Membumikan Ajaran Islam Dengan Budaya

Saturday, February 22nd 2014. | Pojok Pesantren

120816_PENNA_ID_UNITE_VG

Rasanya semua menyadari bahwa Islam yang hadir di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dengan tradisi atau budaya. Sama seperti Islam di Arab Saudi, Arabisme dan Islamisme susah dipisahkan bahkan tidak jarang keduanya telah menjelma menjadi satu kesatuan utuh.

Itulah yang terlintas dipikiran Kang Aba Abid ketika hadir untuk memberi suport kepada anak-anak Salmon Band SMA Hidayatus Salam bersama Komedi Sudra dalam pentas dakwah budaya yang digelar oleh Masyarakat Siwalan Panceng Gresik, yang di hadiri oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Pegasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan.

Jelas tergambar dari narasi awal yang disampaikan ketika salam pembuka Komedi Sudra. Bahwa para Wali Songo termasuk Sunan Drajat menjadikan budaya sebagai sarana melakukan islamisasi pulau Jawa. Dipahami bahwa budaya dan agama, dalam konteks Islam dan Saudi Arabiah, saling melengkapi bergumul sedemikian rupa di kawasan Timur Tengah sehingga kadang-kadang orang sulit membedakan mana yang nilai Islam dan mana yang simbol budaya Arab.

“Apa yang dilakukan oleh Yai Ghofur ini menarik”.

“Menariknya dimana Kang?” tanya Mas Yusuf.

“Selama ini kebanyakan orang, begitu mendengar gending-gending jawa dan alunan musik tradisional lain, hampir dapat dibilang pikiran mereka mengambil kesimpulan bahwa itu sesuatu yang kuno dan dinilai tidak sejalan dengan Islam. Ternyata bagi Yai Ghofur itu dijadikan sarana dakwah”.

“Kan, fenomena seperti ini sudah ada sejak dekade Wali Songgo?” Serga Mas Yusuf.

“Bener Mas, cuman pola dakwah berbasis budaya tidak banyak dilakukan para pelaku dakwah. Walaupun saya juga menyadari bahwa ada garis tipis pemisah antara agama dan budaya. Namun saya melihat keduanya memiliki nilai dan simbol yang saling melengkapi. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup berdampingan dengan tetram. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi dan tidak mengenal perubahan. Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat”. Jelas Kang Aba Abid menyitir kata Kuntowijoyo.

“Karenanya bagi pelaku dakwah yang enggan menjadikan budaya sebagai basis dakwah, dapat dipahami adanya rasa ketakutan terjadinya percampuran nilai transeden dan profan, nilai langit dan bumi, nilai ilahi dan manusiawi”. Kata Mas Yusuf membantu memperjelas.

 “Terdapat keuntungan besar dalam dakwah yang berbasis budaya, adalah Islam dengan sangat muda diterima oleh masyarakat” kata Kang Aba Abid.

“Ya.. bener tapi ada resikonya kang. Ajaran agama akan disalah pahami atau setidaknya umat muslim tidak dapat membedakan mana yang budaya dan mana yang agama” serga Mas Yusuf.indonesia_a05_rebanabiang

“Memang pasti terjadi akulturasi budaya. Yang terpenting adalah bagaimana agama dipahami dan dijalani sebagai bagian dari ritme kehidupan. Budaya yang sudah mendarah-daging menjadi bungkus dengan isi inti ajaran agama. Dalam konteks Indonesia dapat kita lihat, masjid-masjid pertama yang dibangun di sini bentuknya menyerupai arsitektur lokal-warisan dari Hindu. Sehingga jelas Islam lebih toleran terhadap warna/corak budaya lokal. Tidak seperti, misalnya Budha yang masuk membawa stupa, atau bangunan gereja Kristen yang arsitekturnya ala Barat. Dengan demikian, Islam tidak memindahkan simbol-simbol budaya yang ada di Arab, tempat lahirnya agama Islam” jelas Kang Aba Abid.

“Demikian pula untuk memahami nilai-nilai Islam. Para pendakwah Islam kita dulu, memang lebih luwes dan halus dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang heterogen setting nilai budayanya. Sunan Kalijaga misalnya, ia banyak menciptakan kidung-kidung Jawa bernafaskan Islam, misalnya Ilir-ilir, tandure wis semilir. Perimbangannya jelas menyangkut keefektifan memasukkan nilai-nilai Islam dengan harapan mendapat ruang gerak dakwah yang lebih memadai. Karenanya menurut Mohammad Sobary dakwah Islam di Jawa masa lalu memang lebih banyak ditekankan pada aspek esoteriknya, karena orang Jawa punya kecenderungan memasukkan hal-hal ke dalam hati. Apa-apa urusan hati. Dan banyak hal dianggap sebagai upaya penghalusan rasa dan budi. Islam di masa lalu cenderung sufistik sifatnya” kata Kang Aba Abid menlajutkan.

“Tetapi siapapun pelaku dakwah harus pandai memilah-milah mana yang substansi agama dan mana yang hanya sekadar budaya lokal” kata Mas Yusuf.

“Jadi gini, jelas Kang Aba Abid. “Metode dakwah al-Qur’an yang sangat menekankan hik-mah dan mau’idzah hasanah adalah tegas-tegas menekankan pentingnya dialog intelektual, dialog budaya dan dialog sosial yang sejuk dan ramah terhadap kultur dan struktur budaya setempat. Jika ada pepata jawa yang mengatakan, keno ika’e ojo butek banyune, (Tertangkap ikannya jangan keruh airnya) rasanya itu diantaranya adalah diimplementasikan dengan dakwah berbasis budaya. Selain keuntungan tersebut, ada kesamaan kencenderungan antara agama dan budaya dalam konteks Indonesia”.

“Apa itu Kang?”

“Cenderung tidak akan ada penolakan frontal dari masyarakat, sebab masuknya ajaran Islam lewat budaya terasa lebih membumi dan halus”.

Obrolan mereka sebenarnya berawal dari adanya kecenderungan sebagian pelaku dakwah yang bersikukuh membersihkan dari hal-hal diluar Islam. Terkesan ide ini luhur dan mulya, hanya saja mereka lupa bahwa Islam lahir memang dari langit, tetapi yang langit itu selanjutnya bersentuhan dengan bumi. Artinya bahwa ada nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya tetap didudukkan secara proporsional, tidak dengan cara dihapus sama sekali.

Oleh : Kang Aba Abid

(abaabid.abid@gmail.com)

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Membumikan Ajaran Islam Dengan Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *