwayat banjir ternyata telah ditemukan ribuan tahun silam. Kisah para Nabi menyebutkan bahwa banjir bandang pernah terjadi pada masa Nabi Nuh As. Pada waktu itu, luapan air begitu dahsyat, sehingga meluluhlantakkan rumah, pohon, hewan, bahkan manusia. Orang-orang yang tidak ikut bersama rombongan perahu Nabi Nuh dipastikan tenggelam. Mereka tentu tidak sanggup melarikan diri dari azab yang diturunkan oleh Allah. Keselamatan hanya diperuntukkan bagi mereka yang meyakini dakwah Nabi Nuh As. Sebagai ibrah bagi generasi setelahnya, banjir yang menimpa Nabi Nuh beserta umatnya disebut beberapa kali dalam al-Quran, antara lain dalam surat Hud.

“Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.’ Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 41-43)

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh telah mendustakan ayat-ayat Allah dan para rasul. Mereka dibinasakan lantaran fasik dan secara sadar serta sengaja melanggar hukum. Mereka terbukti menyimpang dari moralitas kehidupan bersama. Achmad Chodjim (2013: 318) berpandangan, memang kitab suci tidak merinci lebih jauh tentang pelanggaran kaum Nabi Nuh. Akan tetapi, jelas bahwa pelanggaran yang mereka lakukan amat berat, sehingga mengakibatkan banjir besar.

Beragam Manfaat

Orang-orang yang dilanda kebanjiran kerap menyayangkan datangnya bencana alam tersebut. Padahal, di samping dampak negatif, banjir juga berdampak positif. Berikut beberapa manfaat banjir:

  • Banjir bisa memenuhi kebutuhan air, terutama di daerah-daerah yang kering.
  • Banjir menambah kandungan yang ada pada tanah.
  • Ada beberapa jenis ikan yang cocok berkembang biak di air banjir.
  • Air banjir dimanfaatkan berbagai jenis ikan sebagai tempat hidup baru.
  • Tambahan kandungan ke danau berpengaruh baik bagi industri perikanan.
  • Penyeimbang ekosistem sungai.
  • Cadangan makanan burung semakin melimpah.
  • Banjir menjadi ajang sosialisasi.
  • Membuka lapangan pekerjaan.
  • Mengingatkan manusia untuk senantiasa mencintai alam dan tidak merusaknya.

Dengan memikirkan manfaat yang terkandung dalam setiap musibah, niscaya manusia akan selalu berkeyakinan bahwa apa yang telah digariskan oleh Allah tidaklah sia-sia, tetapi selalu memiliki hikmah yang bemakna.

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Merenungi Banjir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *