Memupuk Rasa Rindu Indahnya Wajah Rasulullah Saw.

Friday, May 25th 2018. | Aswaja

 

 

Mengetahui sifat indah Nabi Saw. baik perawakan maupun perangai beliau termasuk faktor yang bisa menguatkan iman. Perawakan beliau adalah yang paling indah nan sempurna. Akankah kita akan bisa melihat beliau kelak? Maka jawabannya bergantung pada seberapa dalam rasa cinta terpatri dalam hati. Nabi Saw. bersabda, “Engkau akan dihimpun bersama orang yang engkau cintai.”

Sahabat Anas berkomentar mengenai hadits di atas, “Tidak ada perasaan bahagia melebihi kebahagiaan saat mendengar ucapan Nabi Saw. yakni “Engkau akan dihimpun bersama orang yang engkau cintai.” Kembali Anas berkata, “Aku mencintai Nabi Saw., Abu Bakar ra. dan Umar ra. Karenanya, Aku berharap akan dikumpulkan bersama mereka meskipun aku tak bisa beramal sebagaimana mereka.”

Tampannya Baginda Nabi Saw.

Tidak ada yang mampu mensifati ketampanan wajah beliau dengan pasti. Kebanyakan sahabat menyifati wajah Nabi Saw. layaknya matahari yang sedang terbit dan rembulan yang memukau dengan malam purnamanya, padahal keindahan dan kewibawaan wajah beliau jauh dari sekadar keduanya. Abu Bakar ra. mensifati wajah beliau dengan ucapannya :

اَمِيْنٌ مُصْطَفًی لِلْخَيْرِ يَدْعُوْ     كَضَوْءِ الْبَدْرِ زَايَلَهُ الْظُلاَمُ

Artinya : Beliau adalah orang terpercaya, yang terpilih, yang selalu mengajak pada kebaikan, yang bak bulan purnama yang menghilangkan gelap gulita.

Abu Hurairah berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari pada wajah Rasulullah Saw. Seakan sinar indah matahari mengalir pada wajah beliau. (HR. Turmudzi)

Diceritakan dari Abu Naim, dari Abu Ishaq ia berkata, “Barra di tanya oleh seseorang,”Apakah wajah Nabi Saw. seperti pedang?” Maka dia menjawab, “Bukan, akan tetapi seperti rembulan.”

Sebagaimana komentar dari Ibnu Hajar bahwa, orang yang bertanya menyangka wajah Nabi Saw. seperti pedang dalam panjangnya, Sehingga Barra menjawab, “Bukan, melainkan seperti bulan dalam bundarnya.”  Akan tetapi bisa diartikan bahwa yang dikehendaki dari seperti pedang adalah pancaran cahaya silaunya, maka dijawab, “Bukan, bahkan lebih dari itu. Wajah beliau setara bulan dalam bundar dan pancarannya.”

Keindahan wajah Rasulullah Saw. lengkap dengan bias kejujuran yang muncul dari setiap pori-porinya. Orang yang memandangnya tidak akan menemukan setitik pun benih-benih kebohongan. “Demi Allah, ini sama sekali bukan wajah pembohong,” demikianlah ucapan orang arab saat berjumpa beliau. Hanya dengan melihat, dia bisa mengetahui Nabi Saw. adalah orang yang jujur, lantas bagaimana dengan orang yang mengetahui budi pekerti beliau.

Wajah Nabi Saw. saat sakit dan meninggal

Bukan hanya saat sehat saja keindahan wajah Nabi Saw. bertampak, melainkan saat sakit, bahkan saat meninggal wajah beliau masih tetap dengan keindahannya. Diceritakan dari Anas ra. Ia berkata, “Lalu Nabi Saw. membuka penutup hujrahnya saat sakit yang menjadi sebab beliau meninggal. Beliau melihatku. Beliau berdiri seakan wajah beliau kertas mushaf.”

Kertas mushaf adalah ibarat dari ketampanan yang menawan, bagusnya kulit, bersih dan bersinarnya wajah.

Demikian juga, Wajah indah beliau masih tampak kendati beliau telah meninggal. Diceritakan dari Siti Aisyah bahwa Rasulullah Saw. telah meninggal dan Abu Bakar di tanah Suhn, yakni di tanah Aliyah. Lalu Umar berkata, “Demi Allah, Rasulullah Saw. tidak mati.” Siti Aisyah berkata, “Dan umar berkata, “Demi Allah tidak ada dalam hatiku kecuali perasaan itu, dan pasti Allah akan membangkitkan beliau, maka akan aku potong tangan-tangan atau kaki mereka (yang mengatakan muhammad telah meninggal)” Lalu Abu Bakar datang. Ia membuka penutup Rasulullah Saw. ia menciumnya, lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku, Engkau tetap tampan baik masih hidup atau sudah mati. Demi Dzat yang nyawaku digenggamannya. Tidak akan Allah membuat engkau merasakan dua kematian selamanya.”

Ketampanan Nabi Yusuf as. dan Nabi Muhammad Saw.

Saat isro mi’roj Rasulullah berjumpa dengan Nabi Yusuf di langit ke tiga. Beliau mensifati wajah Nabi Yusuf layaknya rembulan pada bulan purnama. Sehingga Ibnu Ishaq pernah berkata bahwa Allah telah memberi ketampanan dan kewibawaan kepada Nabi Yusuf yang tidak diberikan kepada orang sebelumnya dan orang setelahnya. Allah memberikan separoh ketampanan kepada beliau dan separoh ketampanan lainnya dibagi pada seluruh manusia.

Dalam beberapa hadis dijelaskan bahwa nabi Yusuf diberi separoh ketampanan dengan menggunakan lafadz “syathr” secara mutlak, bukan “nisf”. Hal ini memberi indikasi bahwa Nabi Yusuf diberi separoh ketampanan yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Karena Nabi Muhammad telah mencapai puncak dari ketampanan dan nabi Yusuf telah mencapai separuh ketampanan beliau.

Abu Naim berkata, “Nabi Yusuf diberi ketampanan yang melebihi dari pada nabi dan rasul lainnya, bahkan seluruh manusia. Namun Nabi kita diberi ketampanan yang tidak diberikan kepada seorang pun. Bahkan tidak diberikan kepada Nabi Yusuf kecuali hanya separoh ketampanan beliau Saw. saja.

Referensi : Subul al Huda wa al Rasyad juz 10 hal. 269. Shahih Muslim juz 2 hal. 401. Faidl al Qadir juz 2 hal. 4. Fath al Bari juz 11 hal. 216. Kasyaf al Qana’ ‘an Matn al Iqna’ juz 16 hal. 498.

Muslimin Syairozi

Comments

comments

tags: , ,

Related For Memupuk Rasa Rindu Indahnya Wajah Rasulullah Saw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *