Memperjuangkan Sunah, Wujud Cinta Nabi

Friday, February 19th 2016. | Dawai

images1

Memperjuangkan Sunah, Wujud Cinta Nabi

 

Segala puji bagi Allah yang mengkhususkan kita dengan Nabi Muhammad Saw. Betapa beliau adalah nabi yang sempurna  dan memiliki sifat-sifat mulia. Sebab tak pernah melihat beliau secara langsung, membaca manaqib beliau merupakan langkah tepat dalam rangka mengagumi dan mencintai beliau. Tidak mengapa di dunia kita tidak bisa bertemu, tapi mudah-mudahan kelak kita diberi kesempatan memandang wajah beliau, diakui sebagai umat nabi, dan diberi syafa’at dari segala keresahan dan kesusahan pada hari akhir.

Untuk bisa mendapatkan keistimewaan ini, kita harus mempunyai irtibath (hubungan batin) dengan beliau. Hubungan semacam ini bisa terjalin bila kita mau menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw. di dalam hati. Tidaklah sempurna iman seorang Muslim, sehingga Allah dan rasulNya melebihi apa pun.

Rabi’ul Awwal menjadi momentum tepat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada nabi, sekaligus sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah, sebab bulan ini menjadi awal mula turunnya rahmat Allah Swt. Kita ingat kembali sejarah kelahiran nabi empat belas abad silam. Rahmat Allah berupa hujan lebat bersamaan dengan lahirnya nabi, padahal sebelumnya musim kemarau begitu dahsyat. Sehingga, kurma-kurma yang kering langsung berbuah, sumur yang habis seketika itu memancarkan air, pasukan Abrahah tumbang saat mereka bermaksud menghancurkan ka’bah, dan lain sebagainya.

Sebagai umat nabi, seharusnya kita menyemarakkan ihtifal atau perayaan dalam rangka memperingati kelahiran beliau. Bukannya malah mengusik orang-orang yang memperingati kelahiran beliau. Kenyataannya, banyak tetangga kita yang berpendapat bahwa maulud adalah bid’ah. Di antara argumentasi mereka, Rasulullah sendiri tidak pernah merayakannya.

Di antara wujud rasa cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu:

  1. Kerap menyebut nama dan sifat-sifatnya. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara bersholawat. Dalah hadits disebutkan, “Barang siapa yang membaca sholawat satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali.”

Di tengah kesibukan, tidak ada amal yang lebih mudah kita lakukan, kecuali membaca sholawat. Paling tidak dalam sehari semalam, kita membaca bisa bersholawat seratus kali. Ingatlah! Dengan menyebut orang-orang sholih, apalagi nabi, maka akan turun rahmat Allah Swt.

Beliau juga bersabda:

ويل لمن لايراني يوم القيامة

Artinya: “Celaka bagi orang yang tidak memandangku besok pada hari kiamat.” Lalu Siti Fatimah bertanya, ”Siapakah orang yang tidak bisa melihatmu wahai Rasul?” Beliau menjawab, ”Yaitu orang yang ketika disebut namaku, ia tidak bersedia membaca sholawat kepadaku.” Semoga kita termasuk golongan yang mampu melihat beliau. Aamiin.

 

  1. Menghidupkan sunnah nabi. Sunnah nabi mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Dalam kitab Riyadlu as-Sholihin disebutkan, Nabi Saw. pernah bersabda:

من احيا سنتي فقد احبني ومن احبني كان معي فى الجنة

Artinya: “Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia mencintaiku. Barang siapa yang mencintaiku, maka ia akan dihimpun bersama orang yang dicintainya.”

Kata ahya bukan berarti hanya melaksanakan, akan tetapi memiliki arti yang lebih dalam, yakni menghidupkan dan memperjuangkan.

Pada zaman sekarang, menghidupkan sunnah nabi bukanlah hal yang mudah. Banyak umat Islam yang kurang menghiraukan sunah-sunah nabi. Mereka menganggap sunnah nabi adalah kuno dan kurang relevan dengan era modern. Mereka lebih senang dengan keglamoran dunia yang penuh dengan kebohongan. Padahal, sunnah nabi adalah pokok dari agama. Jika seseorang menghidupkannya, berarti ia menghidupkan agama. Sebaliknya, jika seseorang melupakannya, berarti ia telah merendahkan agama.

Apalagi, saat ini banyak pihak yang menyepelekan ajaran nabi. Karena umat Islam tidak mengutamakan sunah, maka mereka seringkali diremehkan oleh musuh. Bahkan, orang-orang yang tergolong minoritas pun berani melecehkan al-Qur’an, nabi, dan ajaran-ajarannya. Umat Muhammad seakan telah kehilangan kehormatannya. Islam hanya tinggal nama. Parahnya lagi, sebagian umat Islam justru menjadi pengikut orang-orang Yahudi dan Nasrani.

  1. Attasyabbuh, yaitu berusaha meniru semua perbuatan dan perilaku nabi. Banyak riwayat mengatakan bahwa nabi selalu mendahulukan kanan. Sebagai wujud rasa cinta kepada nabi, kita juga mendahulukan yang kanan setiap hendak melakukan aktifitas.

Terkait hal ini, karena begitu cintanya kepada nabi, bahkan Abdullah bin Umar selalu meniru tindak-laku nabi ke mana dan di mana pun ia berada. Sampai-sampai Sayyidatina Aisyah berkata, ”Tidak ada seorang pun yang mengikuti jejak nabi di tempat-tempatnya seperti Abdullah bin Umar.” Begitu dekatnya dengan rasul, sehingga ia mengantongi julukan al hibb ibnu al hibb (kekasih putra kekasih).

Dalam mewujudkan rasa cinta kepada nabi, semestinya kita berkorban lebih besar dari apa pun. Kita layak mencontoh sahabat Abu Bakar ra. yang pernah menyatakan, ”Seandainya rasul memerintahku untuk membunuh diriku sendiri, niscaya aku akan melakukannya.”

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Memperjuangkan Sunah, Wujud Cinta Nabi

One response to “Memperjuangkan Sunah, Wujud Cinta Nabi”

  1. bdur says:

    terimakasih atas penjelasannya…
    pertanyaan saya, apakah pengamalan sunnah2 rosul terbatas oleh zaman, soalnya semakin modern semakin sulit untuk mengamalkan sunnah rosul…?
    Sholawat Nabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *