Menapaktilasi Kekeramatan Padepokan Al Amin, Pasuruan

Friday, February 26th 2016. | Ziarah

Musola dan makam Kiai Amin

Menapaktilasi Kekeramatan Padepokan Al Amin, Pasuruan

 

Pada siang hari yang lumayan panas, ketika menjelang jamaah Jum’at, tim redaksi berhenti sejenak di salah satu lokasi yang cukup bersejarah di Desa Kalisangit, Krengih, Rembang, Pasuruan. Sebuah tempat padepokan dengan suasana begitu asri di daerah yang penuh dengan hamparan sawah. Meski  di tengah lingkungan persawahan,  tempat ini rupanya biasa di datangi oleh para musafir dari luar kota yang hendak bermalam atau sekedar istirahat. Sebagaimana beberapa daerah di Pasuruan, penduduk di sini mayoritas berbahasa Madura sehingga kami sedikit kebingungan ketika mendengar percakapan salah seorang penduduk yang kami jumpai.

Selain terdapat bangunan penginapan,  di sebelah utara, tepatnya di samping musola Al Amin, terdapat bangunan makam Kiai Amin, seorang tokoh terkemuka di daerah ini. Sebelah utaranya lagi berdiri sebuah pondokan untuk penginapan para peziarah. Tidak jauh di depan musola terdapat ruang keluarga untuk menyambut para tamu. Di sebelah selatan, beberapa meter dari pintu gerbang terdapat kolam pemandian yang mata airnya dipercaya sebagai air penawar. Cukup misterius memang. Kami sendiri dibuat tercengang mendengar cerita tersebut dari Akhi Muhammad Anwar, putra keluarga pendiri padepokan, saat mendampingi perjalanan kami. Kolam inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang dari berbagai daerah mengunjungi padepokan ini, meskipun harus menempuh jalanan sempit di tengah pematang sawah.

 

Airnya Keramat, Subhanallah

Berbagai pengakuan dari pengalaman banyak orang yang membuktikan betapa air di kolam ini begitu keramat. Namun sayang sekali, saat kami datang, kolam tersebut kebetulan tak ada air karena mungkin panjangnya musim kemarau. Kami pun urung merasakan mandi di kolam tersebut.

Sebagaimana yang diungkapkan KH. Muhammad Irsyad -saat kami bertamu ke rumah beliau, banyak orang yang memiliki berbagai masalah kehidupan, ketika mandi di kolam tersebut, alhamdulillah terselesaikan. Keistimewaan itu dialami langsung oleh salah seseorang saat mendengar pidato beliau mengenai air di kolam itu. Orang tersebut memiliki sakit bengkak di tangannya dan sudah berikhtiar dengan segala macam obat dari beberapa dokter, namun tak kunjung sembuh. Setelah mandi dengan air tersebut, belum juga sampai rumah, tangannya sudah pulih.

Banyak juga keajaiban lainnya, seperti salah seorang pengunjung yang lumpuh tak bisa jalan, alhamdulillah setelah empat kali mandi, sudah bisa jalan seperti semula. Selain pengobatan, juga ada pengalaman dari beberapa mughtasil yang, alhamdulillah, mendapat pertolongan Allah dari musuh yang mengancam nyawanya. Banyak lagi keistimewaan lainnya, sebagaimana yang diungkapkan beliau, diantaranya dapat mengatasi masalah jodoh.

 

Ternyata Bermula dari Pesantren

Adalah Kiai Amin, seorang tokoh yang berada di balik awal mula munculnya mata air tersebut.  Sebelumnya, tempat ini adalah pesantren yang didirikan oleh beliau pada masa Mbah Surga Surgi menjadi adipati Pasuruan, pada abad 18. Mbah Surga Surgilah -sepupu Kiai Amin- yang membuatkan kolam air untuk  beliau dan santri-santrinya yang pada masa itu kekurangan air. Hanya dengan hentakan kaki, semburan air kemudian keluar dengan derasnya. Air tersebut kemudian dimanfaatkan oleh beliau dan santri-santrinya untuk mandi dan berwudlu.

Memang yang membuat mata air adalah Mbah Surga Surgi, namun embrio dari kekeramatannya adalah Kiai Amin.  Hal itu tidak lepas dari karomah beliau yang di sisi lain memiliki serban, yang konon datang secara tiba-tiba melayang ke kepala beliau pada malam lailatul qadar. Banyak peristiwa ganjil dengan hadirnya serban tersebut. Dan tentu saja, semua atas kehendak Allah yang menurunkan keistimewaan tersebut pada Kiai Amin.

Setelah Kiai Amin wafat, kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh menantunya Kiai Nur Hasan. Beliau kemudian dipanggil oleh Sang Kholiq pada saat menunaikan ibadah haji di Makkah, meninggalkan dua putra dan seorang putri. Akhirnya pesantren diasuh oleh salah satu putranya, Kiai Ilyas. Pada masa Kiai Ilyas, mata air itu pernah menjadi penangkal dari ancaman belanda yang ditakutkan oleh keponakannya, Kiai Muhdor. Atas instruksi dari Kiai Ilyas, Kiai Muhdor muda bersama seorang santri mandi dengan dengan air itu hingga akhirnya para belanda yang sebelumnya bersiap menghadang di perjalanan, sama kaku tak bergerak ketika Kiai Muhdor lewat.

Setelah Kiai Ilyas wafat, pesantren perlahan mengalami penurunan jumlah santri karena putranya, Kiai Jabir, lebih dominan pada sisi kekaromahannya daripada menjadi seorang pengasuh pesantren. Pada periode inilah pesantren tersebut mulai tak terurus hingga akhirnya fakum.

 

Berjalan atas Swadaya Masyarakat

  1. Muhammad Irsyad adalah perintis berdirinya padepokan ini. Setelah sebelumnya lama tak terawat, akhirnya pengasuh Ponpes Annur Assalafy itu membuka tempat ini menjadi sebuah padepokan untuk peristirahatan dan penginapan orang-orang dari luar kota. Beliau adalah putra dari Kiai Muhdor bin Bin Abdul Qadir bin Nur Hasan, masih keponakan dari Kiai Jabir. Setelah Kiai Jabir wafat, tempat yang dahulu pesantren ini diambil alih oleh KH. Muhammad Irsyad.

Dalam pengelolahannya, beliau menyusun sebuah struktur kepengurusan yang diisi oleh para penduduk setempat. Meski yang memegang adalah beliau, namun pengelolaan tempat ini sepenuhnya ditangani oleh masyarakat. Dana yang dipakai diambil dari hasil sawah beliau yang berada di desa tersebut, yang juga digarap oleh penduduk setempat. Setelah dibuka menjadi sebuah padepokan, tiap malam tempat ini tak pernah sepi dengan kegiatan shalawat, dan setiap minggu diadakan kegiatan rutin berupa pengajian.

Sahal Yasin/ Ashfan Nadhif

Comments

comments

tags: ,

Related For Menapaktilasi Kekeramatan Padepokan Al Amin, Pasuruan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *