Kisah Ajaib di Lereng Bukit Amitunon

Saturday, March 18th 2017. | Cakrawala

Kisah Ajaib di Lereng Bukit Amitunon

Sejak kecil kegemaran saya adalah mendengarkan cerita, dan yang paling saya suka adalah cerita tentang wali-wali atau nabi. Karena dalam cerita-cerita itu sudah pasti terdapat keajaiban yang mencengangkan. Salah satu yang tidak mungkin saya lupakan adalah kisah Nabi Sulaiman dan jin yang menggendong istana dalam sekejap mata. Kisah lain yang juga mencengangkan adalah tentang seorang pemuda, manusia biasa, yang memindahkan masjid dalam waktu satu malam dari Jepara ke Lamongan. Masjid itu bahkan masih ada sampai sekarang. Berdiri megah di puncak Bukit Amituno, Desa Sendang Duwur, Paciran Lamongan.

Pemuda sakti itu adalah Raden Noer Rahmad. Putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Dilahirkan pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Data-data itu dapat dibaca dinding makam beliau yang terletak di komplek pemakaman samping masjid.

Komplek makam itu seperti candi hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

 

Boyong Masjid dalam Semalam

Hal yang tak kalah menarik dari bangunan-bangunan megah itu adalah kisah yang pernah terjadi di sana. Mari kita bayangkan Raden Noer Rahmad sebagai sosok pemuda tampan berhidung mancung, berjanggut lebat dan berpakaian seperti halnya potret wali-wali dalam poster. Dan, selain Raden Noer Rahmad kisah ini juga melibatkan Sunan Drajad, Sunan Kalijogo dan Mbok Rondo Mantingan atau Ratu Kalinyamat.

Konon, setelah cukup lama berdakwah di lereng bukit amitunon, Raden Noer Rahmad akhirnya berhasil mengajak beberapa penduduk untuk mengamalkan ajaran agama islam. Dan, karena itulah beliau merasa perlu untuk membangun masjid sebagai sarana ibadah. Persoalannya adalah Raden Noer Rahmad tidak menemukan di sekitar tempat itu bahan-bahan yang cocok untuk masjidnya. Maka, ia menemui Sunan Drajad untuk minta petunjuk. Dari Sunan Drajad beliau disarankan menemui Sunan Kalijogo. Dan, dari sinilah Raden Noer Rahmad mendapat informasi tentang sebuah Masjid di Mantingan milik seorang janda yang dijuluki Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi Bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa berdakwah dan menyiarkan agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi.

Setelah itu Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rahmad pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Namun sesampainya di sana beliau justru disambut dengan sebuah tantangan oleh Ratu Kalinyamat. “Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain, masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.”

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Entahlah, bagaimana caranya masjid itu bisa pindah? Tidak ada data yang jelas mengenai hal ini, apakah dipindahkan secara gaib karena karamahnya atau dengan cara yang lain?

Masjid Sendang Duwur pun berdiri di Bukit Amitunon, ditandai surya sengkala yang berbunyi: “gunaning seliro tirti hayu” yang menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tersebut dibawa rombongan (yang diperintah Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) melalui laut dari Mantingan menuju timur (Lamongan) dalam satu malam. Rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok (Tanjung Kodok) yang terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.

Rombongan dari Mantingan itu disambut Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya. Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat.

Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat. Berawal dari sini, sehingga setiap tahun di Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

Selain peninggalan masjid yang terkenal, salah satu hal yang tak terlupakan dari Sunan Sendang Duwur adalah ajarannya tentang “mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu” (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu). Ajaran sunan ini dimaksudkan agar seseorang selalu berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Ya, konsep sedekah ala Sunan Sendang Duwur ini kemudian dipraktekkan oleh orang-orang zaman sekarang, sehingga sekarang kita dengar tentang keajaiban sedekah, mukjizat sedekah dan sebagainya. Jauh sebelum ini, Sunan Sendang Duwur telah mengajarkannya dengan baik kepada para pengikutnya.

Sunan Sendang Duwur dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa  mempunyai banyak jejak peninggalannya yang bisa kita lihat hingga sekarang, yang menunjukkan akan kiprahnya yang sangat besar dalam perkembangan Islam di Jawa. (Atok)

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Kisah Ajaib di Lereng Bukit Amitunon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *