Memahami Sastra al-Qur’an

Monday, December 28th 2015. | Kajian, Qur'an

 

membaca alquran

Disadari  atau tidak, al-Qur’an memuat untaian kalimat dengan nilai sastra yang tinggi. Diturunkan di tengah bangsa Arab yang begitu memuliakan keindahan kata, al-Qur’an menjadi mukjizat paling agung sepanjang masa. Kitab ini menyajikan cerita zaman dahulu dan keadaan masa yang akan datang.

Al-Quran diturunkan secara tanzil, ayat demi ayat yang dibacakan oleh Nabi kepada bangsa Arab. Tak sedikit golongan sahabat yang beriman setelah mendengar keagungan al Qur’an.

Al-Qur’an adalah sumber ilmu di dunia. Berbagai macam ilmu ada di dalamnya. Ia adalah kalam qadim, di mana seseorang tak akan pernah sedikit pun merasa bosan mendengarnya. Ia dapat memberikan kesembuhan dari segala penyakit. Ia juga menolong seseorang dari jurang kebodohan serta menuntunnya dari kebingungan.

Yang bisa menilai tingginya lukisan adalah pengamat seni. Orang biasa tak mungkin bisa merasakan indahnya lukisan apalagi menilainya. Begitu juga dengan al-Qur’an. Keindahannya hanya bisa dirasakan oleh para ahli sastra Arab. Orang-orang Arab telah merasakannya. Mereka tahu benar unsur sastra yang ada pada al-Qur’an. Di antaranya, al-Qur’an dengan tepat menggunakan kalimat ithnab (panjang), ijaz (pendek), dan musawah.

Orang yang paling fasih bukanlah orang yang selalu menggunakan kalimat ithnab atau ijaz, melainkan mereka yang mampu menyesuaikan situasi kapan harus menggunakan kalimat ithnab, kapan harus menggunakan ijaz, dan kapan harus musawah. Berikut penjelasan dari kalam ithnab, musawah, dan ijaz.

 

  1. Ithnab adalah mendatangkan makna dengan ucapan yang lebih banyak dari pada maksud yang dituju, namun dengan menghendaki suatu faedah dari penambahan tersebut. Adakalanya dengan mengulang-ngulang kalimat (taqrir). Adakalanya mendatangkan suatu ucapan yang berhubungan dengan ucapan pertama (tadzyiil). Seperti contoh dalam al-Qur’an:

قل جاء الحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا

Artinya: “Katakanlah (Muhammad) telah datang yang haq dan telah hancur kebathilan, sesungguhnya yang bathil itu hancur.”

Kalam kedua adalah tambahan yang tujuannya menguatkan. Seandainya tidak diucapkan pun, kalam pertama sudah mencukupi. Namun dengan mendatangkan kalimat tersebut, mutakallim ingin menguatkan bahwa kebathilan pasti akan hancur.

  1. Musawah adalah mengucapkan kalam yang setara dengan makna yang dimaksud. Seandainya lafadz itu dikurangi, maka akan merusak maksud yang dikehendaki. Sebagaimana contoh:

ولا يحيق المكرالشيئ الا بأهله

Artinya: “Tipu daya jelek itu tidak akan berakibat jelek kecuali pada pelakunya.

  1. Ijaz adalah mengumpulkan makna yang banyak dalam kata-kata yang jelas dan fasih. Contohnya adalah:

ولكم فى القصاص حياة

Artinya: “Dan bagi kalian dalam qhisas terdapat kehidupan.”

 

Penggunakan ijaz di atas merupakan sastra tertinggi yang tidak bisa dicapai orang Arab. Bagaimana ayat diatas berani menyandingkan dua lafadz yang berantonim, yakni lafadz qishas (kematian) dengan hayat (kehidupan). Lafadz tersebut mampu menggertak, membuat orang berpikir seratus kali untuk membunuh.

Banyak cendekiawan Arab membuat pernyataan yang semakna dengan ayat di atas. Mereka berlomba membuat ungkapan yang mampu menghilangkan pembunuhan. Akhirnya terdapat pernyataan yang mereka anggap puncak kalimat sastra untuk membasmi pembunuhan, yakni القتل انفى للقتل (membunuh dapat menghilangkan pembunuhan), قتل البعض إحياء للجميع  (membunuh sebagian orang dapat menghidupkan semuanya),

 اكثروا القتل ليقل القتل(perbanyaklah membunuh supaya sedikit terjadi kematian).

Semua di atas adalah rangkaian kata yang dibuat sastrawan Arab. meski sudah mengandung sastra yang tinggi, namun tak seindah rangkaian kata yang terdapat dalam kalam al Qur’an. Imam fakhrur Rozi menguraikan perbedaan antara kalam terindah arab dengan kalam Ilahi di atas.

  1. Ayat di atas lebih ringkas dari ungkapan mereka. Menurut kaedah sastra, semakin ringkas suatu ucapan, maka semakin tinggi nilai sastranya.
  2. Dalam ungkapan mereka terdapat pengulang-ulangan lafadz al-qotlu.
  3. Ungkapan mereka hanya menyegah kematian saja, sedangkan ayat di atas mencegah kematian juga penyiksaan.
  4. Sesungguhnya pembunuhan secara dzalim bukanlah menghilangkan pembunuhan, akan tetapi menambah terjadinya kematian. Secara dzahir, ungkapan terbaik mereka adalah sebuah kebathilan.

Dari pernyataan yang diuraikan oleh Imam Fathur Rozi, maka kita tahu betapa tingginya keunggulan sastra al-Qur’an atas sastra bangsa Arab. Mereka sudah menyadarinya, hanya saja fanatisme dan kesombongan membuat enggan mengakuinya. Mereka menuduh Muhammad sebagai orang gila dan tukang sihir.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Memahami Sastra al-Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *