Memaknai ke-Maha Tahu-an Allah

Sunday, December 28th 2014. | Pojok Pesantren

galaksioSetelah memimpin SMA Hidayatus Salam Gresik selama 5 tahun berjalan bersama pimpinan yang lain, Aba Abid pada tahun pelajaran ini disuguhi drama kehidupan yang mencerminkan ke Maha Kuasa-an Allah. Secara nalar dan kalkulasi manajemen pendidikan, Aba Abid  optimis bahwa respon masyarakat untuk menjadikan SMA HITs menjadi pilihan lembaga pendidikan semakin meningkat.

Secara nalar, pola pembelajaran yang diterapkan mencoba menjawab kebutuhan masyarakat setempat sebagai lembaga pendidikan yang mengutamakan pembangunan mental, dedikasi, prilaku mulia dan tentunya keilmuan yang memadai sesuai standar kompetensi keilmuan. Sebagai contoh, diberlakukannya tiap hari baca Qur’an, tiap hari sedekah dan tiap hari salat Dhuha, dimaksudkan sebagai upaya menginternalisasi nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik. Juga diberlakukan salam, salim, senyum dan sapa setiap kali ketemu antar guru dan peserta didik, merupakan upaya membangun karakter yang berkepribadian mulia.

Secara menejemen pendidikan, SMA HITs dalam 2 tahun terakhir meraih sejumlah penghargaan yang cukup bergengsi, dari tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional. Tahun pelajaran 2013-2014 terdapat 40 jenis penghargaan dan tahun pelajaran sebelumnya 35 penghargaan. Sebagai sekolah yang berada di desa, tentu prestasi ini cukup sebagai modal untuk membuat optimis Aba Abid menjemput tahun pelajaran baru.

“Ente kog bergaya tuhan, mengkalkulasi kehidupan dengan nalar dan manajemen”

“Subhanallah…. ingih Ustadz Ruri, dalem khilaf” jawab Aba Abid ketika ditegur Ustadz Masruri Derektur UMMI Indonesia.

“Memberikan pelayanan pendidikan itu bagian dari khidmah kepada Allah, persoalannya, apa ente sudah melakukan kelayakan kemesraan dengan Allah sebagai khadim-Nya?” tanya Ustadz Ruri.

“Ustadz, Afwan…. Shalat Dhuha tiap hari dan baca Qur’an tiap hari itu bukti bahwa kami keluarga besar SMA HITs mencoba melakukan komunikasi dengan Yang Maha Segalanya. Hanya saja kami sekarang benar-benar sadar bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan yang terbaik bagi hamba-Nya sesuai dengan kehendak Allah bukan yang sesuai dengan kehendak hamba” Jelas Kang Aba Abid.

“Apa ente dan yang lain juga berdoa kepada-Nya?”

“Tentu Ustadz”

“ Apa niat ente ketika berdoa?”

“Sebagai hamba tentu kami berharap Allah mengabulkan doa dan keinginan kami” Jawab Kang Aba Abid.

“Hem… disini letak kesalahannya” serga Ustadz Ruri. “Ente jika berdoa kepada Allah jangan sekali kali dimaksudkan supaya Allah menuruti apa yang ente minta. Sebab ada dua hal yang tidak sepantasnya terjadi dalam hal ini”

“Apa itu ustadz?” tanya Kang Aba Abid.

“Yang pertama, ketika ente berdoa dengan harapan supaya Allah menuruti apa yang ente inginkan, itu tidak etik alias tidak sopan. Masak Allah harus ente beri tahu apa yang menjadi kebutuhan ente. Allah itu Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh Hamba-Nya. Ente nggak usa mendikte Allah atas kebutuhan ente, Allah yang ciptakan ente kog masa’ Allah nggak tahu, ya pasti lebih tahi dari ente sendiri” jelas Ustadz Masruri.

“Terus gimana Ustadz”

“Makanya ketika berdoa, entek tunjukkan bahwa ente benar-benar nggak berdaya atas apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, termasuk pelayanan pendidikan yang ente sama teman-teman yang lain lakukan”

“Yang kedua apa Ustadz?”

“Yang kedua, umumnya umat Islam berdoa itu setelah selesai berusaha. Lebih parah lagi berdoa setelah upayanya gagal. Sebagai hamba-Nya seharusnya menjadikan Allah tempat bergantung segala sesuatu termasuk kebutuhan kita. Sehingga pantas Ibn Athaillah dalam Hikamnya mengingatkan dipembukaan kitabnya, bahwa tanda ketergantungan seseorang pada uapaya dan amalnya adalah munculnya pesimis ketika menemukan kegagalan. Tentu tidak demikian bagi hamba yang menjadikan Allah sebagai tempat bergantung”. Jelas Ustadz Masruri.

“Jelasnya gimana Ustadz”

“Agama memerintahkan menyertakan Allah itu dengan isyarat kalimat “Bismillah” bukan “Ma’asmillah”. Terdapat perbedaan yang jelas antara makna huruf “Ba’” dan “Ma’a”. Jika memang isyaratnya menggunakan huruf Ba’ itu mengandung arti menyertakan Gusti Allah sejak awal melakukan upaya dan amal sampai berakhirnya upaya dan amal tersebut. Bukan huruf Ma’a yang mengandung arti menyertakan Allah ditengah upaya atau di akhir upaya” jelas Ustadz Masruri.

“Iya Ustadz, kami merasa khilaf, tidak soan kepada Allah” kata Kang Aba Abid lirih.

“Kami juga menyadari apapun doa dan wirid yang kami istiqamahkan memang seharusnya semata-mata beribadah kepada Allah, bukan dimaksudkan mendikte Gusti Allah atas kebutuhan kami. Kami menjadi ingat ketokohan Mbah Basyir Kudus yang sering memberikan ijazah kepada santri dan kaum muslim secara umum, tentang bacaan-bacaan tertentu dan wirid-wirid tertentu. Ini semua harus dimaknai sebagai bentuk kedhaifan kepada Allah” kata Kang Aba Abid.

Diskusi mereka semakin menyadarkan akan betapa pentingnya memurnikan kembali niat ketika kita melakukan istiqamah wirid dan doa. Bahwa Allah Sungguh Maha Tahu apa yang menjadi kebutuhan kita, tanpa kita harus berdoa dan memberi tahu kepada-Nya. Namun karena doa itu diperintah, maka seharusnya ketika kita berdoa tentu semata-mata beribadah dan menghamba kepada-Nya.

“Astaghfirullaha al-‘adhim…………” suara lirih mereka berdua mentutup diskusi.

Oleh : Aba Abid

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Memaknai ke-Maha Tahu-an Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *