Mencintai Tanah Air: Isyarat dari QS An-Nisa: 66

Friday, June 1st 2018. | Qur'an

 

ولَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. (QS. An-Nisa: 66)

Dalam ayat ini terdapat dua perintah berat yang sengaja digunakan Allah Swt untuk menguji kekuatan iman dan keteguhan sikap taat orang-orang mukmin kepada perintah Rasulallah Saw. Menurut penafsirannya, ayat ini menyinggung dua perintah kepada Bani Israil yang hidup pada zaman nabi Musa. Perintah pertama adalah syariat nabi Musa agar mereka membunuh diri mereka sendiri sebagai syarat taubat jika memang mereka ingin benar-benar diterima taubatnya. Perintah kedua agar mereka meninggalkan tanah kelahirannya, tanah airnya, jika mereka benar-benar patuh dan ingin mengikuti nabi Musa. Dalam ayat ini, Allah Swt menyebutkan dua perintah yang sangat berat kepada Bani Israil, umat nabi Musa itu. Meninggalkan tanah air adalah perintah yang berat seperti beratnya seseorang menjatuhkan dirinya sendiri dalam bencana dan kerugian, sebab setiap manusia memiliki rasa cinta kepada tanah kelahirannya, tumpah darah, dan tanah airnya.

Mencintai tanah air atau tanah kelahiran manusia sama saja dengan mencintai diri kita masing-masing. Cinta dalam diri seseorang kepada tanah airnya, kepada tanah kelahirannya, sama seperti  cinta orang tersebut kepada dirinya sendiri. Dia akan memperjuangkan tanah airnya seperti dia memperjuangnya dirinya. Seseorang tidak akan rela mengorbankan tanah airnya dan menyerahkannya kepada penjajah seperti dia menolak untuk menjatuhkan dirinya dalam bahaya dan bencana. Mungkin itulah mengapa Allah Swt menyebutkan dua perintah berat secara bersamaan tersebut di dalam ayat di atas sebagai ukuran keimanan para sahabat Rasulallah Saw.

Perasaan cinta tanah air yang melekat dalam diri setiap manusia juga ditegaskan oleh Musthafa Al-Ghalayeniy dalam kitabnya “Idhatun Nasyi`in”. Beliau menyatakan bahwa orang yang tidak punya cinta dalam hatinya kepada tanah kelahiran dan tumpah darahnya adalah orang yang pendusta. Mereka yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya adalah orang-orang yang teraniaya dan pantas mendapatkan perhatian dari penduduk setempat. Sejalan dengan kenyataan ini, Allah Swt berfirman tentang kelompok Muhajirin dan kelompok Anshar di dalam Al-Quran:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (al-Hasyr: 9)

Terdapat dua kelompok sahabat Rasulallah Saw dalam ayat ini, yaitu kelompok Muhajirin dan kelompok Anshar. Kelompok Anshar adalah para sahabat Rasulallah Saw yang tanah kelahirannya adalah kota Madinah dan teah menetap disana, sedangkan tanah kelahiran kelompok Muhajirin umumnya adalah kota Makkah. Rasulallah Saw sendiri termasuk dalam kelompok Muhajirin.

Digambarkan dalam ayat ini betapa rasa cinta kelompok Anshar kepada kalompok Muhajirin. Terdapat tiga sikap teladan yang diberikan oleh kelompok Anshar kepada kita sebagaimana diabadikan Allah Swt di dalam ayat tersebut. Pertama, mereka mencintai sesame saudara seiman (kelompok Muhajirin). Kedua, mereka memberikan apa yang dibutuhkan kelompok Muhajirin.. Ketiga, mereka mendahulukan kebutuhannya sebelum kebutuhan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan kondisi mereka yang sedang membutuhkan dan lapar.

Jangan sekali-kali menganggap bahwa Rasulallah Saw dan para sahabat dari kelompok Muhajirin adalah orang-orang yang tidak mencintai tanah kelahirannya. Beliau meninggalkan kota tanah suci Makkah bukan berarti beliau membenci tanah kelahirannya dan penduduknya. Bahkan, mencintai tanah kelahiran dan tanah air dianggap sebagai salah satu bukti dan wujud yang mencerminkan keimanan seorang muslim. Sebuah riwayat hadits menunjukkan betapa besar cinta Rasulallah Saw kepada tanah kelahirannya, kota Makkah. Beliau mengungkapkannya di dalam ungkapan hati sabdanya:

عَلِمْتُ أَنَّكِ خَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ الأَرْضِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلاَ أَنَّ أَهْلَكِ أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Aku mengetahui bahwa sesungguhnya engkau (Makkah) adalah sebaik-baik tanah Allah Swt dan tanah yang paling dicintai Allah Swt. Dan seandainya pendudukmu tidak mengeluarkanku darimu niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu. (HR. Imam Ahmad)

Rasulallah Saw adalah sosok yang mencintai tanah kelahirannya, beliau mencintai Makkah bahkan melebihi cintanya kepada Madinah. Alasan hijrah beliau tidak lain adalah agar dapat kembali membawa cahaya Islam yang menerangi Makkah dan semuapenduduknya. Tujuan itu jelas terbukti pada saat peristiwa fathu Makkah (penaklukan kota Makkah). Rasulallah Saw dapat membuktikan kecintaannya itu dengan membebaskan Makkah dari berhala-berhala yang di sembah di sekitar Kakbah. Beliau kembali ke Makkah dengan membawa keberhasilan dakwah Islam selama di Madinah.

Para sahabat Muhajirin pun demikian. Mereka adalah orang-orang yang mencintai tanah kelahirannya. Mari kita lihat bagaimana sahabat Bilal bin Rabah saat dia harus meninggalkan kota Makkah dan menetap di Madinah. Beliau berkata-kata dalam rasa rindu yang mendera kepada tanah kelahirannya:

لَا شَكَّ أَنَّ سَمَاءَ مَكَّةَ أَجْمَلُ مِنْ هَذِهِ السَّمَاءِ، وَأَنَّ هَوَاءَ مَكَّةَ أَنْقَى مِنْ هَذَا الْهَوَاءِ

Tentu tak ada ragu lagi bahwa langit kota Makkah lebih indah dibandingkan langit kota ini (Madinah), dan bahwa udara kota Makkah juga lebih bersih dibandingkan dengan udara kota ini (Madinah).

Dikisahkan, rasa cinta tanah air dalam diri Bilal bin Rabah itu sering tiba-tiba muncul dan membuncah dalam kesepeiannya sewaktu di Madinah. Seringkali beliau berhayal seakan dirinya sedang tidur atau duduk di bawah pepohonan kota Makkah. Di Makkahlah beliau dilahirkan, tumbuh dewasa, dan menjadi besar, meskipun pada akhirnya kepedihan dan siksaan dari majikan juga beliau rasakan di sana, namun bagaimana pun juga Makkah adalah tanah kelahirannya yang beliau cintai.

Jika di dalam QS. Al-Hasyr: 9 di atas, Allah Swt menjelaskan kecintaan para sahabat Anshar kepada sahabat-sahabat Muhajirin, maka kiranya cinta dalam benak dan hati kaum Muhajirin saat itu adalah cinta dan rindu kepada tanah kelahirannya, Makkah. Di dalam ayat lain, QS. Al-Ahzab: 13, terdapat isyarat akan kecintaan terhadap tanah kelahiran sekaligus penjelasan bahwa cinta kepada tanah air, tanah kelahiran, yang tidak boleh melampaui batasannya. Bagaimana pun besar cinta kita kepada tanah air ini, tidak sepantasnya mengalahkan cinta kita kepada Allah Swt dan cinta kita kepada agama-Nya itu sendiri.

Allah Swt mengingatkan hal itu kepada kita dalam QS. Al-Ahzab: 13:

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (QS. Al-Ahzab: 13)

Ayat ini diturunkan Allah Swt berkaitan dengan sekelompok orang-orang mukmin yang terpengaruh oleh perkataan kelompok munafik pada saat perang Khandak (perang Ahzab). Kaum munafik ini menjadikan kecintaan para sahabat Rasulallah Saw terhadap tanah kelahirannya, tempat tinggalnya di Madinah, sebagai alasan mereka untuk meninggalkan medan perang. Mereka melakukan propaganda dengan alibi cinta tanah kelahiran, tempat tinggal mereka. Kaum munafik itu menghasut orang-orang mukmin agar mereka lari dari medan perjuangan demi kepentingan yang seolah-olah benar namun yang sesaat yaitu membela tanah kelahiran, padahal sesungguhnya kaum munafik itu tidak lain hanya ingin menjerumuskan orang-orang mukmin saja.

Mencintai tanah kelahiran dan kampung halaman merupakan dasar nasionalisme yang dipupuk oleh semua bangsa dan negara. Dengan besarnya cinta terhadap tanah kelahiran dalam jiwa seluruh rakyatnya, bangunan nasionalisme akan semakin tinggi dan semakin terbangun kuat. Seluruh muslim yang hidup dan tinggal di semua belahan dunia ini, pasti memiliki rasa cinta kepada tanah kelahirannya. Mereka akan memperjuangkan tanah kelahiran itu dari siapa pun yang berusaha menjajahnya. Bahkan cinta itu merupakan sifat yang telah melekat dalam diri semua manusia. Bagi muslim yang beriman dan cerdas, pastilah mampu menempatkan rasa cinta kepada tanah airnya itu pada tempat yang benar dan diridloi oleh Allah Swt.

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Mencintai Tanah Air: Isyarat dari QS An-Nisa: 66

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *