Mengakhiri Permusuhan dengan Persahabatan

Tuesday, September 22nd 2015. | Pojok Pesantren

download

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Setiap bertemu dua pihak secara bersama-sama, yaitu antara Gubernur Sulawesi Utara, Dr. Sinyo Hari Sarundayang pada satu pihak dan Ustadz Umar Tholib dan atau Dr. Muhammad Tamimy pada pihak lain, kesan saya bahwa, pertemuan itu sedemikian indah. Kedua belah pihak sama-sama menjalin persaudaraan yang sedemkikian erat, padahal perlu diketahui di antara mereka pernah berseteru dan bahkan bermusuhan.

Pada saat terjadi kerusuhan di Ambon, belasan tahun yang lalu, Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Dr. Muhammad Tamimy menjadi panglima di pihak muslim. Sementara itu, Dr. Sinyo Hari Sarundayang ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai pejabat gubernur, dan dalam hal itu, ia adalah seorang Kristen. Itulah sebabnya di antara kedua belah pihak adalah berposisi berhadap-hadapan, antara sebagai tokoh muslim dan tokoh Nasrani.

Pernyataan sebagai musuh, bukannya ditutup-tutupi, melainkan justru seringkali dinyatakan secara terang-terangan. Menurut penuturan Ustadz Mohammad Tamimy sendiri, ia pernah membakar semangat massa agar segera mengusir Sinyo Hari Sarundayang sebagai tokoh Kristen, keluar dari wilayah Ambon. Namun demikian, setelah melalui negosiasi, pendekatan, dan penjelasan yang sudah barang tentu tidak sederhana, antara kedua belah pihak yang saling bermusuhan itu berubah, dan menjadi saling bertemu. Sebaliknya kini, menjadi bersahabat.

Beberapa kali saya mendengar dan bahkan menyakasikan sendiri, betapa dekatnya hubungan antara kedua tokoh itu pasca permusuhan tersebut. Ketika Dr. Sinyo Hari Sarundayang mencalonkan diri sebagai gubernur Sulawesi Utara, Ustdaz Tamimy diminta menjadi salah satu jurkamnya. Demikian pula, ketika acara pelantikan setelah memenangkan pemilihan, kedua tokoh komando jihad di Maluku tersebut diundang dan hadir. Anehnya, setiap mendatangi acara yang diselenggarakan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Ustadz Ja’far Umar Thalib selalu mengenakan pakaian khas, berjubah putih lengkap dengan surbannya.

Hubungan persahabatan di antara keduanya juga berlangsung hingga sekarang ini. Setahun yang lalu, ketika Dr. Sinyo Hari Sarundayang menyelenggarakan peringatan ulang tahun pernikahannya, Ustadz Ja’far Umar Thalib juga hadir. Demikian pula, pada hari Jumat tanggal 16 Januari 2015, dalam acara memperingati ulang tahun Gubernur yang ke 70 tahun, Ustadz Tamimy juga diundang dan hadir. Hal yang menarik, kedua tokoh yang sebelumnya bermusuhan itu tidak saja sekedar hadir, tetapi juga diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Dalam sambutan itu, baik Gubernur maupun Ustadz Muhammad Tamimy selalu mengungkapkan pengalaman masa lalu tatkala masih bermusuhan, dan memberikan joke-joke segar, saling meledek, untuk menunjukkan keakrabannya.

Menurut hemat saya, apa yang dilakukan oleh kedua tokoh tersebut adalah bukan hal biasa. Tokoh yang pernah berseteru dan apalagi bermusuhan hingga menelan korban jiwa sedemikian banyak, sangat mungkin menyisakan rasa dendam, tetapi ternyata tidak begitu. Apa yang ditampakkan oleh para tokoh tersebut juga berhasil diikuti oleh pengikutya masing-masing. Ketika Ustdaz Ja’far Umar Thalib dan Ustadz Muhammad Tamimy datang dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Gubernur Sulawesi Utara, semua yang hadir tampak sangat menghormati dan memberikan apresiasi yang tinggi.

Umpama saja hal yang demikian itu juga ditampakkan oleh semua pemimpin di negeri ini, dan juga masyarakat pada umumnya, maka kehidupan bangsa ini akan menjadi sangat indah. Di antara para pemimpin dan tokoh bangsa tidak menunjukkan ada rasa sakit hati atau dendam yang terus menerus dipelihara. Mereka menyadari bahwa hal demikian itu hanya akan mengakibatkan permusuhan yang berkelanjutan. Kesalahan yang terjadi pada waktu yang lalu dan sudah lama seharusnya dilupakan dan kemudian dibangun kehidupan baru yang lebih baik.

Mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah terjadi, dan apalagi kejadian itu sudah berlangsung lama, maka sebenarnya hanya akan membuahkan permusuhan baru yang akan berdampak panjang. Kedamaian hanya akan terjadi jika masing-masing pihak memiliki kesediaan untuk saling memaafkan. Sebaliknya, membuang jauh-jauh semangat permusuhan dan dendam, betapa itu beratnya. Hal yang demikian indah itu ternyata sudah dicontohkan oleh para tokoh yang disebut pada tulisan ini. Semoga menjadi tauladan bagi bangsa ini secara keseluruhan. Wallahu a’lam.

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Mengakhiri Permusuhan dengan Persahabatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *