Kiai Muhammad Amin Muhyiddin; Mengasuh Pesantren di Usia Belia  

Wednesday, December 31st 2014. | Tokoh

IMG_5236.CR2

“Mondok itu bagaikan menggali sumur, butuh usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sumbernya. Mondok pun harus dengan ketekunan dan kegigihan supaya mendapatkan kemanfaatan dari ilmu. Jangan sampai ditengah-tengah kita mondok, malah berhenti di tengah jalan. Jangan sampai menggali sumur tapi tidak menyelesaikannya, bagaimana mungkin bisa mendapatkan kemanfaatannya?. Selesai dengan guru satu, baru pindah pada yang lainnya”.

[Gus Muh]

 

Polemik Sepeninggal Kiai Sepuh

Sederhana, namun tidak meninggalkan kesan wibawa. Pria kelahiran 1983 M. dengan nama lengkap Muhammad Amin Muhyiddin lahir dari pasangan Kiai Muhammad Thohir dan Nyai Siti Amanah. Gus Muh (sapaan akrab Kiai Muhammad Amin), merupakan putra ke sembilan dari sebelas bersaudara, lima perempuan, dan enam laki-laki. Beliau bertempat tinggal di Jl. Sumowiharjo, Gilang, Babat, Lamongan, Jawa Timur.

Gus Muh merupakan generasi penerus ketiga dari kepengasuhan Pondok Pesantren Salafiyah Ihya’ul ‘Ulum. Sebelumnya, pondok ini di asuh oleh Syaikh Fakhrur Rozi al-hajj yang  merupakan paman beliau sendiri. Ayah Gus Muh merupakan murid pertama dari Syaikh Abdul Qohar (muassis pondok), sedangkan ibu beliau adalah adik kandung paling bungsu Kiai Fakhrur Rozi. Beliau mulai mengasuh pondok pada tanggal 31 Juli 2004 M./13 Jumadil Akhir 1425 H., tepatnya setelah ‘mangkatnya’ paman beliau.

Ritual nyantri Gus Muh dimulai dari Pondok Pesantren Langitan sekitar tahun 1994-1995 M. sampai sekarang. Kemudian melanjutkan studi rohaninya di pondok pesantren Gedang Sewu selama 10 hari. Aneh juga saat beliau mengatakan pernah menetap di terminal (tidak pulang ke rumah) selama tiga tahun. Setelah itu beliau menetap di rumah hingga akhirnya beliau mengemban mandat mengasuh pondok setelah wafatnya sang paman wafat tahun 2004. “Sami’na wa ‘atha’na”, walaupun tidak bisa, dengan bismillah, ya saya jalani saja. Semua Allah yang mengatur”, ujar beliau.

Gus Muh menambahkan, “Ketika itu (pergantian pengasuh), umur saya masih 21 tahun. Secara nalar pasti tidak bisa masuk akal. Polemikpun timbul saat pergantian kepengasuhan, baik dari alumni atau pun keluarga. Bahkan, pada waktu itu alumni terpecah menjadi dua bagian. Bagaimana tidak? Waktu itu saya masih kecil dan gondrong pula.”

Waktu pertama kali di utus oleh Kiai Rozi, beliau sowan ke Kiai (KH. Abdullah Faqih) Langitan  untuk meminta dawuh (baca:  solusi). Beliau pun mendapatkan dawuh agar melakukan tiga hal jika ingin di tolong oleh Allah Swt, yaitu ikhlas, istiqamah, dan sabar.

 

Pondok Pesantren, Benteng Terakhir Islam

Menurut beliau, pondok pesantren sekarang ini menjadi benteng terakhir pertahanan Islam. Jika pesantren sudah rusak, rusaklah agama ini.  Sebab sekarang ini banyak sekali aliran-aliran yang aneh-aneh seperti Wahabi, Syi’ah, MTA. padahal, itu adalah bentuk pembauran orang-orang zionis, dalam membaurkan pemahaman.

Di pesantrenlah hal yang hak dan batil bisa dibedakan. Tidak ada jaminan untuk selain pesantren. Di sana (pesantren) masih murni kebenarannya. “Saya pernah membaca buku tertulis “Ada 30 kemurtadan di IAIN”,  saya sangat prihatin. Jadi yang dirubah itu pola pikir. Jika Ahmadiyah, mungkin kita bisa menjauhinya karena sudah tahu kesesatannya. Tapi jika yang dirubah adalah pola pikir, bagaimana cara berpikir liberal dan plural, itulah yang mengkhawatirkan. Maka  eksistensi pondok pesantren sangatlah penting bagi masyarakat.

Sebenarnya kasihan juga mereka yang bermaksud baik dengan ingin mendekat pada Allah, tapi salah jalan dan tidak tepat cara pemahamannya. Mengira benar, padahal berada dalam kesesatan.

 

Akhlak Sebagai Nilai Dasar

Menjadi seorang pengasuh, akhlak adalah prioritas dasar yang beliau ajarkan terhadap para santrinya. Metode pengembangan Pesantren Gilang (Ihya’ul ‘Ulum) sebenarnya tak jauh beda dengan Pondok Langitan, mulai jamaah, musyawarah, dll. Bahkan, menurut beliau ajaran dalam membangun karakter yang paling berkesan dari Langitan pada beliau adalah jamaahnya.

“Setahu saya, pondok yang mewajibkan jamaah dengan tidak itu akan berbeda. Terlihat dari para alumninya, rata-rata para alumni dari pondok yang mewajibkan jamaah pasti sangat dibutuhkan masyarakat walaupun sebenarnya tidak alim. Begitu pula sebaliknya”, Ujar Gus Muh.

Berlandaskan pada pesan pengasuh terdahulu, Ihya’ul ‘Ulum tetap bermetodekan salaf sampai kiamat. Namun hal itu tidak serta merta membuat Gus Muh beliau anti terhadap inovasi kekinian. Beliau akan dengan semangat menggaet lembaga-lembaga atau instansi lain sebagai kebutuhan di era saat ini, seperti program wajar dikdas atau paket. “Ya, siapa tahu di masa mendatang merekalah yang nantinya akan menjadi jaksa, modin, atau lainnya yang mengurusi Negara ini. Jangan sampai Negara ini dipimpin oleh orang yang tidak tahu agama bahkan, caracebok pun tidak bisa”, kata beliau beliau.

 

Berebut Bakiak

Kenangan paling bekesan bagi beliau sewaktu mondok di Langitan adalah berkesempatan untuk menata bakiak Kiai. “Dulu, para santri kalau menata bakiak Kiai pasti rebutan. Dawuh Kiai, “Ro’an iku minangka mahare ilmu” (kerja bakti itu bagai mahar bagi ilmu). Jadi santri-santri ketika hari libur Selasa atau Jumat pasti berebut untuk mengambil daun-daun yang berserakan. Mereka yakin bahwa satu daun, adalah bagaikan satu bab pelajaran. Bukan kecerdasan yang menjadi tolak ukur”, ungkap Gus Muh.

“Sebagai santri tentu kita harus patuh dan taat pada kiai. Karena mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk kita. Jangan sampai mengecewakannya, insyaAllah ilmu kita akan berkah. Jangan sampai pula kita meremehkan kiai, guru, kitab dan ilmu. Belum tentu pelajaran yang kita pelajari hingga enam kali akan membuahkan inti sarinya. Terkadang ketika mengulangi pelajaran ketujuh-lah hati kita baru ter-futuh dan baru bisa mendapatkan manfaatnya” pesan Gus Muh sebelum kami berpamitan.

 

[Muhammad Ichsan & Noval]

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Kiai Muhammad Amin Muhyiddin; Mengasuh Pesantren di Usia Belia  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *