Mendampingi Remaja

Saturday, April 7th 2018. | Keluarga

Akihr-akhir ini kita sering dikagetkan dengan beberapa kasus kenakalan remaja. Sering kali kita melihat atau membaca bagaimana narkoba menjadi menu yang sulit ditinggal oleh remaja-remaja saat ini. Juga masih hangat di telinga kita beberapa kasus seks pranikah yang menimpa beberapa pelajar di beberapa daerah di indonesia. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan perilaku mereka itu hanya sekedar mendapatkan sebuah kebanggaan.

Masih banyak kasus lain yang mencerminkan kenakalan dan kebejatan moral para remaja kita. Suatu fenomena yang membuat orang tua miris dan malu bila remaja-remaja mereka terlibat. Zaman memang sudah berubah. Namun, kita sebagai orang tua tidak boleh langsung mengambil kalimat itu sebagai alasan utama dari kasus-kasus yang menimpa remaja-remaja kita saat ini. Selain lingkungan, orang tua dalam hal ini juga berperan besar dalam keberhasilan mendidik moral remaja mereka.

Mendidik anak pada zaman sekarang jauh lebih sukar daripada beberapa tahun ke belakang. Zaman sudah begitu berubah sehingga nilai-nilai kehidupan pun ikut berubah. Sebagai orang tua, hendaknya kita selalu berusaha ikut membina dan mengawasi apa yang sudah seharusnya menjadi kewajiban dan hak anak-anak kita. Pembinaan dan pengawasan tersebut harus kita lakukan secara continue (terus menerus) dari usia taman kanak-kanak sampai nantinya mereka menginjak usia remaja. Ketahuilah bahwa mendidik di usia remaja tidak semudah membalik tangan, karena pada fase ini merupakan klimaks atau penentu kemana mereka akan membawa hidupnya.

Sebagai makhluk sosial, remaja kita tidak akan lepas dari pandangan dan penilaian masyarakat, mulai dari pemikiran, tingkah laku, gaya berbusana, pergaulan dan lain sebagainya. Semuanya itu bisa membuat kita bangga sebagai orang tua atau bahkan kita akan dibuat malu, tergantung bagaimana remaja kita menjalaninya sesuai dengan porsi yang terarah, sehingga akhirnya mereka diterima di masyarakat.

Lalu bagaimana pembinaan dan pengawasan yang bisa kita terapkan agar anak-anak kita dapat berinteraksi dengan zamannya yang semuanya berjalan berdasarkan perencanaan dan norma-norma yang digariskan masyarakat? Bagaimana juga kita mencetak manusia terdidik dan siap pakai? Banyak metode yang dikemukakan para ahli yang mengupas tentang hal itu, dan banyak juga dijual buku-buku dengan tema tersebut yang bisa kita manfaatkan. Namun, ada beberapa hal yang mungkin perlu mendapatkan pendekatan dan pengawasan secara lebih, antara lain:

  1. Prestasi belajar

Kita menghendaki dan menuntut bahwa anak-anak kita bisa belajar dengan tekun, serta berprestasi sebaik mungkin. Hal ini hanya dapat dicapai jika kita mencurahkan perhatian terhadap sekolah. Janganlah orang tua hanya datang ke sekolah, jika mereka merasa kepentingannya terancam. Kebiasaan belajar yang baik, disiplin diri, harus sedini mungkin kita tanamkan, karena secara mutlak, kedua hal ini harus dimiliki oleh anak-anak kita. Kebutuha untuk berprestasi tinggi harus selekas mungkin kita tanamkan pada mereka dengan cara menghadirkan mereka pada standard of excellence(standar belajar yang lebih baik), karena hanya dengan berprestasi tinggi, kita dapat mengembangkan jiwa dan sikap entrepreneur (kepribadian yang mau bekerja keras dan berani menghadapi kesulitan).

Khusus mengingat keadaan pendidikan di negara kita sekarang, bantuan kita sebagai orang tua sangat diperlukan oleh sekolah dan anak-anak kita. Perlu diingat, bahwa di masa remaja, gejala-gejala kemunduran dalam prestasi belajar akan nampak. Hal ini tidak boleh dan tidak dapat kita biarkan. Dalam hal ini janganlah kita cepat-cepat melemparkan kesalahan pada sekolah atau anak. Sebaiknya kita mengambil waktu untuk menyelidiki kemungkinan akan sebab-sebab kemunduran atau kegagalan anak kita.

Yang kita butuhkan pada anak dalam keadaan seperti ini adalah pengertian dan waktu dari pihak kita serta pujian, bila ia menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh, sekalipun ia tidak berhasil. Pujian dalam keadaan seperti ini akan menjadi vitamin yang harus  kita berikan. Janganlah kita menambah frustasi anak, karena hal ini hanya akan memberatkan persoalannya. Jika ternyata bahwa kegagalan anak disebabkan oleh kemalasan atau oleh karena ia tidak mau belajar meskipun ia mampu, maka perlu kita ambil tindakan tegas.

  1. Sex education.

Dalam periode ini anak-anak kita, remaja kita, sudah memerlukan pendidikan seks. Dan siapa yang paling tepat untuk memberikan pendidikan ini jika bukan orang tua sendiri? Pandangan tentang seks dan tingkah laku para remaja kita dalam bidang ini sangat tergantung pada cara bagaimana kita membesarkan mereka, pada pendidikan agama yang mereka peroleh dan pada norma-norma hidup yang diakui dan diatasi oleh orang-orang yang merupakan teman-teman bergau.

Pendidikan seks yang dimaksud di sini adalah pendidikan yang berhubungan dengan perubahan fisik dan biologis yang dialami anak dalam periode ini. Perubahan-perubahan baik fisik maupun yang bersifat organis dan psikis membangkitkan pada anak kita perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang penuh tanda tanya. Karena dalam problema ini mereka memerlukan bantuan. Kita memberikan pengertian kepada mereka bahwa mereka harus dapat menerima, memelihara dan menghormati keadaan tubuh mereka, dan perubahan-perubahan ini akan menyebabkan adanya sex impulses (suatu dorongan dari dalam) yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Orang tua bisa mengemukakan secara rahasia bahwa mereka mengakui adanya sex impulses itu. Akan tetapi, mereka harus menasehat anak untuk beajar menguasai diri. Karena kematangan seksual ini tidak bersamaan munculnya dengan kemampuan ekonomis anak dan kesiapan untuk menerima tugas sebagai orang tua. Sekalipun demikian, anak harus dapat mengendalikan diri, karena masyarakat dan kebudayaan kita mengharapkan hal itu. Dan karena Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa seks adalah sesuatu yang suci, indah dan murni yang harus kita junjung tinggi.

  1. Pendidikan agama.

Agama merupakan faktor yang palig penting dalam membentengi diri remaja kita. Dalam pendidikan agama hendaknya diusahakan agar syariat atau ajaran agama tidak hanya diketahui, melainkan juga supaya benar-benar dipahami dan dihayati, sehinggan menimbulkan keinginan besar untuk hidup sesuai dengan kehendak Thuan Yang Maha Esa.

  1. Sikap positif terhadap etos kerja.

Kendatipun kita mempunyai beberapa pembantu sehingga seakan-akan semua pekerjaan dalam rumah tangga telah dibereskan oleh mereka, namun anak kita perlu mengambil bagian dari rutinitas kerja keluarga. Mereka harus belajar untuk mencintai kerja. Tugas yang diberikan pada mereka sudah barang tentu harus sesuai dengan umur mereka. Misalnya, mereka harus merapikan merapikan tempat tidur mereka sendiri, mengatur kamar tamu, membersihkan sepeda dan lain-lain. Mereka harus belajar bekerja tidak atas perintah, melainkan atas kesadaran ikut bertanggung jawab akan kebersihan/kerapian rumah demi kebahagiaan seluruh keluarga.

Demikianlah kiranya beberapa hal yang mungkin sangat perlu mendapat perhatian atau pengawasan khusus dari orang tua. Dan akhirnya, jika iklim dan suasana keluarga hangat serta di dalamnya dirasakan adanya perhatian, penghargaan, kasih sayang dan waktu disediakan oleh orang tua bagi anak-anak, maka mereka akan berusaha untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai (islami) yang kita junjung tinggi.

Penulis : Ust. Sholeh

Comments

comments

Related For Mendampingi Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *