Meneliti Benda Langit dari Mushallatorium An-Najm

Thursday, April 26th 2018. | Dunia Islam

 

Di Indonesia ada beberapa planetarium yang biasa digunakan sebagai tempat eduwisata para pelajar, santri dan mahasiswa. Diantaranya planetarium yang ada di Jakarta, Kutai, Yogyakarta dan Surabaya. Apa itu planetarium? Planetarium adalah sebuah ruangan yang dapat menyajikan pertunjukan/peragaan simulasi perbintangan atau benda-benda langit. Pengunjung diajak mengembara di jagat raya untuk memahami konsepsi tentang alam semesta melalui acara demi acara. Di Indonesia planetarium tertua berada Jakarta yang berdiri pada tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969.

Tapi bagaimana jika planetariumnya berupa mushola? Tentu ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Mushola yang biasanya digunakan sebagai tempat beribadah umat islam didesain sehingga bisa berfungsi sebagai planetarium. Di Lembang, Bandung Barat, kini terdapat mushola tersebut.

Masjid planetarium An-Najm atau Musholatorium terletak di kawasan Imah Noong, Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Musholatorium diresmikan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin pada 5 November 2017.

Bangunan musholatorium ini didesain dengan kubah berdiameter 6 meter. Bangunannya berbentuk model geodesic dome dengan pondasi berbentuk segi 10. Mushola kecil ini mampu menampung sekitar empat puluh jamaah. Planetarium ini merupakan yang pertama, dan satu-satunya di Indonesia. Lama waktu yang digunakan untuk merintisnya kurang lebih selama tiga tahun. Oleh pemiliknya, Hendro Setyanto (43), bangunan itu dinamakan musholatorium dengan nama lengkap Masjid Kubah Bentang An-Najm.

Hendro Setyanto mengatakan bahwa ide pembangunan planetarium dimaksudkan agar jamaah bisa mendapat nilai lebih yaitu selain untuk kegiatan ibadah salat lima waktu juga bisa digunakan untuk melihat benda langit dengan peralatan canggih. Karena bisa jadi manusia bisa lebih tersadar dengan keagungan sang Maha Pencipta setelah melihat kebesaran alam semesta.

Diakui Hendro, pembangunan musholatorium ini menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Dana itu sendiri bukan berasal dari dana pribadi melainkan dari sejumlah donatur. Termasuk diantaranya bantuan dari Kementrian Agama Provinsi Jabar dan para arsitek Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Kenapa musholatorium? karena konsep awalnya adalah mushalla atau masjid. Kalau mau membangun masjid kan biasanya mudah dapat sumbangan. Kemudian mau dinamakan masjidtorium, kok terdengar enggak enak,” kata Hendro.

Sebagai ahli astronomi yang menggagas komunitas Imah Noong untuk mewadahi para astronom amatir, Hendro mengisahkan, ide pendirian musholatorium bermula ketika para peneliti dari Badan Hisab-Rukyat Jawa Barat berkunjung ke Imah Noong di rumahnya. Para peneliti itu menanyakan keberadaan masjid terdekat kepada Hendro.

“Karena lokasinya terbatas, saya harus bikin konsep yang berbeda. Akhirnya, lahirlah konsep masjid planetarium. Saya menggagas konsep itu, dibantu oleh teman-teman dari arsitek Institut Teknologi Bandung untuk perencanaan desainnya. Khusus model kubahnya memang dari saya, biar enggak sama seperti masjid pada umumnya,” ucapnya.

Melengkapi Observatorium

Kehadiran musholatorium di Imah Noong itu melengkapi dua observatorium sederhana yang dibuat Hendro pada beberapa tahun lalu. Di Jabar, dia meyakini bahwa musholatorium itu adalah planetarium yang pertama. Soalnya, planetarium di Indonesia hanya ada lima tempat, yakni dua di Jakarta, lalu di Yogyakarta, Surabaya, dan Tenggarong.

“Dibandingkan planetarium lain, ini yang paling murah dan paling kecil. Diameternya hanya 6 meter, tapi cukup untuk menampung 40 orang. Sejak Ramadan kemarin, musolatorium ini juga sudah dipakai untuk solat berjamaah. Ada tempat khusus buat imam, jadi bentuknya enggak persis setengah lingkaran,” tutur lulusan pria yang meraih gelar sarjana dan master astronomi dari ITB itu.

Menurut dia, yang membuat mahal pembuatan planetarium ialah pembangunan kubah dan penggunaan proyektornya. Proyektor buat musholatorium dipesan khusus dari Jepang, dengan lensa dari Rusia. “Awalnya saya ingin bikin proyektor sendiri, tapi beberapa kali uji coba itu gagal terus,” akunya.

Sebelum diresmikan pada 5 November 2017, Hendro menyatakan bahwa uji coba penayangan film astronomi sudah dilakukan sampai 10 kali dalam sepekan terakhir ini. Uji coba penayangan film itu melibatkan anak-anak di sekitar Kampung Areng serta para pegiat astronomi. Dari uji coba musholatorium itu, dia mengakui masih diperlukan sejumlah penyempurnaan.

“Masukannya itu terutama dari sisi konten, karena film yang dipakai menggunakan bahasa Inggris. Kami lagi mempertimbangkan untuk di-dubbing dan sudah ada yang membantu buat jadi dubber-nya. Kemudian, di dalam itu ternyata gerah kalau ada banyak orang, padahal sudah ada ventilasinya. Jadi, perlu ada penghisap (blower) buat solusinya. Kalau malam sih enggak terasa gerah, karena di sini kan dingin,” tuturnya.

Butuh film khusus

Film yang diputar di planetarium, terang dia, juga tidak mudah diperoleh, karena diperlukan film khusus buat diputar pada media yang berbentuk kubah. Sementara ini, Hendro baru memiliki 7 film untuk diputar, di antaranya ialah 3 film panjang berdurasi lebih dari 20 menit. Walaupun film-film itu dia peroleh dengan mengunduh secara gratis, prosesnya tidak dilakukan dengan mudah.

“Nggak sembarangan film bisa diputar di planetarium. Namun, kalau dulu planetarium dimanfaatkan untuk memutar film khusus bertema astronomi, maka seiring dengan perkembangan media digital sekarang ini film dengan tema lainnya, seperti pendidikan atau biologi, juga bisa diputar di planetarium,” ucapnya.

Ke depan, dia berharap, konsep musolatorium dapat digunakan di sekolah-sekolah, sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di sekolah. Selain bisa untuk mushola atau masjid, musolatorium juga dapat digunakan sebagai medium peraga pendidikan bagi anak-anak sekolah.

“Kalau musolatorium yang ada di sini, mudah-mudahan kehadirannya ini bisa menjadi daya tarik eduwisata di Kampung Areng, yang tujuan akhirnya adalah untuk pemberdayaan masyarakat sekitar,” tutur pria yang yang aktif di Lembaga Falakiyah PBNU tersebut.

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Meneliti Benda Langit dari Mushallatorium An-Najm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *