Mengenal Janji Bahagia dan Ancaman Allah SWT

Wednesday, April 25th 2018. | Uncategorized

وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلَّا كَافَّۃً لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)

Tabsyir dan tandzir sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas merupakan cara mengajak masyarakat sesuai dengan fitrah, naluri, dan sifatnya. Sehingga tidak mengherankan jika konsep itu seringkali disebutkan dalam kitab suci. Bahkan, Baginda Nabi kerap disebut sebagai al Basyir (pemberi kabar gembira) dan al Nadzir (orang yang menakut-nakuti). Seorang dai bisa memakai dua cara tersebut guna menarik simpati masyarakat dalam upaya menuju jalan yang benar.

Berita tentang akhirat, baik nikmat surga ataupun siksa neraka, akan membentuk sikap dan persepsi manusia. Sesuai dengan fitrahnya, manusia lebih suka hal-hal yang menjamin kebahagiaan dan masa depan mereka. Sebaliknya, dahi mereka akan mengerut bila mendengar ancaman-ancaman. Kaki mereka akan terasa kaku untuk melangkah pada kemaksiatan saat mereka tahu dashyatnya siksa neraka. Dalam sanubari, mereka selalu berharap untuk tidak berjumpa dengan kesengsaraan dan bencana yang pernah disebutkan dalam al Quran, hadits, serta cerita para ulama.

Al Quran memberi banyak janji terhadap manusia. Janji-janji yang baik akan ditujukan kepada orang-orang beriman dan gemar beramal shalih. Sedangkan ancaman ditujukan kepada orang-orang yang lalai, yang gemar berbuat kemaksiatan atau kekufuran. Keduanya disebutkan dalam al Quran sebagai motivasi bagi manusia untuk mewujudkan tujuan mereka diciptakan di muka bumi. Meski berdasarkan dorongan mendapat pahala, namun hal demikian dibenarkan. Ada beberapa tipe manusia dalam beramal: mencari ridla Allah, berharap masuk surga dan terhindar dari neraka, dan berburu pujian manusia. Dari ketiganya hanya terakhirlah yang tidak diperbolehkan.

 

Janji Allah dalam al Quran

Allah Swt. berfirman:

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang sangat bagus di surga ‘adn. Dan keridlaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar. (Q.S. Al Taubah: 72)

Pada ayat di atas, Allah menggunakan lafadz wa’ada dengan shighat madli (kata kerja zaman lampau). Dalam kitab tafsir dijelaskan bahwa penggunaan tersebut adalah untuk mengingatkan nyatanya janji-janji yang telah disebutkan. Allah sangat berharap dengan janji tersebut hati hamba-Nya selalu terisi keinginan-keinginan melakukan perbuatan baik.

Dalam ayat di atas Allah memberi tiga janji bahagia bagi orang-orang yang beriman kepadanya:

  1. Surga yang indah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang jernih.
  2. Tempat yang sangat baik nan mega di surga ‘Adn. Tempat ini adalah istana di surga, tidak akan ditemukan kotoran sedikitpun di sana.
  3. Ridla Allah Swt. yang sangat agung. Ini adalah puncak dari janji tersebut. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ridla-Nya mengalahkan semua kenikmatan yang pernah Dia janjikan. Hal inilah yang menjadi muara segala kebaikan yang muncul dalam diri orang mukmin.

 

Ancaman neraka

Allah Swt. berfirman:

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah itu bagi mereka ; dan Allah melaknati mereka ; dan bagi mereka adzab yang kekal. (Q.S. Al Taubat: 68)

Dalam ayat di atas Allah juga mengancam orang-orang munafik dan orang kafir dengan tiga ancaman:

  1. Neraka Jahanam. Sebenarnya dengan ancaman dimasukan neraka sudah cukup untuk menghentikan langkah manusia untuk berbuat maksiat. Neraka adalah tempat yang sangat menakutkan. Dengan menyebutnya saja sudah membuat orang-orang bergetar hatinya.
  2. Mendapat laknat dari-Nya. Sebagaimana ridla-Nya yang menjadi idaman orang mukmin, maka laknat-Nya menjadi hal yang sangat menakutkan bagi mukminin.
  3. Siksaan yang kekal selama-lamanya, yang akan menambah derita para pelaku dosa tersebut.

Meski demikian, seorang dai akan tetap menjumpai orang-orang yang lebih memilih kesenangan sesaat daripada kesenangan kelak di akhirat. Ibaratnya, mereka lebih memilih telur hari ini dari pada ayam esok hari. Padahal, kehidupan dunia dan akhirat sangatlah dekat ibarat hari ini dengan hari esok. Jika hari ini kita masih berdiri di atas tanah, maka tanpa terasa esok akan terkubur di bawahnya. Tanpa terasa manusia akan berada pada waktu di mana bumi digoncangkan, kiamat datang, dan janji-janji akhirat yang pernah didengar benar-benar terjadi. Nabi mengibaratkan interval waktu antara diutusnya beliau dengan hari kiamat bak dua jari-jari beliau: jari tengah dan telunjuk yang direnggangkan. Begitu dekat. Sehingga, tidak benar bila sebagian orang berkata bahwa datangnya kiamat masih lama. “Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).(Q.S. Al-Ma’aarij: 6-7)

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Mengenal Janji Bahagia dan Ancaman Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *