Menyebarkan Dakwah dengan TPQ

Tuesday, August 9th 2016. | Wawancara

IMG_20141208_193611

Ahmad Hasyim Fahmi

Menyebarkan Dakwah dengan TPQ

 

  1. Ahmad Hasyim Fahmi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Gus Fahmi adalah sosok teladan yang murah senyum dan mudah bergaul kepada siapapun. Guyonannya yang khas dan sarat hikmah pasti akan membuat orang-orang yang berada disekitarnya simpati dan tahu bahwa dibalik penampilannya yang sederhana, beliau mempunyai keilmuan yang tinggi.

 

Beliau lahir di Langitan pada tanggal 25 September 1970 dengan nama lengkap Ahmad Hasyim Fahmi. Lahir ditengah keluarga bahagia KH. Achmad Ghozali dan Nyai Saudah binti Zaini, beliau menjadi putra pertama dari 6 bersaudara. Menikah dengan Ning Khair Dimyati, beliau kini telah dikaruniai 5 anak, (4 laki-laki dan 1 perempuan) dan bertempat tinggal di PP. Al-Ma’ruf, Karang Asem, Babat, Lamongan.

Beliau dibesarkan di Jombang ditengah keluarga yang agamis. Pernah menamatkan sekolah Tsanawiyah di daerah Perak, Jombang. Dan sebelum ke Langitan, beliau juga pernah mondok sebentar di PP. Lirboyo.

 

Hijrah ke Langitan

Beliau pindah ke Langitan pada tahun 1987 dan langsung menempati kelas 5 (2 MtsF). Sebenarnya pada waktu itu beliau masuk kelas 4, namun  karena yang mendaftarkan adalah KH. Sholeh Badawi, beliau diterima di kelas 5. Tidak semudah itu, beliau dijanji oleh gurunya, Ust. Munirun, bahwa jika beliau sampai pada bulan Dzulhijjah tidak bisa membaca kitab Fathul Qorib dengan tanpa makna dan harokat (Gundulan), beliau akan diturunkan lagi di kelas 4. Akhirnya dengan penuh semangat beliau berusaha mempelajari apa yang dijanjikan gurunya, dan lulus dari ujian tersebut.

Pernah saat liburan bulan besar beliau ingin pulang. Semuanya sudah siap dan tinggal pamit saja kepada KH. Ahmad Marzuki. Namun oleh beliau di cegah “ngko sek, engko sore wae, saiki ngecor sek. Koe lek muleh saiki, ora iso dadi wong alim awakmu” (nanti dulu, nanti sore saja pulangnya. Jika pulang sekarang, kamu tidak akan menjadi orang alim). Beliau pun takut dan akhirnya ganti baju dan ikut ngecor di pondok putri. Sorenya, baru diizini. Namun dirumah beliau tidak betah karena terfikirkan dawoh Romo Yai. Akhirnya, besoknya beliau langsung kembal ke pondok.

 

Mulai Mengajar

Sekitar tahun 1994, tepatnya setelah terjadinya banjir bandang, beliau ditugaskan oleh Romo Yai untuk mengajar TPQ di asrama Zipur, Babat, Lamongan. Sore berangkat jam 3, dan maghribnya sudah kembali dipondok. Dengan istiqomah beliau menjalani mengajar disana selama 13 tahun. Yaitu mulai tahun 94 sampai tahun 2006.

Beliau juga pernah diutus KH. Abdullah Faqih untuk mengajarkan bagaimana cara mengajarkan TPQ kepda guru-guru didaerah terpencil, yakni Gondang, Temayang, Bojonegoro, dan tidak boleh pulang kalau belum selesai. “Fahmi, awakmu melu wong iki. Ojo muleh lek kabeh durung iso ngulang TPQ” (Fahmi, kamu ikutlah orang ini. Jangan pulang kalau semuanya belum bisa mengajar TPQ) kenang Gus Fahmi saat Romo Yai mengutus beliau.

Beliau adalah angkatan pertama yang ditugaskan untuk menyebarkan metode An-Nahdliyah yang dibawa ke Langitan oleh KH. Abdullah Habib Faqih dan Nyai H. Qurratul Ishaqiyah. Beliau masih ingat pesan Romo Yai Abdullah Faqih yang mengatakan “ngeresi’i doso paling penak iku ngulang. Ngulang santri, luwih-luwih ngulang bocah cilik. Ojo isen dadi guru TPQ, kerono guru TPQ iku guru seng mulyo seng sertifikate langsung teko kanjeng Nabi. Khoirukum, man ta’allamal Qur’an, wa ‘allamahu” (membersihkan dosa yang paling mudah itu mengajar. Mengajar santri, terlebih lagi mengajar anak kecil. Jangan malu karena jadi guru TPQ, karena guru TPQ itu guru yang mulia, yang sertifikatnya langsung dari kanjeng Nabi. Karena yang terbaik dari kalian adalah mereka yang belajar al-Qur’an, dan mengajarkannya).

Bersamaan dengan beliau mengajar TPQ di Zipur, beliau juga mulai mengajar di pondok Langitan. Mengajar alfiyah pada tahun 1998, dan pada tahun setelahnya beliau mengajar di madrasah Aliyah al-Falahiyah hingga sekarang.

 

Membangun Rumah

Setelah menikah pada tahun 2001, awalnya beliau hanya menempati rumah kosong milik warga. Namun kemudian beliau diberi tanah yang berada didepan Masjid Karang Asem. Akhirnya beliau matur ke Romo Yai Abdullah Faqih tentang apa harus diperbuat dengan tanah ini. Romo Yai akhirnya memerintahkan beliau untuk membangun rumah dengan catatan tanah tersebut tidak berstatus sebagai waqof.

Pembangunan rumah belum sempurna dan belum dikeramik. Namun beliau kembali di panggil dan diutus untuk segera pindah (boyongan). Waktu pindah, beliau diantar oleh Romo Yai dan Bu Nyai. Walau baru menempati rumah tersebut, beliau langsung mendapat santri dan akhirnya oleh Romo Yai diberi nama dengan sebutan Pondok Pesantren Al-Ma’ruf.

 

Tentang Pondok Al-Ma’ruf

Pada awalnya, anak-anak besar diniyah yang ada di asrama Zipur beliau bawa kesini. Beberapalama kemudian, akhirnya berdirilah madrasah diniyah dengan 6 kelas yang ada dibelakang rumah beliau. Sedangkan yang mengajar adalah alumni-alumni Langitan yang rumahnya berada disekitar Babat, yang juga rata-rata adalah murid beliau ketika di Langitan.

Pondok Al-Ma’ruf berkembang cukup pesat. Hingga sekarang, santri yang mukim sudah mencapai 40-an. Anak-anak Tahfidz Al-Qur’an juga sudah ada. Madrasah diniyah yang santrinya bercampur dengan anak-anak warga sekitar juga masih stabil. Sekitar 175 s/d  200 anak.

Yang paling mencolok untuk Al-Makruf adalah wajib bagi semua santri baik yang mukim atau tidak untuk berjama’ah Shubuh di Masjid Karang Asem. Kalau tidak, maka akan ada ta’zir baik itu membaca sholawat 1000 kali, berdiri dikelas, atau di denda sebesar Rp.2000. Peraturan itu sudah ada sejak tahun 2005.

 

Hubungan Dengan Masyarakat

Sama dengan yang lain, tantangan beliau juga banyak. Kadang diterima dimasyarakat, kadang juga tidak. Tapi semua itu tidaklah beliau anggap sebagai halangan. Namun, seiring berjalannya waktu, dakwah yang beliau jalankan akhirnya membuahkan hasil yang signifikan. Kenduri yang tadinya molor, sekarang tidak. Suasana yang dulunya ketika slametan ada judi, akhirnya tidak ada.

Bukan hanya itu saja, di setiap hari Ahad Pahing, Ada rutinan di Masjid Karang Asem, yakni jama’ah manaqib untuk ibu-ibu dan sudah berjalan selama 7 tahun lebih. Ada juga Istighosah malam Jum’at Pahing yang juga sudah berjalan sekitar 7 tahun lebih. Kemuidan setiap sore Jum’at Wage dan Legi, ada pengajian rutinan ibu-ibu muslimat dan berjalan dengan baik.

Sebelum pamit, kami sengaja meminta pesan-pesan dari beliau sebagai pemacu semangat yang intinya, “untuk santri-santri yang masih dipondok, untuk selalu mengedepankan nilai akhlak karena itu yang akan paling terasa ketika sudah terjun dimasyarakat. Pandai tidaklah menjamin keberhasilan.

Buat guru-guru TPQ, guru TPQ adalah garis terdepan dari kholifatullah. Allah berfirman “Dan Allah telah mengajarkan nama-nama kepada Adam dengan seluruhnya” Nah, yang mengajarkan nama-nama pertamakali adalah guru TPQ. Maka harus tetap semangat untuk menjadi guru TPQ.

Jangan pernah punya perasaan putus hubungan dengan pondok tercinta. Rabithah batiniyah dan dzohiriyah haruslah tetap bersambuang. Ibarat daun yang walaupun hijau, tapi kalau lepas dari pohonnya maka lama kelamaan dia juga akan kering. Tapi meskipun daun itu rusak, berlubang dan tidak berbentuk, tetapi jika dia masih tetap menempeel di tangkainya, maka dia akan tetap hidup. Sama juga dengan santri dan alumni, selama masih menjaga hubungan dengan almamaternya, maka insya Allah ushul jihadnya akan tetap sama.

Beliau sealu berkeinginan untuk bisa membuat para guru dan kiai serta orang tua yang sudah di alam sana tersenyum ketika melihat putra-putra dan santri-santrinya bisa mengajar dan memberi manfaat kepada orang lain. Karena orang sukses sejati bukanlah orang yang bergelar tinggi atau kaya raya. Tapi orang sukses sejati adalah mereka yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Khoirunnas, anfa’uhum linnas.

[Muhammad Ichsan & Muslimin Sairozi]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Menyebarkan Dakwah dengan TPQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *