Mencintai Dzuriyyah Rasul

Tuesday, January 5th 2016. | Aswaja

muhammad

Seiring lemahnya kaum Muslimin memegang ajaran agama, juga pesatnya pertumbuhan benalu dalam pohon Islam, rasa cinta kepada keturunan Nabi (dzuriyyah) mulai pudar. Oleh sebagian aliran, mereka dicela dan disepelekan. Padahal prinsip Ahlussunah wal Jamaah menganjurkan untuk mencintai dan memuliakan mereka sejak dini. Diriwayatkan dari Imam Ad-Dailami, Rasulullah memerintahkan untuk mengajarkan anak-anak kita mencintai beliau, keluarga beliau, dan membaca al-Qur’an.

Rasulullah Saw. Mengingatkan kita untuk menjaga perilaku kepada keluarganya secara dlahir dan batin. Jangan sampai kita mendzalimi atau  membenci mereka. Setelah beliau berwasiat untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah, beliau lantas berkata: dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt.

Sayyidina Husain bertanya kepada sahabat Zaid,” Siapakah keluarga rasulullah wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga?” Zaid pun menjawab,” istri-istri beliau termasuk keluarga beliau, akan tetapi keluarga beliau adalah orang-orang yang menerima zakat.” Ia bertanya lagi, “Siapakah mereka?”. Zaid pun menjawab,  “Mereka adalah keluarga Sayyidina Ali, keluarga Sayyidina ‘Uqail, keluarga Sayyidina Ja’far, dan keluarga Sayyidina Abbas.” Ia bertanya, “Mereka haram menerima zakat”, Zaid menjawab, “Benar.”

 

Keutamaan Dzuriyyah Rasul

Selepas wafatnya Nabi, maka dzuriyyahnyalah yang paling mulia di muka bumi ini. Tidak ada hubungan nasab (intisab) yang lebih mulia selain kepada Rasul.  Mereka terlahir ke dunia dari darah daging yang begitu mulia.  Jika sahabat mempertemukan kulitnya dengan kulit beliau akan mendapat kemuliaan dengan jaminan masuk surga, maka bagaimanakah dengan para habib dan sayyid yang merupakan darah daging beliau sendiri?

Para mufasir menyepakati, keturunan Nabi terhubung dari putri beliau, Siti Fatimah. Dialah satu-satunya putri yang melahirkan cucu dan cicit-cicit beliau. Intisab seperti ini termasuk salah satu keistimewaan beliau, sebagaimana termaktub dalam surat al-An’am ayat 84. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Nabi Isa tetap termasuk keturunan Nabi Nuh. Nasab beliau dengan Nabi Nuh dihubungkan melalui ibu beliau, Siti Maryam, karena memang beliau lahir tanpa lantaran seorang ayah.

Nasab Rasul adalah yang paling mulia di bumi ini. Diurut ke atas, beliau adalah keturunan para pemuka agama dan para Nabi pendahulu. Adapun ke bawah, terdapat keturunan beliau yaitu para ulama’ yang menjadi tokoh besar Islam, seperti Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, dan Habib Umar bin Hafidz, dan para walisongo yang membawa Islam ke Indonesia. Nabi senantiasa menuntun mereka baik dalam mimpi maupun terjaga agar senantiasa berada di jalan kebenaran.  Merekalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah Swt.

انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا

 

Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu, hai Ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS.Al-Ahzab: 33).

Rasulullah mencontohkan mereka laksana bintang di langit yang menjadi pengaman penduduk langit. Namun demikian, mereka juga pengaman bagi penduduk bumi. Dalam syairnya Imam Syafi’i berkata, “Hai Ahli bait Rasulullah, Cinta kepada kalian adalah kewajiban dari Allah dalam al-Qur’an yang diturunkannya. Cukuplah ketinggihan derajatmu, siapa saja yang yang tidak membaca shalawat kepadamu, maka do’anya tidak akan diterima.

Kita sepatutnya memuliakan keluarga nabi sebagaimana Zaid bin Tsabit, seorang alim, hafal ribuan hadits sekaligus menjadi penulis hadits Nabi. Ketika Abdullah bin Abbas mendatanginya, ia langsung mencium tangannya. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sayyidina Ibnu Abbas yang termasuk keluarga Rasul. Makanya tidak mengherankan jika Imam Ibnu Hajar para habaib meskipun bodoh daripada orang alim ketika dalam satu majlis.

 

Ancaman Membenci Keluarga Nabi

Alangkah celaka orang yang membenci keluarga nabi. Orang yang mencintai keluarga beliau berarti harus mencintai beliau. Sebaliknya, orang yang membenci mereka berarti membenci beliau. Sebagiamana manusia pada umumnya, mereka pasti marah apabila keluarganya dihina oleh orang lain.

Suatu hari, berdiri di atas mimbar, beliau berkata, “Apa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku? Barang siapa yang menyakiti keturunanku dan mempunyai hubungan denganku, berarti dia menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku berrati dia menyakiti Allah.

Tidak selayaknya orang mengaku cinta Allah, kecuali ia juga mencintai rasul. Demikian pula, tidak selayaknya orang yang mengaku cinta pada rasul kecuali cinta juga kepada keluarganya.

قل لا اسئلكم عليه اجرا الا المودة فى القربى

Artinya: “Katakanlah aku tidak meminta kepadamu suatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”(QS. As-Syura : 23).

Said bin Jubair ditanya tentang ayat di atas. Beliau menjawab yang dimaksud keluarga adalah keluarga Rasulullah.

Maka tidak ada kata lain bagi mereka yang memerangi, mendzalimi, dan memaki-maki keluarga Nabi melainkan tempatnya di neraka. Bahkan seandainya ada orang setiap hari berhaji, mencium Hajar Aswad dan melakukan shalat di Maqam Ibrahim, setiap hari perutnya kosong untuk berpuasa, kemudian dia meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi, maka tempatnya adalah di neraka. Mereka pantas memperoleh murka Allah Swt.

 

Syi’ah, Cinta Ahli Bait

Mencintai Ahli Bait adalah di antara prinsip aqidah aliran Syi’ah. Mereka mengklaim diri sebagai golongan yang mencintai dan mengedepankan keluarga Nabi. Sebagaimana yang sudah masyhur dalam sejarah, mereka enggan ikut pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Amr bin Ash dan Mu’awiyah. Mereka hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Tholib, Sayyidina Hasan dan Husain, Ali bin Husain, Zaid bin Ali dan Ja’far as-Shodiq.

Sebelum wafat, Rasulullah telah mengabarkan kepada sayyidina Ali kemunculan golongan Rafidlah atau Syi’ah yang akan mengkultuskannya. Mereka mengaku cinta ahli bait, padahal sebenarnya tidak.

Mereka kerap memaki-maki Abu Bakar dan Umar karena dianggap merebut kekhalifahan Sayyidina Ali. Padahal ijma’ sahabat telah sepakat untuk mengutamakan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kesepakatan mereka tak mungkin salah. Bahkan Sayyidina Ali sendiri berbaiat pada pemerintahan Abu Bakar. Meskipun saat prosesi beliau tidak hadir, namun setelahnya beliau tetap berbaiat kepadanya.

Kita memang diwajibkan untuk mencintai keluarga nabi, namun rasa cinta itu tidak sampai pada taraf mengkultuskan mereka sehingga menganggap mereka sebagai Nabi. Kita juga tidak boleh terlalu mengagungkan mereka sampai-sampai mencela para sahabat lain.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits, “Barang siapa mencela salah satu sahabatku, maka dia mendapat kutukan dari Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima ibadah wajib dan ibadah sunahnya.” Ironisnya, lahir hadits-hadits palsu yang memaksa membenarkan pernyataan mereka. Mereka mengatakan bahwa selama mematuhi sayyidina Ali, mereka akan tetap masuk surga sekalipun tidak taat kepada Allah Swt. Nau’dzubillah min dzalik.

 [Muslimin Sairozi]

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Mencintai Dzuriyyah Rasul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *