Makam Penuh Wangi Bunga, Berkunjung ke Makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Thursday, August 18th 2016. | Ziarah

maqom beliau

Makam Penuh Wangi Bunga

Berkunjung ke Makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Jika berkunjung ke Kalimantan Selatan, tidak lengkap rasanya kalau kita tidak berziarah ke makam Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Seorang ulama’ ahli fiqh yang berasal dari kota Martapura, yang sangat terkenal baik itu di Kalimantan ataupun sekitarnya. Sanad-sanad kitab yang ada di Indonesia pun banyak yang melewati jalur beliau. Pada masanya, beliau adalah tokoh yang sangat dikagumi dan merupakan mufti pada masa Kesultanan Banjar saat itu.

Perjalanan yang kami tempuh cukup terasa. Selama empat jam jarak yang kami tempuh dari kota Martapura. Disepanjang jalan, kita akan melihat banyak sekali rumah yang didirikan diatas sungai yang memang merupakan adat masyarakat setempat. Makam itu berada kurang lebih 15 KM dari pusat kota Martapura. Tepatnya di desa Kalampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar (Martapura), Propinsi Kalimantan Selatan.

Sesampainya disana, kami langsung menuju lokasi makam. Suasana sangat ramai karena banyaknya pengunjung yang ada. Ditambah dengan para penjual bunga tabur yang saling berebut untuk menjual dagangan. Pada hari minggu, biasanya suasana akan semakin pertambah ramai. Jalanan akan macet karena dipenuhi dengan mobil yang berada disamping kanan-kiri jalan.

Mengenal Syekh Muhammad Arsyad

Syekh Muhammad Arsyad al Banjari atau biasa dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, adalah seorang keturunan alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao. Masa kecil beliau tidaklah berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Namun, walau masih kecil beliau sudah terlihat akan kecerdasannya sehingga sultan Tahlilullah yang memangku kepemimpinan kerajaan saat itu menyuruh orang tuanya agar bersedia untuk membiarkan Arsyad kecil tinggal diistana dan belajar bersama cucu-cucu sultan. Kejadian itu terjadi setelah sultan melihat lukisan beliau yang sangat memukau. Padahal, saat itu beliau masih berumur 7 tahun. Arsyad kecil tumbuh dengan budi pekerti yang halus dan menyukai keindahan.

Hingga umur 30 tahun beliau menikah dengan seorang wanita bernama Tuan Bajut. Hinggga pada waktu istrinya hamil muda, beliau pergi ke kota Makkah untuk menimba ilmu. Meski berat mengingat kondisi sang istri yang ketika itu sedang hamil muda, hal itu beliau jalani dengan tabah. Di Makkah, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani dan lain sebagainya.

Walau lebih dari 35 tahun beliau belajar di Makkah dan Madinah, hasrat menuntut ilmu beliau tetap menggebu. Beliau izin kepada gurunya untuk meneruskan pencarian ilmu ke negeri Mesir, namun oleh gurunya ditahan dan disuruh untuk kembali ke kampong halamannya demi menyebarkan apa yang telah ia dapatkan selama disana.

Makam Bertabur Bunga

Setelah turun dari mobil, kami bersama rombongan segera menuju lokasi makam. Didepan makam kami langsung ditawari bunga oleh para penjual. Cukup murah, hanya 20.000,- tiap paket. Setelah masuk melewati pintu gerbang, ada terowongan yang menghubungkannya. Demi menjaga agar makam ini tetap bersih, sandal dititipkan kepada petugas.

Memasuki makam, kita akan disambut dengan wewangian bunga yang semerbak disemua penjuru. Wewangian itu muncul dari makam beliau yang di semua sisinya bertabur bunga. Ada tempat yang telah disediakan untuk menabur bunga. Jadi, walaupun tempatnya tertutup, anda tidak akan merasa pengap ataupun gerah karena wanginya yang semerbak akan menambah nyaman dan kekhusyu’an anda ketika berdo’a.

Selesai do’a, kami sengaja melihat-lihat sebentar daerah sekitar makam. Banyak sekali dagangan yang ditawarkan oleh pengunjung. Semuanya disediakan mulai buku, jajanan khas, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Selesai melihat-lihat kami mengunjungi sumber air yang katanya tanpa campur tangan manusia. Dengan kata lain muncul dengan sendirinya.

Air Barokah

Konon air itu bersumber dengan tanpa perantara apapun. Air yang ditemukan oleh salah satu wali Allah keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kurang begitu jelas tentang asal-usul air tersebut. Yang jelas banyak sekali orang-orang yang mengambil berkah dengan air itu untuk sekedar cuci muka, memandikan anaknya, minum, dan lain sebagainya.

Air itu telah disediakan dalam bak besar yang telah dicampur dengan kembang Otomatis air itu akan menjadi wangi harum. Saat kami disana pun banyak sekali yang berdatangan untuk mengambilnya. Mereka berebut untuk sekedar merasakan segarnya air tersebut.

Ironi Dimakam Wali

Setelah kami selesai dengan semua yang ada, ada beberapa hal yang mengganjal fikiran kami. Ada beberapa hal yang menurut kami entah mengapa begitu tidak pantas jika berada dimakam para wali. Ketika anda akan mulai memasuki pintu gerbang, anda akan disambut oleh banyaknya pengemis yang berada disamping kanan-kiri jalan. Pun jika sudah masuk berada diarea makam, pada lorong penghubung antara makam dan jalan, anda pasti akan menemukan begitu banyaknya pengemis yang berjajar.

Semua fasilitas pun terkesan mahal. Untuk menitipkan sandal saja kita harus membayar. Jika mengambil air barokah, anda harus menyisihkan sebagian uang anda untuk diberikan (dishodaqohkan) kepada petugas yang ada. Penjual bunga terkesan sedikit memaksa dalam penjualannya. Begitu anda datang, pasti anda akan dikerubung oleh penjual bunga tersebut.

Setelah kami bertanya-tanya kepada seorang teman tentang hal tersebut, ia mengatakan bahwa hal itu sebenarnya adalah berkah bagi pengunjung. Dengan adanya penjual bunga, pengunjung tidak perlu susah untuk membawanya dari rumah. Jika tidak ada mereka, tentu saja makam ini tidak akan sewangi yang sekarang. Dengan adanya pengemis yang berjajar, kita jadi bisa mensedekahkan sedikit uang kita. Kita jadi tahu bahwa sebenarnya masih banyak dari kita yang membutuhkan perhatian.

Demi mendengar jawaban itu, hati saya pun lega. dan kami kembali pulang dengan membawa kenangan indah karena telah berkunjung ke makam Tuan Guru Mulia, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

[Muhammad]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Makam Penuh Wangi Bunga, Berkunjung ke Makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *