Masjid dan Pasar

Friday, December 26th 2014. | Uncategorized

 

@masjidDua pusat kegiatan ini jelas berbeda. Masjid bagi kaum muslimin digunakan sebagai tempat ibadah. Salat berjamaah, lima kali dalam sehari semalam umum dilaksanakan di masjid. Di daerah-daerah tertentu, keberadaan masjid sangat diutamakan. Sehingga muncul pandangan bahwa perkampungan belum dianggap sempurna jika belum dibangun masjid. Sedemikian besar kesadaran dan semangat kaum muslimin terhadap tempat ibadah ini, sehingga di wilayah-wilayah tertentu, masjid menjadi sedemikian banyaknya. Di sana-sini berdiri masjid dengan berbagai ukuran.

Selain masjid tempat yang sedemikian penting bagi kehidupan adalah pasar. Tempat ini digunakan untuk jual beli barang kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagaimana masjid, orang selalu membutuhkan tempat ini. Masyarakat pada tingkat apapun selalu membutuhkan pasar. Sebab, orang tidak akan mungkin bisa memenuhi seluruh jenis kebutuhan hidupnya, tanpa tempat yang digunakan jual beli ini. Seorang petani bisa memenuhi sendiri kebutuhan sayur, beras, daging sebagai kebutuhan sehari-hari. Tetapi mereka tidak akan bisa memenuhi seluruh kebutuhan lain yang tidak bisa mereka produk sendiri, katakanlah misalnya garam, minyak dan sejenisnya. Mereka juga belum tentu terampil bertenun untuk memenuhi kebutuhan pakaian. Oleh karena itu memang setiap komunitas saling membutuhkan satu dengan lainnya. Pasar adalah digunakan sebagai tempat bertemu, saling tukar-menukar barang kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Masyarakat yang semakin maju, pasar pun berubah formatnya. Pusat pertukaran barang itu, bentuknya menjadi lain. Muncul pusat-pusat perbelanjaan modern, seperti ruko atau rumah sekaligus toko, mall dan bentuk-bentuk lainnya. Tempat-tempat itu fungsinya masih sama, yakni sebagai tempat pertukaran barang atau kebutuhan yang diperlukan, tetapi bentuknya menjadi berubah. Bahkan tempat perbelanjaan itupun lebih lanjut berkembang menjadi simbol kelompok-kelompok tertentu. Maka kemudian muncul istilah-istilah pasar tradisional, pasar modern dan pasar supermodern. Masing-masing pasar tersebut menjual jenis kebutuhan yang berbeda, termasuk juga kualitasnya. Demikian pula pengunjungnya pun akan berbeda-beda strata sosialnya. Orang kampung yang berpenghasilan pas-pasan biasanya memenuhi kebutuhannya pergi ke pasar tradisional, sedangkan kelompok elite ke pasar modern, berupa mall dan sejenisnya. Sebatas tempat perbelanjaan saja akhirnya menjadikan masyarakat terpisah-pisah dan terbedakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Pada awalnya, kegiatan ekonomi berjalan sangat sederhana, yakni sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makanan, pakaian, perumahan serta kebutuhan lainnya. Akan tetapi, karena kekuatan masing-masing orang tidak sama dan demikian pula pendapatannya, maka hal itu melahirkan strata atau kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Manusia yang diciptakan dalam keadaan sama, dari akibat penghasilan yang berbeda tersebut, akhirnya masing-masing menjadi merasa berbeda-beda. Selain itu dengan kegiatan ekonomi ini pula, orang menjadi memiliki kharakter yang berbeda-beda. Berawal dari kegiatan ekonomi ini ternyata kemudian muncul orang yang dikenal baik dan mulia, tetapi kadang sebaliknya, orang menjadi saling bersaing, berebut, konflik dan bahkan bermusuhan.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan ekonomi yang kadang melahirkan persaingan dan perebutan itu, ternyata masyarakat diselamatkan oleh ajaran Islam melalui tempat yang penuh kedamaian, yaitu masjid. Di tempat ini tidak terdapat orang berebut. Siapa yang dianggap paling tinggi ilmu, umur dan amalnya ditunjuk sebagai imam salat. Selain itu, siapa saja yang datang di tempat ibadah ini lebih awal, apakah mereka itu tergolong bodoh, miskin, atau masih muda umurnya boleh saja duduk, mengambil tempat di shaf paling depan. Begitu pula sebaliknya, sekalipun mereka tergolong pejabat paling tinggi atau dikenal paling kaya, jika terlambat datang, mereka harus bertempat di shaf paling belakang. Di tempat ini, semua orang diperlakukan secara sama. Itulah sebabnya, tempat ini menjadi simbol kesamaan, kesetaraan, dan kedamaian. Di tempat yang kadang disebut sebagai rumah Allah ini, tidak ada sesuatu yang diperebutkan. Mereka hanya ingin berebut menjadi hamba yang paling dekat dan disayang oleh Allah.

Kedekatan manusia sebagai hamba Allah, tidak sama dengan kedekatan antar manusia tatkala mengambil tempat, apalagi tatkala di pasar yang harus antre berjajar-jajar, sehingga ada yang di depan dan ada pula yang di belakang. Allah bisa saja menempatkan seluruh hambanya pada jarak yang sama. Mereka yang berada di shaf paling depan, bisa jadi mendapatkan pahala yang sama dengan mereka yang berada di shaf paling belakang. Allah tatkala melihat orang di masjid tidak mendasarkan sebatas di mana masing-masing mereka itu mengambil tempat duduk, pakaian yang dikenakan, asesoris, melainkan akan melihat dari suasana hati masing-masing jamaah. Allah memiliki sifat Maha Tahu dan Maha Adil, tidak terkecuali kepada seluruh jamaah yang ada di masjid, yang mereka itu sedang mendekatkan diripada -Nya. Allahu a’lam.

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Guru Besar UIN Maliki Malang

Comments

comments

tags: , ,

Related For Masjid dan Pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *