Memahami Sebuah Bencana

Friday, May 19th 2017. | Aswaja

 

Akhir-akhir ini di Negara kita banyak dilanda bencana. Hampir di setiap pelosok negeri bencana yang berbeda-beda dirasakan oleh warga, mulai dari luapan air bah, tebing longsor, gunung meletus dan lain sebagainya. Tentunya sebagai warga negara baik tentu kita bisa merasakan penderitaan mereka walaupun tidak langsung. Lain daripada itu, bagaimana kita memahami dan menelaah sebab turunnya bencana yang menimpa negeri ini.

 

Makna Musibah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata musibah bermakna kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, seperti banjir bandang yang datang secara tiba-tiba. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan Al-’Arab menyatakan, bahwa musibah adalah Al-Dahr (kemalangan, musibah, dan bencana). Sedang menurut Imam Al-Baidlawiy, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci, yang menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw: Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.

Kata musibah disebutkan pada sepuluh ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menyakini, bahwa semua musibah itu datang dari Allah dan atas ijin-Nya. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [التغابن/11]

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghaabun:11)

Bencana yang datang bertubi-tubi merupakan teguran, sekaligus peringatan dari Allah, agar manusia tahu diri atas kelaliman yang dilakukan. Adapun faktor penyebab bencana itu ada dua, pertama faktor alam sendiri. Bumi sudah teramat tua dan rapuh. Bila penghuninya tidak pandai-pandai merawatnya, maka makin rapuhlah tubuh bumi. Sedang faktor kedua adalah kesalahan manusia yang berbuat semena-mena terhadap alam. Dari kedua faktor ini yang paling dominan terjadi adalah yang terakhir. Manusia hanya pandai memanfaatkan, tapi tidak pandai dalam menjaga keseimbangan alam. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41[

“Telah tampak  kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Rum 41)

Bila kita mau menggali, firman Allah tersebut menyimpan makna bahwa peduli kepada kelestarian alam termasuk bagian dari kehidupan beragama. Sebentuk ibadah khusus yang kita semua wajib menunaikannya.

 

Hikmah Musibah

Hidup adalah perjuangan. Istilah ini tepat sekali digunakan untuk mendeskripsikan arti dari kehidupan. Dengan demikian, setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Artinya, jika manusia mempunyai keinginan hidup tanpa adanya perjuangan, itu artinya ia sedang menanti kematian. Adalah suatu kebidodohan yang berlevel tinggi, kematian tanpa ditunggu pun pasti akan datang menjemput setiap individu manusia.

Satu hal yang identik dengan perjuangan adalah munculnya bermacam-macam cobaan yang barubah musibah dan lain sebagainya, sebagai bagian pasti bagi tiap manusia dalam mengarungi kehidupan. Islam memandang fenomena cobaan yang datang sebagai pelajaran yang positif. Cobaan merupakan gudang hikmah yang sangat berharga. Tentu, jika kita bisa menghadapi cobaan tersebut dengan berani. Diantara hikmah dari cobaan adalah:

  1. Musibah sebagai pembersih

Dalam pandangan Islam, cobaan yang menimpa seorang hamba yang shaleh adalah bukti kasih sayang Allah SWT, sama sekali bukan siksa. Nabi Saw:

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهُ اِذَا اَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ  فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى وَمَنْ سَخَطَ فَعَلَيْهِ السُّخْطُ  رَوَاهُ التِّرْمِيْذِيْ وَحَسَّنَهُ

“Diceritakan dari Anas Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:“Sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji kaum tersebut. Jika mereka ridlo, maka bagi mereka ridlo Allah. Namun jika mereka mengeluh, maka bagi mereka murka Allah”. (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan).

  1. Musibah sebagai penyempurna iman

Islam juga mengajarkan, bahwa cobaan termasuk salah satu dari media penyempurnaan iman. Faktanya, kesempurnaan iman seorang hamba itu bisa dilihat dari kadar keistiqomahan (eksistensi) dirinya dalam menjalankan taat kepada Allah. Ia istiqomah dalam mengerjakan perintah-perintah Allah. Ia juga eksis dalam menjauhi larangan-larangan Allah. Tak peduli senang maupun susah, sendiri atau ramai, ia tetap taat. Sebagaimana uraian hadits Nabi Saw yang menunjukkan sifat seorang muslim hakiki yang artinya:

“Alangkah mengagungkan keadaan seorang mukmin karena semua keadaannya membawa kebaikan untuk dirinya, (hal ini hanya ada pada diri seorang mukmin sejati) yakni ketika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar. Itulah bentuk kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

  1. Musibah sebagai pengingat umat

Agama Islam juga menilai bahwa cobaan sebagai alarm pengingat pesan bagi seluruh umat. Allah memberikan cobaan untuk mengingatkan betapa lemahnya manusia, sama sekali tak memiliki daya dan upaya, sehingga mereka mesti menyadari betapa tak ada yang patut dibanggakan dalam kehidupannya di dunia. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:

“Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhori).

Hadis di atas memberikan pengertian bahwa hidup adalah perjalanan singkat yang suatu saat nanti jelas berakhir. Dan tujuan akhir perjalanan setiap umat tentulah kampung akhirat.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Memahami Sebuah Bencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *