Mengunduh Pelajaran Dakwah dari Nabi

Thursday, January 7th 2021. | Dakwah, Khazanah, Uncategorized

Setelah melakukan dakwah secara rahasia selama tiga tahun, yang berhasil mengajak beberapa orang pria, wanita dan anak-anak penduduk Kota Mekah masuk Islam, turun perintah kepada Rasulullah Saw untuk berdakwah secara terang-terangan. Maka berangkatlah beliau ke atas Bukit Shafa dan menyeru kepada siapapun yang mendengarnya. Perintah tersebut diikuti pula dengan perintah lain untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabat terdekat beliau sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hijr ayat 89.

Dalam pemikiran kita yang awam, barangkali perintah lanjutan untuk berdakwah kepada kerabat terdekat itu sebenarnya tidak perlu disebutkan. Karena, perintah Allah swt dalam Al-Hijr 94 bersifat umum dan karenanya mencakup keluarga dan kerabat terdekat. Lalu, apa sesungguhnya makna di balik perintah dakwah yang dikhususkan kepada kerabat itu? Berikut ini ulasannya.

Tanggung Jawab Insani

Menurut Dr. Said Muhammad Ramadhan Al-Buthi, perintah Allah swt untuk berdakwah secara khusus kepada kerabat terdekat Rasulullah Saw merupakan sebuah isyarat tentang tanggung jawab yang dibebankan kepada setiap Muslim pada umumnya dan para dai secara khusus.

Ada tiga tingkat tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim berdasarkan kemampuannya. Pertama, tanggung jawab kepada diri sendiri. Kedua, tanggung jawab kepada keluarga. Ketiga, tanggung jawab kepada masyarakat.

Tingkatan yang pertama diibaratkan dengan peristiwa permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah Saw. Ada rentang waktu yang cukup panjang bagi Rasulullah Saw sampai beliau cukup mantap dan sadar sepenuhnya tentang kenabian dan tugas berat yang hendak diemban. Setiap Muslim, sebelum menjadi dai, terlebih dahulu harus menyadari keislamannya. Ia harus mantap dan yakin akan kebenaran ajaran yang dianutnya. Ia harus sanggup menerima prinsip, sistem dan hukum yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw yang akan disampaikan kepada orang lain.

Tingkatan berikutnya ialah tanggung jawab seorang Muslim terhadap keluarga dan kerabat dekatnya. Allah swt secara khusus memberikan perintah kepada Rasulullah Saw untuk berdakwah kepada kerabat dekat beliau. Perintah itu adalah wujud penegasan, bahwa setiap Muslim wajib hukumnya berdakwah kepada kerabat dekatnya. Umat manusia, Anda tahu, pada dasarnya bersaudara. Kita semua berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Nabi Adam as. Jadi, jika setiap Muslim berdakwah kepada kerabat dekatnya masing-masing, maka pada akhirnya agama Islam akan sampai kepada semua umat manusia.

Tingkatan yang ketiga ialah tanggung jawab seorang alim terhadap masyarakatnya. Termasuk dalam hal ini yaitu tanggung jawab seorang pemimpin kepada rakyatnya. Keduanya, baik ulama maupun umara, bertanggung jawab menggantikan Rasulullah Saw untuk menyebarkan kebaikan Islam kepada umat manusia yang berada dalam tanggungannya.

Itulah kemudian mengapa seorang pemimpin diharuskan memiliki ilmu yang tinggi. Karena bagaimanapun juga seorang ulama dan umara mengemban tanggung jawab yang sama sebagaimana tanggung jawab yang diemban oleh Rasulullah Saw. Perbedaannya, beliau menyampaikan ajaran yang baru pada masanya, sedangkan mereka menyampaikan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw.

Ketiga tingkatan tanggung jawab itu bisa diringkas seperti ini: sebagai seorang mukallaf (orang yang berakal sehat) kita memiliki tanggung jawab kepada diri kita sendiri untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Sebagai anggota keluarga kita bertanggung jawab atas keyakinan dan keimanan keluarga kita. Adapun sebagai anggota masyarakat kita juga bertanggung jawab atas orang-orang yang hidup bersama kita.

Landasan Akal Sehat

Perintah kepada Rasulullah Saw untuk berdakwah kepada kerabat terdekat, segera beliau tindaklanjuti dengan cara mengumpulkan mereka dan memberi peringatan tentang siksa neraka. Hasilnya, kebanyakan dari mereka menolak mentah-mentah peringatan tersebut. Bukan tidak percaya kepada Rasulullah Saw, tapi karena mereka tidak bisa meninggalkan kepercayaan leluhur yang sudah menjadi tradisi dan adat-istiadat yang telah mengakar pada diri mereka.

Berbagai upaya dilakukan oleh Rasulullah Saw untuk mengikis keyakinan itu. Beliau berdialog dengan mereka, mengajak untuk membuka pikiran dan merenungkan kembali bahwa sesembahan mereka itu tidak lain hanyalah benda-benda mati yang tidak akan bisa memberi manfaat atau membawa mudarat bagi mereka.

Ajakan Rasulullah Saw tersebut mereka artikan sebagai celaan dan hinaan yang serendah-rendahnya kepada sesembahan mereka. Dan, mulai saat itu mereka semua bersatu untuk memusuhi Rasulullah Saw dan melakukan tindakan-tindakan yang tak kurang keji-nya demi menghentikan dakwah beliau.

Meskipun demikian, Rasulullah Saw tidak patah arang. Beliau begitu bersungguh-sungguh agar kaum kerabatnya bisa terlepas dari belenggu taklid buta dan fanatisme terhadap tradisi yang terang-terangan mengkhianati logika dan akal budi. Hal itu menjadi dalil bahwa Islam –termasuk di dalamnya persoalan iman dan hukum– bertumpu sepenuhnya di atas landasan akal dan logika.

Begitulah bangunan Islam didirikan. Keimanan kepada Allah swt dan hukum-hukum yang dibebankan kepada umat manusia harus didasarkan kepada asas keyakinan dan pemikiran yang bebas dari pengaruh adat kebiasaan dan tradisi masa lalu. Islam bukanlah agama tradisi. Bukan pula agama warisan.

 Islam datang, pada mulanya, untuk memerangi tradisi jahiliyah dan melarang setiap pemeluknya untuk masuk dalam jeratnya. Karena prinsip dan hukum Islam didasarkan pada akal dan logika yang sehat, sedangkan tradisi didasarkan pada dorongan ingin mengikuti semata tanpa ada unsur seleksi dan pemikiran yang mendalam.

Islam dan tradisi adalah dua hal yang harus dipisahkan. Segala hal yang berkaitan dengan akidah maupun hukum Islam tidak boleh kita yakini sebagai tradisi. Karena tradisi bisa diturunkan kepada anak cucu sedangkan Islam tidak demikian. Akidah harus dilandaskan pada akal dan logika, sedangkan hukum dilandaskan pada asas kemaslahatan duniawi maupun ukhrawi. Dan kemaslahatan tersebut hanya bisa dimengerti melalui pemikiran dan permenungan yang dalam, sekalipun karena sebab-sebab tertentu kemaslahatan tersebut tidak bisa dinalar dengan logika. Wallahu a’lam

Comments

comments

tags: , ,

Related For Mengunduh Pelajaran Dakwah dari Nabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *