Kota Seribu Sungai yang Religi (Banjarmasin)

Monday, September 16th 2013. | Cakrawala, Jalan-jalan

Kota Seribu Sungai yang Religi

Banjarmasin adalah salah satu kota besar di Indonesia yang tidak hanya memiliki kandungan kekayaan alam yang melimpah tetapi juga mempunyai kekayaan khazanah budaya dan moral keagamaan yang tinggi. Berikut oleh-oleh Saiful Huda, Wakil Pemimpin Umum majalah Langitan yang berkunjung di kota kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. (Redaksi)

 

Tidak salah bila Kota Banjarmasin disebut sebagai kota seribu sungai karena memang di ibukota Propinsi Kalimantan Selatan ini tidak sedikit kawasan yang dilalui oleh sungai besar dan sungai kecil. Banyaknya aliran sungai yang berada di Banjarmasin ini menjadi pemandangan yang sangat menarik khususnya bagi para penumpang pesawat udara yang akan mendarat di Bandar Udara Syamsudin Noor.  Sungai-sungai itu dari atas nampak terlihat seperti ribuan ular-ular kecil yang melingkar-lingkar.

Banyaknya sungai dan kanal (sungai kecil) terbukti telah mempengaruhi pola hidup dan budaya masyarakat kota Banjarmasin sehingga mereka menjadi sangat akrab dengan sungai. Salah satu indikasinya, rumah-rumah penduduk sampai sekarang masih banyak yang berdiri di atas sungai atau di atas rakit di pinggiran sungai. Begitu juga terdapat aktivitas perdagangan yang dikenal dengan pasar terapung. Sebuah pasar tradisonal yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas dan unik ini adalah tempat orang-orang dari berbagai pelosok melakukan transaksi di atas air dengan menggunakan perahu besar maupun kecil dari mulai pukul 05.00 sampai 09.00 waktu setempat.

Berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal memiliki daya tarik tersendiri. Dengan menyewa perahu klotok atau speedboat yang biasa mangkal di tepi sungai seperti sungai Martapura dan sungai Barito, para wisatawan dapat merasakan aslinya aroma pemandangan sungai dan dapat dengan leluasa menyaksikan kehidupan kota Banjarmasin dari tengah-tengah sungai.

 

Masjid Sabilal Muhtadin yang Megah

Bagi yang baru pertama kali melihat dari dekat kota Banjarmasin hampir pasti menilai bahwa aura kota seribu sungai ini cukup religius, tidak jauh beda kondisi keagamaannya dengan kebanyakan daerah di pulau Jawa. Nuansa keagamaan itu minimal terbaca dari maraknya keberadaan masjid dan mushalla sepanjang jalan dari Bandar udara Syamsudin Noor yang berada di Kabupaten Banjarbaru sampai Kota Banjarmasin. Begitu juga jika menyusuri sungai-sungai terlihat pemandangan masjid, mushalla dan madrasah yang bertebaran sepanjang pinggiran sungai.

Dari sekian banyak masjid itu terdapat sebuah masjid besar nan megah di jantung kota Banjarmasin menghadap sungai Martapura yang bernama Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Masjid yang model bangunannya berarsitektur modern dengan dikelilingi lima menara yang menjulang tinggi dan sedikitnya dapat menampung 15.000 jamaah ini adalah masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan dan menjadi pusat pengkajian Islam.

Nama Sabilal Muhtadin diambil dari nama kitab karya ulama besar Syech Muhammad Arsyad Al Banjary (1710-1812 M.) yang selama hidupnya fokus memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar yang kini bernama Kota Banjarmasin ini. Abdurrahman (50) salah seorang jama’ah masjid ini menuturkan, bahwa sejarah pemberian nama Sabilal Muhtadin ini sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Syech Muhammad Arsyad Al Banjary yang telah meletakkan dasar agama Islam di daerah ini. “Alhamdulillah berkat peletakan dasar itu sampai saat ini suri tauladan beliau masih terasa, buktinya banyak masjid, mushalla dan madrasah didirikan oleh penduduk di setiap desa dan kota di Kalimantan Selatan ini,” ujarnya.

 

Banyak Makam Para Wali

Budaya berziarah ke makam-makam para wali oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia ternyata tidak hanya berlaku di pulau Jawa yang terkenal dengan istilah ziarah Wali Songo. Di Banjarmasin atau secara umum di Kalimantan Selatan budaya ziarah ke makam para wali juga berjalan meski tidak sepopuler di tanah Jawa. Menurut Banu (45) warga setempat, setiap ada kesempatan dia pasti berziarah ke makam-makam para wali di bumi Kalimantan Selatan. “Tidak hanya di sini tapi juga ke makam-makam lainnya. Kadang berangkat sendiri tapi kadang juga berangkat secara rombongan ke beberapa makam sekaligus,” tutur Banu seusai berziarah di makam Sultan Suriansyah dan Khatib Dayan yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Dengan banyaknya makam para wali nampaknya Kota Banjarmasin tidak salah bila dijuluki sebagai kota wali.  Selain makam Sultan Suriansyah dan Khatib Dayan ada juga makam ulama besar Syech Muhammad Arsyad Al Banjari atau yang dikenal juga Datu Kalampayan yang berada di Kalampayan, Astambul, Banjarmasin, sekitar 56 km dari jantung kota. Di Banjarmasin Utara juga terdapat makam Tuan Guru H. Surgi Mufti Jamaluddin yaitu salah satu cicit Syech Muhammad Arsyad Al Banjary. Di sekitar Kota Martapura atau berjarak 2 km terdapat juga makam Guru Sekumpul. Sedangkan di Banjarmasih Selatan tepatnya di Kelurahan Barisih terdapat makam Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau yang dikenal dengan sebutan Habib Basirih. Dan masih banyak lagi makam-makam para wali lainnya yang menjadi objek ziarah umat Islam di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Banjarmasin 1Banjarmasin 2Banjarmasin 3

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Kota Seribu Sungai yang Religi (Banjarmasin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *