Menjaga Marwah Pemimpin

Thursday, April 12th 2018. | Uncategorized

Pada Rubrik Tsaqafah kali ini Majalah Langitan mengambil tema Etika dan Moralitas Pemimpin. Tulisan ini merupakan hasil wawancara redaktur Majalah Langitan, Muhammad Hasyim dengan Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris, Direktur di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur. Tulisan ini terdiri dari dua bagian. Untuk bagian pertama ini kami mengambil tema kehormatan, murua’ah atau marwah pemimpin.

 

Kita melihat pada hari-hari ini banyak pemimpin yang seharusnya melayani dan melindungi rakyat tapi malah menindas. Seharusnya mereka merangkul tapi malah memukul. Bagaimana pendapat Anda?

Ironis memang. Persoalan akhlak, moralitas atau etika khususnya di kalangan pemimpin memang satu masalah yang besar. Masalah ini bukan hanya mendera Indonesia tapi hampir seluruh komunitas manusia dunia. Ini bukan masalah yang baru. Persoalan ini sudah mengakar ratusan tahun bahkan pada zaman Imam Ghazali sudah dijelaskan tentang hal ini bersamaan dengan solusinya.

Jika mau memandang yang lebih mendalam maka kita akan menemukan mata rantai keganasan yang mengancam eksistensi peradaban.

Maksudnya?

Seorang pemikir besar masa kini -sekaligus guru kami- Prof. Dr. Sayyid Naqib al-Atthas merumuskan ada tiga akar masalah umat Islam masa kini. Pertama, masalah kekeliruan dalam memahami kerangka keilmuan; Kedua, hilangnya adab (lost of adab); dan Ketiga, Lahirnya pemimpin yang lalim. Masalah pertama (salah memandang ilmu) akan melahirkan masalah kedua (hilangnya adab). Masalah kedua melahirkan masalah ketiga (pemimpin lalim). Sedangkan masalah ketiga akan berputar melahirkan masalah pertama (salah memahami ilmu). Begitulah perputaran yang tiada habisnya. (pembahasan ini akan kami sajikan pada tulisan kedua nanti).

Sehingga  munculnya pemimpin tidak amanah itu bagian dari mata rantai kesalahan. Dia tidak berdiri sendiri tapi lahir dari kesalahan oriantasi ilmu dan hilangnya adab manusia.

Terus bagaimana Prof, agar kita bisa melahirkan pemimpin yang adil dan bijak?

Masalah ketidak amanahan karena tidak adanya akhlak atau adab. Para pejabat, baik dalam tataran lahir tapi rusak pada bidang batin. Mereka bertutur indah pada rakyat. Salam sapa penuh kehangatan tapi menelikung dari dalam. Membuat kebijakan yang menguntungkan secara sepihak, baik untuk komunitasnya atau dirinya sendiri. Disinilah lahirnya korupsi dan berbagai kerusakan lainnya.

Dalam kajian keislaman, akhlak itu masuk dalam ilmu tasawuf. Bagaimana orang dalam beramal harus ikhlas. Tidak menuntut balas budi kebijakan. Andai para pejabat yang seharusnya melayani umat memiliki akhlak -baik pada Allah atau semesta- tentu tidak akan ada yang menyalahgunakan wewenang.

Salah satu pemimpin baik dalam peradaban adalah Shalahuddin al-Ayyubi. Beliau mengemban amanah rakyat sesuai prosedur. Atau kalau di bumi nusantara ada Raden Fatah. Beliau mengelola pemerintahan dengan adab dan arahan dari Dewan Ulama yang tergabung dalam jajaran Walisanga.

Shalahuddin al-Ayyubi menarik. Bagaimana bisa muncul pemimpin seperti beliau?

Shalahuddin menjadi pemimpin agung bukan karena diri sendiri namun dibantu oleh pengabdi-pengabdi yang memiliki ilmu, kemampuan, semangat dan adab yang tinggi. Sehingga muncullah generasi Shalahuddin. Generasi ini muncul karena pengaruh kuat keilmuan Imam Ghazali setelah melewati beberapa fase dibawah beliau.

Berarti Generasi Shalahuddin ada karena pengaruh Imam Ghazali?

Iya.

Adakah data-data valid yang menguatkan tesis itu?

Seorang ulama dari Yordania, Dr. Majid Irsan al-Kaylani telah menulis disertasi dengan tajuk “Hakadza Dzhohara Jillu Sholahuddin” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Beliau mengkaji bagaimana muncul generasi Shalahuddin. Sebab Shalahuddin bukan suatu individu, Shalahuddin itu suatu generasi. Kenapa demikian? karena ada yang menyokong, mendukung dan bersama-sama beliau.

Kalau dia seorang diri, dia tidak mungkin bisa membebaskan Al-Aqsha. Jadi ada satu generasi yang sama-sama berjuang dan generasinya adalah produk ulama sebelum beliau. Maka siapa yang memberi kesan kepada diri mereka ini?

Dari hasil riset ilmiyyah itu, Dr. Majid Irsan al-Kaylani melihat bahwa ada tokoh yang berada di balik  itu. Yang pertama adalah Imam Ghazali yang banyak memberi pengaruh atas munculnya generasi ini. Generasi yang muncul akibat daripada satu sistem pendidikan yang diasaskan oleh ulama seperti Imam Ghazali. Sudah tentu bukan Imam Ghazali seorang, tapi beliau memainkan peranan yang sangat besar dalam membentuk pribadi dan karakter Shalahuddin.

Kemudian tentang Kerajaan Demak, Prof?

Kerajaan Demak juga bisa menjadi satu studi baiknya hubungan agama (baca: akhlak) dan politik. Pada masa kerajaan Demak dibentuk Dewan Ulama sebagai syura yang memberi pertimbangan dan masukan pada raja agar kebijakannya sesuai dengan jalan kebenaran. Selain itu, raja-raja baik di pusat atau kerajaan lain yang di bawah naungan Demak harus cuti bersama pada hari Jumat.

Pada hari ini, para raja harus mengikuti pengajaran spiritual berupa ibadah -terkhusus salat Jumat di Masjid Agung- dan mengaji kepada para ulama. Sehingga dari waktu ke waktu bertambahlah wawasan meraka terhadap agama dan kehidupan.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Menjaga Marwah Pemimpin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *