Mata Air yang Tak Pernah Kering Senjoyo

Tuesday, May 2nd 2017. | Cakrawala

 

 

“Lelaki gondrong itu tiba-tiba memotong rambutnya. Sedetik kemudian, gulungan rambut itu telah berhasil menghambat semburan air yang mengalir deras. Ajaib!”

***

Pagi ini sedikit gelap. Gumpalan awan di atas sana masih betah untuk merintikkan bulir-bulirnya. Tapi itu bukan hambatan untuk ekspedisi kali ini. Tujuan kami kali ini adalah Senjoyo, sebuah mata air dari Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Mata air –yang menurut legenda- peninggalan Eyang Senjoyo ini, adalah satu-satunya mata air di Semarang yang masih terjaga kejernihannya.

 

Sensasi Dingin yang Menyegarkan

Rute kali ini sedikit menantang. Beberapa hari diguyur hujan, jalan setapak yang kami lewati menjadi ajang ketangkasan untuk para kaki-kaki pendaki; jalanan berbukit, naik turun, licin dan becek. Sebenarnya akses ke Senjoyo jauh-jauh hari sudah bisa dilalui kendaraan bermotor, tapi kami lebih memilih berjalan kaki. Tentu saja, keindahan dan kesejukan alam yang masih asri sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Setengah jam berlalu. Begitu nyamannya suasana disini, gemercik air menyambut kedatangan kami. Ini yang menjadi daya tarik dari Senjoyo, kejernihan air dan kesejukannya menjadi keistimewaan yang tak terbayarkan.

Secara geografis, Sendang Senjoyo masih berada di lereng timur gunung Merbabu. Itu sebabnya, udara disini sangat dingin. Walaupun berada di kabupaten Semarang, Sendang Senjoyo banyak dikenal masyarakat sebagai sendangnya Salatiga. Di samping lokasi yang lebih dekat dengan kota Salatiga –dari pada kota Semarang tentunya- keberadaan Sendang Senjoyo juga tak bisa lepas dari legenda Joko Tingkir, si bujang dari Salatiga.

 

Eyang Senjoyo dan Joko Tingkir

“Lelaki gondrong itu tiba-tiba memotong rambutnya. Sedetik kemudian, gulungan rambut itu telah berhasil menghambat semburan air yang mengalir deras. Ajaib!” ucap Jasmin (85) menirukan gaya kakeknya bercerita.

Pak tua di hadapan kami ini adalah Jasmin, juru kunci generasi ketiga yang berhasil kami temui. Usianya hampir kepala sembilan, tapi kokoh persendiannya mampu membohongi kami.

Senjoyo diambil dari nama Eyang Senjoyo, seorang pinisepuh keturunan non muslim (antara Hindu atau Budha masih menjadi perdebatan). Jasmin kembali bercerita; ketika terjadi perang Baratayudha, Senjoyo yang waktu itu berpihak kepada Pandawa terkena panah pasukan Kurawa. Senjoyo yang terluka parah terpental hingga ke lereng Merbabu.

“Di sana ia membersihkan semua lukanya. Setelah merasa baikan, Eyang Senjoyo akhirnya meninggalkan tempat itu, dan bergegas kembali ke medan pertempuran. Sepeninggal Eyang Senjoyo itulah, tiba-tiba muncul puluhan too’ (mata air-Jawa) di beberapa tempat. Dan untuk mengenangnya, masyarakat di lereng Merbabu (yang sekarang menjadi desa Tegalwaton) menamainya Sendang Senjoyo”  terang Jasmin.

Namun, tambah Jasmin, legenda Eyang Senjoyo yang terluka itu masih kalah populer di banding legenda Mas Karebet (Joko Tingkir) yang sempat bertapa di Sendang Senjoyo.“Rumiyin, sak derengipun nyuwita ing Demak, Mas Karebet kungkum ing mriki ndadar kanuragan” (Dulu sebelum mengabdi di (Kesultanan) Demak, Mas Karebet merendam diri di sini untuk berolah kesaktian) tutur kakek 18 cucu ini dengan semangat.

Bukan hanya itu, legenda rambut Joko Tingkir yang menyumbat aliran mata air Senjoyo juga menjadi bulan-bulanan masyarakat untuk diadaptasi menjadi dongeng-dongeng pengantar tidur bagi para buah hatinya. Menurut Jasmin, waktu itu debet air yang keluar memang sangat deras, dan jika dibiarkan terus menerus dikhawatirkan akan terjadi banjir besar. Alasan itulah yang membuat Joko Tingkir mencukur sebagian ‘rambut saktinya’.

Sepertinya, masyarakat sudah terlanjur jatuh hati kepada Mas Karebet yang salih dan gondrong itu.

 

Senjoyo Go Green

Sendang Senjoyo sepertinya setuju tentang teori kebanyakan orang: hutan adalah paru-paru dunia. Di sini masih banyak ditemukan pepohonan yang berusia ratusan tahun. Meskipun tidak ratusan jumlahnya, namun beberapa pohon lintas generasi ini masih sanggup untuk bernapas lebih banyak.

Dari cerita Jasmin, diketahui juga bahwa banyak peristiwa yang terjadi di Sendang berkaitan dengan situasi politik nasional. Ia mengisahkan, sebelum Presiden Suharto lengser, di Sendang Senjoyo terjadi peristiwa aneh, yaitu tumbangnya sejumlah pohon beringin di sekitar Sendang. Bukan hanya itu, sesaat setelah kebakaran menimpa keraton Solo beberapa tahun silam, peristiwa serupa juga terjadi. Saat itu terjadi hujan angin yang hebat dan sejumlah pohon beringin tumbang.

Tumbangnya beberapa pohon-pohon itu ternyata membawa dampak negatif. Dari cerita masyarakat yang berkembang, dulu, ketika pohon-pohon raksasa itu masih perkasa, masyarakat mudah untuk menemukan mata air. Puluhan mata air tersebar di segala sudut. Jika di sana ada pohon besar, maka di sekitarnya dapat dipastikan terdapat mata air yang melimpah.

“Sekarang hanya tinggal 7 mata air.” Terang Jasmin.

 

Mata Air Berkah

Kami menyebutnya ‘berkah’. Mata air Sendang Senjoyo tidak pernah kering, walaupun saat kemarau panjang. Hal inilah yang kemudian banyak masyarakat sekitar yang menggantungkan kesejahteraan pertanian mereka kepada Senjoyo.

Dengan banyaknya debit air yang keluar dari Sendang Senjoyo, Salatiga dan sebagian Kabupaten Semarang adalah sedikit wilayah yang kecipratan berkahnya. PDAM Salatiga juga ikut andil dalam pemanfaatan debit air. Sebagian masuk ke saluran irigasi, dan selebihnya dibuang di aliran Sungai Senjoyo. Daerah recharge mata air ini meliputi lereng Timur Gunung Merbabu, yang merupakan daerah resapan porus dengan luas sekitar 40 km persegi, yang menyimpan air hujan selama musim hujan dan dikeluarkan di mata air Senjoyo.

Sebagian sumber mengatakan, jauh-jauh hari Belanda sudah memulai program irigasi untuk masyarakat. Tampak pada foto, gapura Mata Air Senjoyo yang di bangun pada tahun 1921.

 

Tidak Terawat

Sekilas, kesan kumuh memang sangat kentara. Banyaknya sampah yang berserakan, hingga beberapa sudut yang masih jauh dari kata bersih, sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Tapi yang membuat kami salut, adanya beberapa ‘pengganggu’ seperti itu tidak membuat Senjoyo sepi.

Jasmin kembali bercerita;“Waktu itu ada segerombolan orang eropa datang ke sini. Entah itu dari Jerman, atau Belanda, saya lupa. Mereka mengumbar janji; akan membangun Sendang Senjoyo sebagai pariwisata. Tapi sampai sekarang belum kesampaian.”

Menurut Jasmin, mitos di sini masih kental. Bukan hanya orang Eropa yang mengumbar janji seperti itu, Dinas Pariwisata juga pernah menyanangkan program yang sama dan hasilnya: nihil.

“Mungkin ini kehendak Yang Kuasa, yang ingin menjadikan Senjoyo sebagai tempat yang tetap bersahaja meski dengan tampilan apa adanya.” terang Jasmin menutup pembicaraan kami siang ini.

 

[Shofa Ulul Azmi & Mundzir]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Mata Air yang Tak Pernah Kering Senjoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *