Mari Kuatkan Ukhuwah Berdakwah dengan Kepedulian

Tuesday, March 21st 2017. | Dawai

Mari Kuatkan Ukhuwah

Berdakwah dengan Kepedulian

 

Seorang individu muslim bertanggung jawab bukan hanya atas urusan pribadinya saja tapi juga atas saudara-saudara muslim lainnya. Tanggung jawab itu muncul seiring dengan kekuatan atau kemampuan yang dianugerahkan kepadanya. Semakin besar kekuatan atau kemampuannya, maka semakin besar pula cakupan tanggung jawabnya.Rasulullah Saw bersabda:

“Ketahuilah, bahwa setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemim-pinannya. Seorang pria (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita (istri) adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang pelayan/hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas kepe-mimpinannya. Ketahuilah, bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan masing-masing harus mempertanggungjawabkan kepemim-pinannya.” [HR. al-Bukhari Muslim].

Ancaman terbesar umat islam sekarang ini justru ada pada tiap individu muslim sendiri. Sekuat apapun musuh yang menyerang masih bisa ditanggulangi asal umat islam mau bersatu dan saling bahu membahu. Tapi umat islam akan hancur dengan sendirinya manakala masing-masing dari mereka sudah terjangkit penyakit apatis: ketidakpedulian. Tentang hal itu Rasulallah Saw jauh-jauh hari telah memberi peringatan yang cukup keras. Rasulallah Saw bersabda:

“Siapa saja yang bangun pagi, sementara ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka ia tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka.” [HR. ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari].

Dewasa ini kehidupan social di lingkungan kita menuntut bukan hanya sekedar terpenuhinya sandang dan pangan belaka. Gaya hidup yang terpola membuat sementara orang berlomba-lomba untuk menaikkan gengsinya masing-masing. Memang secara kasat mata akan tampak makmur dan dinamis, namun tanpa disadari ada yang pelan-pelan hilang yaitu rasa kekeluargaan. Semua orang adalah “liyan” jika itu berkaitan dengan gengsi dan status social. Maka, jangankan untuk mencari derajat luhur di sisi Allah Swt dengan saling mengingatkan dan memberi nasehat, yang ada justru saling sikut saling tonjok. Kita lupa, bahwa masing-masing kita berasal dari satu nenek moyang saja. Rasulallah bersabda:

Seluruh makhluk adalah “keluarga” Allah. Sebaik-baik“ keluarga” Allah adalah orang yang paling bermanfaat dikalangan keluarga-Nya. (H.R. Tabharani ).

Jika kita mengenang para sahabat nabi, maka kita akan mendapati pribadi-pribadi mulia yang masing-masing rela mengorbankan apa saja, bahkan nyawanya sendiri, demi keselamatan saudara-saudaranya. Diceritakan, usai peperangan Yarmuk, Hudzaifah Al-Adawi pergi mencari anak pamannya di antara para pasukan yang terbunuh. Dia membawa air dengan harapan jika anak pamannya masih memiliki sisa-sisa hidup dia akan memberinya minum.

Benar, ternyata anak pamannya itu masih memiliki sisa-sisa hidup di antara orang-orang yang terbunuh. Katanya:

“Apakah anda butuh minum?”

Anak pamannya mengiyakan dengan isyarah. Tiba-tiba terdengar seseorang tidak jauh darinya menjerit kesakitan. Anak pamannya yang tengah kesakitan dan kehausan itu member isyarah kepada Hudzaifah Al adawi untuk pergi member minum kepada orang yang menjerit itu.

Orang yang menjerit itu ternyata Hisyam bin Ash. Hudzaifah Al-Adawi berkata:

”Apakah anda butuh minum? ” Hisyam bin Ash mengiyakan.

Tiba-tiba, berikutnya terdengar seorang terluka yang lain menjerit kesakitan. Hisyam bin Ash member isyarah kepadanya cepat pergi member minum orang yang menjerit itu.Hudzaifah Al Adawi bergegas menemuinya, ternyata dia sudah wafat. Dia lalu kembali ke Hisyam bin Ash. Didapati Hisyam bin Ash juga wafat. Dia terus berlari menuju anak pamannya. Ternyata anak pamannya juga telah wafat.

Dewasa ini perlu kiranya kita menggalang gerakan peduli demi mengembalikan ruh ukhuwah islamiyah. Dimana setiap orang pada akhirnya bisa menjadi da’I bagi dirinya sendiri dan lebih-lebih bagi orang lain. Dakwah yang kita pahami selama ini berkutat hanya sebatas pengajian-pengajian pada peringatan hari besar. Dalam acara semacam itu memang tampak semarak dan penuh gebyar namun efektivitas  ditimbulkannya akan jauh berbeda ketika kita bisa mulai dari rasa saling peduli antar sesama muslim, berdakwa dari hati ke hati dan saling mengingatkan dalam kebaikan. WallohuA’lam

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Mari Kuatkan Ukhuwah Berdakwah dengan Kepedulian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *