Mendidik Anak Sesuai Anjuran Rasulullah

Thursday, March 23rd 2017. | Hadist

Mendidik Anak Sesuai Anjuran Rasulullah

Kita sering melihat anak-anak melakukan hal yang tidak baik, sikap tidak terpuji, atau menyelisihi sopan-santun. Mungkin itu sebenarnya bukan hanya kesalahan dari pribadi sang anak. Karena pada dasarnya, anak dibentuk oleh lingkungan dan keluarga. Jadi orang tua memegang peranan penting dalam ‘baik-buruknya’ anak.

Nah, jika anda orang tua hendaknya mendidik anak sesuai dengan perintah dari Rasulullah SAW. Dan di bawah ini, ada beberapa cara yang digunakan Rasulullah mendidik anak. Selamat menikmati!

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”

Al-Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”
Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa Keburukan

Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.” Orang tua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisa bermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.
Jangan Mencela Anak

Anas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, “Mengapa engkau lakukan itu?” dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?”. Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.”

Al-Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”
Mengajari Azan dan Shalat

Abu Mahdzurah bercerita, “Aku bersama 10 orang remaja berangkat bersama Rasulullah dan rombongan. Pada saat itu, Rasulullah adalah orang paling kami benci. Mereka kemudian menyerukan azan dan kami yang 10 orang remaja ikut pula menyerukan azan dengan maksud mengolok-ngolok mereka. Rasulullah bersabda, ‘Bawa kemari 10 orang remaja itu!” Beliau memerintahkan, “Azanlah kalian!” Kami pun menyerukan azan. Rasulullah bersabda, “Alangkah baiknya suara anak remaja yang baru kudengar suaranya ini.”

“Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.” Beliau bersabda demikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan dan bersabda kepadanya, “Tentu engkau sudah hafal bukan?” Abu Mahdzurah tidak mencukur rambutnya karena Rasulullah waktu itu mengusapnya.

Mengenai shalat, Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian shalat sejak usia 7 tahun dan pukullah ia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.” Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari aku pernah masuk ke tempat Rasulullah dan yang ada hanyalah beliau, aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Rasulullah menemui kami lalu bersabda, ‘Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?’ Kala itu bukan waktu shalat. Maka salah seorang berkata, “Bagaimana Anas di posisikan di dekat beliau?” Beliau menempatkanku di kanan beliau lalu beliau shalat bersama kami…”

Tanpa cangung, Rasulullah mengajak anak shalat berjamaah pada anak-anak kecil. Serta menjadikan anak yang benci kepadanya menjadi muadzin bagi penduduk makkah. Sungguh budi pekerti yang luar biasa. Semoga kita bisa meneladaninya.

Disarikan dari kitab “Athfal al-Muslimin Kaifa Rabaahumun Nabiyy al-Amin SAW” karya Syaikh Jamal Abdurrahman.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Mendidik Anak Sesuai Anjuran Rasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *