Menjaga Pintu Hati

Sunday, October 4th 2015. | Tasawuf

bfa9e2391aa17250cf2ea3315

 

Kita semuanya tentu sudah mengetahui bahwa segala gerak-gerik manusia, baik atau buruknya adalah tergantung hati. Hati adalah segumpal daging yang jika baik, maka akan baik seluruh tubuh. Dan jika buruk, maka akan buruk seluruh tubuh .

Manusia yang menjadi ukuran adalah hatinya. Karena rupa yang tergambar dalam tubuh yang indah, akan sama saja dengan bangkai jika hatinya busuk. Dan secara ringkas, manusia terdiri dari 3 komponen yang menentukan kebaikan atau keburukan perilakunya yaitu hati, akal, dan anggota badan.

Fungsi 3 Komponen

Hati diumpamakan sebagaimana presiden, akal sebagai wazir (mentri), dan anggota badan sebagai pengawal. Hati menentukan dan mengendalikan gerak manusia secara penuh, sedangkan akal hanya memberi arahan tentang mana yang benar dan mana yang salah. Sedang anggota badan adalah menjalankan apa yang dikehendaki oleh hati.

Bisa diambil kesimpulan bahwa hati adalah yang menentukan kemanakah seseorang akan melangkah. Hingga biasa kita rasakan ketika akal kita mengatakan bahwa ini adalah salah, namun hati justru menghendaki yang sebaliknya. Maka dari itu, menjaga hati adalah hal yang harus dijaga dan tidak bisa ditawar oleh seorang hamba. Ia harus tahu siapa musuhnya, dan dari mana dia masuk.

Pintu Hati

Mengutip keterangan hujjatul Islam Imam al-Ghozali, beliau menjelaskan bahwa setan menyusup ke dalam hati adalah dengan melewati pintu-pintu yang tidak lain adalah sifat-sifat manusia yang tercela itu sendiri. Diantara sifat tersebut adalah hubbu at-tazayyun (senang berhias) dalam berpakaian, perabot rumah, aksesoris, dll. Penyakit ini banyak dialami manusia secara umum baik itu anak-anak, kaula muda, bahkan hingga mereka yang sudah tua. Banyak dari mereka yang mengadopsi gaya dan budaya luar hanya demi sekedar meningkatkan gengsi.

Lewat hal ini setan akan menggiring mereka hingga mencintai dunia (hubbub ad-dunya). Ketika sifat ini sudah mengakar dihati mereka, setan tidak perlu lagi bersusah payah untuk menjerumuskan. Dan dari sifat ini, akan muncul sifat-sifat yang lain seperti takabur, hasud, toma’, bakhil, dan sifat tercela lainnya. Sering kita mendengar berita di media yang mengabarkan tentang pembunuhan atas dasar harta. Tak peduli apakah orang dekat atau kerabat, bahkan orang tua pun tidak segan untuk dibunuh.

 Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. bahwa “cintamu kepada sesuatu adalah membutakan dan membuatmu tuli”, seorang hamba yang telah terkena penyakit ini hatinya akan buta dan tuli. Apapun yang dikatakan kepadanya, jika itu mencela apa yang is cintai dari dunia, maka ia tidak akan mendengarkannya.

Menjaga Pintu Hati

Terbukanya pintu ini (hubbu ad-dunya wa at-tazayyun) adalah bisa dicegah dengan cara mengetahui hakikat kehinaan dunia dan betapa mulianya akhirat. Seorang hamba harus bisa menanamkan keyakinan ini didalam hatinya dengan cara bertafakur dan berangan-angan tentang kebahagiaan akhirat yang kekal dibanding dengan kebahagiaan dunia yang sementara.

Dengan cara ini, ia akan bisa memfilter apakah yang akan keluar dari hantinya ini baik, ataukah buruk. Dengan ini seorang hamba akan menjadi tahu bahwa kebahagiaan, ternyata tidak semata-mata muncul dari apa yang dirasakan oleh anggota badan dan kesenangan menuruti hawa nafsu. Tetapi lebih dari apa yang bisa membuat hati kita nyaman dan aman.

Setan Tidak Pernah Puas Untuk Menjerumuskan

Suatu hari al-Hasan ditanya tentang apakah setan itu tidur?. Beliau tersenyum sembari menjawab “jikalau setan tidur, niscaya kita akan istirahat (aman)”. Dari cerita diatas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam kondisi apapun, bagaimanapun, dan dimanapun, setan tidak akan pernah berhenti untuk menjerumuskan.

Sudah seharusnya bagi seorang hamba yang ingin menapaki jalan akhirat untuk terus menjaga hatinya dari sifat-sifat tercela. Karena dari satu sifat tercela, akan muncul sifat tercela lainnya. Sebagaimana sifat hubbub ad-dunya yang akan memunculkan berbagai macam sifat tercela. Padahal, hubbu ad-dunya adalah sifat yang dimiliki pada diri manusia yang masih terbatas pada ‘rasa’. Maka apa lagi dengan sifat-sifat lain yang manivestasinya sudah merujuk kepada perbuatan?!

[Samih Mamduh]

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Menjaga Pintu Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *