Mbah Sholeh Darat as-Samarani Mencetak Pelopor Agama

Sunday, August 14th 2016. | Uswatun Hasanah

mbah-sholeh-darat

Mbah Sholeh Darat as-Samarani

Mencetak Pelopor Agama

 

Nama Mbah Sholeh Darat sudah tidak asing lagi di telinga santri Langitan. Kisah kyai yang hidup pada masa kepengasuhan KH Sholeh(pengasuh generasi kedua langitan) ini sudah sering di dengar oleh mereka. Baik Mbah Sholeh Langitan, maupun Mbah Sholeh Darat adalah dua ‘ulama besar yang santri-santrinya menjadi ulama besar nusantara.

Nama Lengkap Mbah Sholeh Darat adalah Muhammad bin Sholeh bin Umar As-Samarani. Beliau lahir di desa Kedung Jumbleng, kecamatan Mayong, kabupaten Jepara pada tahun 1820M/1235H. Sebutan darat di lekatkan pada beliau karena tinggal di kawasan dekat pantai Semarang Utara, itu adalah tempat mendarat atau  berlabuh orang-orang dari luar jawa.

Tak pernah lelah mengembara demi ilmu

Kealiman Mbah Sholeh darat tak lepas dari peran sang ayah. Ayah beliau bernama KH. Umar. Ia adalah ulama’  yang  di percaya pangeran Diponegoro dalam perang Jawa melawan belanda di wilayah pesisir utara Jawa. Dari sang ayahlah, Sholeh Darat kecil, memulai pengembaraannya meraup ilmu agama. Setelah itu, beliau belajar kitab-kitab agama, seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, dan kitab lainnya pada KH. Syahid Waturaja. Pati Jawa Tengah.

Perjalanan beliau di lanjutkan ke beberapa pondok pesantren. Beliau menimba ilmu dari beberapa ulama’ terkemuka yang telah kondang. Di antaranya adalah KH. M. Sahid cucu dari Syaikh Ahmad Mutamakkin dari Kajen, Margoyoso, Pati Jawa Tengah. Kyai Raden Haji Muhammad Salih bin Asnawi. darinyalah, beliau mengkaji kitab Tafsir Jalalain as-Suyuti. Beliau juga belajar ilmu falak dari Kyai Abu Abdillah Muhammad Al-Hadi bin Baquni. Dan mendalami ilmu Nahwu dan Shorof dari Kyai Ishak Damaran. Hingga akhirnya beliau melanjutkan nyantri di kyai Syada’ dan kyai Murtadlo yang nantinya menjadikannya sebagai menantu.

Harapan besar sang ayah akan putranya begitu besar, sang ayah merasakan anaknya mempunyai kelebihan pada bidang ilmu. Ia mengajak buah hatinya pergi ke Mekkah untuk menunaikan haji. Ayah mengajaknya tinggal di sana untuk mendalami ilmu agama pada ulama sufi Timur Tengah.

Di  tanah Haram itu, beliau berguru kepada ulama-ulama besar. Seperti Syekh Muhammad al-Muqri. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan beberapa ulama’ besar lainnya. Karena keluasan ilmu beliau, akhirnya Mbah Sholeh mendapat ijazah dari beberapa guru di mekkah untuk mengajar di mekkah.

Menjadi guru para pelopor agama

Waktu terus berjalan, setelah beberapa tahun di Mekkah, Mbah Sholeh darat pulang kembali ke tanah Indonesia. Beliau ingin mengabdikan diri di tanah kelahirannya tersebut. Beliau pun langsung mengajar di pondok pesantren darat milik mertuanya, kyai Murtadlo

Kehadiran beliau membawa kharisma tersendiri bagi pesantren. Dengan sentuhannya pesantren pun berkembang dengan pesat. Sehingga  di pesantren inilah kyai-kyai besar  datang dan menimba ilmu pada beliau. Mereka adalah  Pendiri Nahdlatul Ulama’ Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyyah KH. Ahmad Dahlan, pendiri pondok termas pacitan sekaligus pakar hadits KH. Mahfud Termas, pendiri pesantren Jamsaren solo KH. Idris, ahli falak tersohor.  KH. Sya’ban, pendiri pondok pesantren Watucongol, Muntilan, KH. Dalhar yang terkenal kewaliannya dan menjadi guru syekhina Abdullah Faqih.  Dan kyai Bisri Syamsuri. Selain itu, beliau juga merupakan spiritual RA. Kartini.

Inisiatif Menerjemah Al-Qur’an ke –Jawa Pegon.

Melalui permintaan  RA. Kartini mbah sholeh menjadi pelopor penerjemahan al-Qur’an ke bahasa jawa. RA. Kartini yang sempat di marahi guru ngajinya perihal bertanya tentang  arti suatu ayat, menyempatkan diri datang ke pengajian tafsir beliau. Sejak itulah, RA. Kartini mulai tertarik dengan beliau. Hingga akhirnya ia meminta beliau untuk menerjemahkan al-Qur’an. Menurutnya, tidak ada gunanya  membaca al-Qur’an tanpa  mengerti makna kadungannya. Akan tetapi rencana beliau tidak bisa begitu saja berjalan sesuai keinginan. Karena memang pada waktu itu penjajah belanda dengan tegas  melarang adanya terjemahan al-Qur’an. Namun hal itu tak lantas membuat mbah sholeh pasrah, dan mengurungkan niatnya. Dengan mantap beliau tetap  menerjemahkan al-Qur’an. Hanya saja terjemahan beliau di tulis dengan  huruf arab pegon. Sehingga orang-orang belanda sama sekali akan terjemahan itu. Kitab tafsir dan terjemahan beliau di beri nama faid ar-rahman. Dan adalah kitab tafsir pertama di Indonesia dalam bahasa jawa dengan aksara arab.

Wafatnya mbah sholeh darat

Setelah berhasil mencetak ulama-ulama  terkemuka dan  selesai menerjemahkan puluhan kitab ke bahasa jawa, akhirnya ajal menjemput beliau. Di usianya yang terbilang tua, yakni 83 tahun, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.  Beliau meninggal pada hari jum’at wage tanggal 28 Ramadlan 1321H/18 desember 1903. Beliau di makamkan di pakamanan umum “bergota” semarang . makam beliau selalu ramai dengan peziarah. Di antara yang suka berziarah ke makam beliau gus miek atau hamim jazuli. Setiap setahun sekali juga di adakan haul wafat beliau di kompleks pemakaman bergota. Hanya saja tidak di laksanakan pada bulan ramadlan, melainkan pada tanggal 10 syawwal.

(REDAKSI MATAN)

 

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Mbah Sholeh Darat as-Samarani Mencetak Pelopor Agama

One response to “Mbah Sholeh Darat as-Samarani Mencetak Pelopor Agama”

  1. Alfatihah…Lihadlroti Syaikhi Masyayikhina Almaghfurlah Simbah KH.Sholeh Darat Semarang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *