Mediator Penyebab Syirik

Friday, December 25th 2015. | Aswaja

berhala

Berbicara tentang mediator atau washitoh ternyata masih banyak yang salah memahaminya. Substansi di balik mediator masih tampak samar bagi mereka. Ironisnya, banyak masyarakat yang tergesa-gesa menvonis pelakunya sebagai orang yang musyrik karena menyekutukan Allah SWT. Vonis mereka bukannya tanpa dasar, mereka mengindetikkannya sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyyah. Bagaimana mereka bersimpuh sujud menyembah berhala-berhala batu meraka, lantas dengan lantang mereka berucap:

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَااِلَى اللهِ زُلْفى

Artinya: Kami tidak menyembah berhala-berhala itu, kecuali sebagai mediator yang semakin mendekatkan kuta kepada Allah. (az-zummar:13)

Apa yang dilakukan orang Quraisy sangat berbeda dengan yang di lakukan oleh orang Islam. Seandainya kita mau membaca sejarah, tak akan terbesit dalam hati kita menuduh syirik pada tetangga-tetangga kita yang berziarah ke makam wali dan berdo’a atau meminta tolong kepada mereka.

Ucapan orang-orang quraisy hanyalah sebuah alasan semata agar mereka di biarkan menyembah berhala. Tidak ada sedikitpun kesungguhan dalam ucapan mereka. Mereka akan mengecam dan menghina Allah saat berhala-berhala mereka dijelek-jelekkan.

وَلَا تَسُبُّوْاالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوْااللَه عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Artinya: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. {Q.S.al-An’am:108}

 

Manfaat Mediator di Hari Kiamat

Manfaat mediator akan terasa saat hari kiamat tiba. Manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar dan dimintai pertanggung jawaban amalnya. Badan mereka akan basah kuyub dengan keringatnya sendiri. Hanya ada kegelisahan pada diri mereka.

Dengan penuh harap mereka datang kepada para Nabi, satu-persatu para Nabi dimintai syafa’atnya, dari Nabi Adam hingga Nabi Musa mereka  datangi. Tak ada satupun yang bisa memberikan syafaat kepada mereka. Hingga akhirnya mereka datangi nabi pamungkas, yaitu  Nabi Muhammad,  Nabi yang setiap hari makamnya didatangi saat di dunia, orang-orang bertawassul dan meminta tolong  kepadanya. Setelah itu beliau mendapat serua dari Allah SWT.

. يَا مُحَمَّدُ. ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاْشفَعْ تُشَفَّعْ وَسَلْ تُعْطَ

Artinya: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan berilah syafa’at pada seseorang karena kamu bisa mensyafa’ati. Dan mintalah sesuatu, niscaya permintaanmu akan dikabulkan.  

Selain nabi, para pewaris beliau yaitu orang-orang alim  juga diberi kesempatan untuk memberi syafa’at.  Di riwayatkan dari ibnu abbas r.a. ia berkata ketika orang alim dan ahli ibadah berkumpul di atas shirot, maka di katakan kepada ahli ibadah, masuklah ke dalam surga dan bersenang-senang sebab ibadahmu.   Kemudian di katakan kepada orang Alim,”berhentilah di sini, dan berilah syafa’at pada orang yang kamu cintai, karena kamu tidak memberi syafa’at seseorang kecuali dia akan disyafa’ati.  Maka orang alim itu mempunyai kedudukan sebagaimana para Nabi.

Menghadap Ka’bah Bukan Berarti Menyembahnya

Sudah maklom bagi kita bahwa diwajibkan bagi semua umat islam di penjuru dunia untuk menghadapa ka’bah saat sholat. Orang-orang yang berdomisili di sebelah barat Ka’bah, harus menghadapkan wajahnya ke timur saat mereka sholat.  Sedangkan orang-orang yang berada di sebelah timurnya sebagaimana kita, wajib menghadap ke arah barat.

Umat islam menghadap dan bersujud ke arah ka’bah bukan berarti mereka menyembahnya. Ka’bah hanyalah sebuah batu yang tidak bisa memberi pengaruh apapun. Tidak ada satupun umat islam yang mempunyai I’tiqhod bahwa ka’bah adalah tuhannya. Tak  ubahnya orang-orang musyrik jikalau mwmpunyai keyakinan demikian. Ka’bah hanyalah pemersatu arah saat umat islam beribadah sholat. Alangkah indah saat kita melihat jutaan umat islam berdiri rapi sejajar ke arah yang sama dan dengan gerakan yang sama di bawah kemando dari seorang imam. Nabi bersabda,” dan masjidil haram(ka’bah) adalah kiblat kalian, saat hidup dan mati.

Dijadikannya ka’bah sebagai kiblat adalah atas perintah Allah SWT. Karena memang semua perbuatan atau ucapan yang keluar dari Nabi bukanlah atas kemauan beliau sendiri, melainkan perintah atau wahyu dari Allah SWT. Dalam al-Qur’an Allah SWT. Berfirman : dan dari mana saja kamu keluar(datang) maka palingkanlah wajahmu ke arah masjidil haram(ka’bah). Sesungguhnya ketentuan itu sesuatu yang hak dari tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu perbuat. (QS:al-Baqarah:194.)

Sebelum diperintah menghadap ka’bah, selama enam belas bulan Nabi beribadah menghadap Baitul maqdis. Beliau kerapkali memandang ke langit, memohon agar kiblat islam dialihkan, Maka Allah pun memindahkannya ke ka’bah, kiblat Nabi Ibrahim. Sontak hal ini membuat orang-orang Munafiq dan Ahli kitab berpaling dan menghardik beliau. Mereka berkata: apa yang membuat mereka berpaling dari kiblatnya. Maka Allah SWT. menurunkan ayat, dan kepunyaan Allah arah timur dan barat(baitul maqdis dan ka’bah), maka di mana pun kalian menghadap maka di situlah wajah Allah.(QS.AL-baqarah:115).

Muslimin Sairozi

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Mediator Penyebab Syirik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *