Meninggalkan Riba atau Memerangi Allah dan Rasul-Nya

Sunday, April 15th 2018. | Qur'an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ] البقرة/278-279]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Q.S. Al Baqoroh: 278-279)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Al Wahidi meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra: telah sampai kepada mereka –Wallahu A’lam– bahwa ayat ini diturunkan tentang permasalahan dalam Bani Amr bin Umair bin Auw dari Tsaqif dan Bani Mughiroh, salah satu klan Bani Mahzum, di mana sebelumnya Bani Mughiroh telah melakukan akad riba dengan Bani Amr dari Tsaqif. Ketika Allah Swt memperlihatkan kemenangan Rasulullah Saw dalam Fath Makkah, maka pada hari itu pula Allah Swt menghapus hukum riba secara keseluruhan. Kemudian kedua klan ini berseteru tentang riba tersebut sebelum turunnya ayat larangan riba. Setelah ayat tersebut turun, riba belum terbayar. Mereka lantas mendatangi Ittab bin Usaid selaku Gubernur Makkah. Bani Mughiroh berkata, “Kami tidaklah menjadikan diri kami sebagai sekelompok orang yang merugi dengan riba yang ditelah dihapuskan dari kelompok lain selain kami.” Bani Amr bin Umair berkata, “Kami menerima perdamaian, apabila boleh mengambil riba.” Ittab segera mengirimkan surat kepada Rasulullah Saw tentang peristiwa ini. Lalu turunlah ayat ini dan ayat setelahnya.

Imam Atho’ dan Ikrimah berkata bahwa ayat ini diturunkan tentang al Abbas bin Abdul Muttholib dan Utsman bin Affan, di mana sebelumnya mereka berdua telah memberikan pinjaman kurma. Ketika sudah jatuh tempo, penghutang kurma berkata kepada mereka berdua, “ Tidaklah tersisa dari diriku sesuatu untuk mencukupi keluargaku ketika kalian berdua mengambil seluruh hak milik kalian, bolehkan kalian hanya mengambilnya separuh dulu dan aku akan melipatkan gandakannya kemudian?” Mereka berdua setuju dengan perjanjian ini dan setelah jatuh tempo, mereka berdua menagih kelebihannya kepada pemilik kurma. Lantaran Rasulullah Saw mendengar kabar ini, beliau melarangnya dan Allah Swt menurunkan ayat ini. Keduanya bersedia mentaatinya serta mengambil harta pokoknya saja.

Imam As Sudi berkata bahwa ayat ini diturunkan kepada al Abbas dan Kholid bin Walid, di mana keduanya bersekutu pada masa jahilillah dalam menghutangkan dengan cara riba. Ketika Islam datang, mereka memiliki banyak harta yang berasal dari riba. Lalu Alah Swt menurunkan ayat ini dan Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya semua riba pada masa jahililiyah telah dihapuskan dan riba pertama kali aku hapuskan adalah riba yang dilakukan oleh al Abbas bin Abdul Mutholib.” (Asbabun Nuzul lil Wahidi [1]: 29, At Thobari [6]: 23, Ibnu Katsir [1]: 716, Ad Durrul Mantsur [2]: 243).

Makna Kandungan Ayat

(قوله يَا أَيُّهَا الَّذِينَ الى قوله إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)  dalam Ayat ini Allah Swt menyuruh seluruh hambanya yang mukmin dan bertaqwa agar menjauhi perbuatan yang dapat menyebabkan kemarahan Allah dan menjauhkan ridlo-Nya. Dalam ayat ini, Allah Swt memerintahkan seluruh umat untuk meninggalkan praktik riba. Melalui ayat ini, Allah Swt telah membatalkan seluruh akad riba yang pernah diucapkan. Setelah turunnya ayat tersebut, riba yang belum sempat dibayarkan menjadi batal. Adapun penghutang hanya cukup mengembalikan hutang pokoknya sebagaimana apa yang diterangkan dalam ayat selanjutnya.

(قوله وَإِنْ تُبْتُمْ الى قوله وَرَسُولِهِ) ayat ini mengandung ancaman bagi mereka yang masih melakukan riba setelah ayat tentang larangan riba diturunkan. Setiap orang yang mengetahui keharaman riba dan masih mempraktikkannya berarti telah menghalalkan dirinya berperang dengan Allah Swt dan Rasulnya, meskipun dia meyakini tentang keharaman riba. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Qotadah dan Robi’ bin Anas tentang orang yang masih melakukan riba, “Sesunggunya imam harus menyuruhnya bertaubat. Apabila dia bertaubat, maka selesailah hukumnya. Apabila dia tidak bertaubat, maka imam boleh membunuhnya”. Al Hasan dan Ibnu Sirin berkata, “Demi Allah mereka orang-orang yang memakan riba. Sungguh mereka telah berperang dengan Allah dan Rasulnya. Andaikan saja terdapat di antara manusia imam yang adil, maka hendaknya dia menyuruh mereka taubat. Bila mereka taubat, maka urusan selesai dan apabila tidak mau bertaubat, maka imam tersebut harus memeranginya dengan senjata”. Dengan demikian, orang yang masih melakukan praktik riba setelah diharamkannya riba menerima tanda sebagai orang yang diperangi Allah dan Rasulnya. Dia  akan dianggap kafir, kalau ternyata masih menghalalkan riba. Selain diperangi, ia juga harus dihukum sesuai dengan kebijakan imam. Bagaimanapun, dia telah berbuat dosa berupa praktik riba, padahal dia mengetahui keharamannya.

(قوله فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا الى قوله وَلَا تُظْلَمُونَ) ayat ini merupakan penguatan terhadap pembatalan hasil riba yang belum diterima setelah turunnya ayat riba. Setiap perjanjian riba yang telah dilakukan sebelum ayat riba diturunkan secara otomatis menjadi batal secara keseluruhannya setelah ayat tersebut turun. Sehingga, dalam perjanjian piutang atau sejenisnya dengan menghasilkan riba, yang boleh diambil kembali adalh harta pokok tanpa adanya tambahan dan pengurangan. Diriwayatkan dari Sulaiman bin Ahwas dari ayahnya, dia berkata bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah sesungguhnya semua riba masa jahiliyah telah dihapuskan, maka bagian kalian adalah harta pokok kalian semua, kalian tidaklah menganiaya dan tidaklah teraniaya.” (Ibnu Katsir [1]: 716-717, Ahkamul Quran lil Jasshos [3]: 187-193)

Kandungan Hikmah

Dalam ayat ini terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik oleh setiap Muslim, di antaranya adalah:

  1. Apabila kita tidak segera melaksanakan dan mematuhi aturan Tuhan yang menyebabkan murka-Nya, maka kita benar-benar telah menyerukan perang kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Padahal tidaklah mungkin seorang yang berperang melawan Allah dan Rasulnya bisa menang. Adapun yang ada hanyalah kesengsaraan bagi mereka.
  2. Dalam ayat ini, Allah Swt memberitahukan kepada seluruh umatnya bahwa orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang taat dan menjalankan perintah Allah dengan meninggalkan riba setelah mereka mengetahui bahwa hal itu dilarang. Allah juga memberitahukan bahwa orang yang tidak mematuhi aturan syariat dan tetap melanggarnya meskipun mengetahuai larangan tersebut, akan menerima ancaman berupa siksaaan yang pedih.
  3. Hukum syariat harus terus berjalan seiring berjalannya waktu. Apapun yang dilakukan sebelum hukum syariat diberlakukan, penetapan dosa dikembalikan sepenuhnya kepada Allah Swt, bukan kepada aturan yang telah ditetapkan tersebut.
  4. Dalam ayat ini Allah, Swt menjelaskan tentang wajibnya meninggalkan riba, meskipun perjanjian sudah sempurna dan disepakati antara kedua belah pihak.
  5. Tidak diperbolehkannya melestarikan perjanjian yang diharamkan dalam Islam. Ketika perjanjian itu dilakukan sebelum adanya hukum, ternyata kemudian Islam menetapkannya sebagai hal yang diharamkan, maka perjanjian tersebut secara otomatis batal dan tidak boleh dilanjutkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Saw yang membatalkan perjanjian al Abbas bin Abdul Mutholib dan Kholis bin Walid.

Masih banyak lagi kandungan hikmah dalam ayat ini, termasuk hukum bunga bank sebagaimana diuraikan secara detail dalam kajian ilmu fikih. Wallahu A’lam. (Tafsir At Tarbawi li Anwar al Baz [1]: 140-141, Fi Dzilalil Quran [1]: 312)

[Ahmad Farikhin]

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Meninggalkan Riba atau Memerangi Allah dan Rasul-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *