Kiai dan Motivasi Berjuang

Saturday, April 9th 2016. | Jejak Utama

mbah yai mukhit muzadi

Kiai dan Motivasi Berjuang

 

Setelah sekitar lima jam menaiki bis jurusan Surabaya-Banyuwangi, kami turun di terminal Tawang Alun, Jember. Beristirahat sebentar, kami menuju ke kediaman KH. Muchit Muzadi. Rumah beliau tidak jauh dari pusat kota, hanya berjarak sekitar 1,5 KM.

Sebelumnya, kami sempat berziarah ke makam beliau. Pertama kali melihatnya, kami tidak menyangka bahwa makam ulama’ sekaliber beliau cukup sederhana. Makam beliau berada di sisi jalan berdampingan dengan makam sang istri. Beberapa bunga nampak bertaburan di atasnya.

Selesai berziarah, kami duduk sejenak di Masjid Sunan Kalijaga yang berada di samping rumah beliau. Hingga beberapa saat, akhirnya kami dapat bertamu kepada putra bungsu beliau, Gus Alfian Futuhul Hadi (biasa dipanggil Gus Ucuk), guna menanyakan beberapa hal tentang Mbah Muchit.

 

Pengayom Agent of Change

Beliau termasuk sosok nyentrik dan low profile, apalagi saat berhubungan dengan mahasiswa. Ketika bergaul, beliau  bisa menyesuaikan dengan dunia akademis. Jika diundang berdiskusi oleh mahasiswa, beliau begitu antusias dan berusaha untuk menyanggupi undangan tersebut.

Terakhir kali beliau diundang oleh mahasaiswa, beliau bahkan berkata: “Aku arep ngajak diskusi karo mahasiswa” (saya ingin mengajak mahasiswa berdiskusi). Beliau bukan sosok yang gemar mengeluarkan keputusan, melainkan selalu mengutamakan diskusi dalam menghadapi permasalahan.

Identitas kampus menempel pada diri beliau. Beliau berkeyakinan bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa. Beliau beranggapan, jangan sampai sejarah NU tidak diketahui oleh generasi muda.

Gus Ucuk mengaku, “Karena saya lahir pada tahun 1974 dan masuk Sekolah Dasar pada tahun 1984, yang pada saat itu adalah waktu dimana bapak sudah pensiun, seharusnya waktu bapak akan banyak berada di rumah. Tetapi tidak, ternyata bapak pada waktu itu malah banyak urusan. Mungkin separuh harinya diberikan untuk orang lain.”

 

Cerita Perjuangan

Mbah Muchit sangat disibukkan dengan berbagai urusan, sehingga waktu Gus Ucuk dengan bapaknya hanya sedikit. Namun demikian, beliau sering bertanya tentang pelajaran sekolah.

Beliau paling bersemangat ketika bercerita tentang pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa). Banyak cerita beliau yang tidak tercatat sejarah. Mengenai hal ini, Gus Ucuk bertutur, “Ya, baru sekarang kan, diakui adanya hari santri, ada resolusi jihad.  Kalau dulu kan tidak muncul. Seolah-olah hanya ada perang, kemudian tiba-tiba rakyat melawan. Tidak ada cerita bahwa di sana ada ada peran ulama’ atau kiai. Namun bapak telah mengatakan itu sudah sejak lama. Sering kali bercerita, bapak ingin bicaranya soal itu, bukan yang lain.”

Mbah Muchit berkehendak agar Hari Santri ditetapkan pada 22 Nopember, bukan satu Muharram. Sebab, pada tanggal inilah Resolusi Jihad meletus.

 

Penuh Kesederhanaan

Kesederhanaan beliau bisa dilihat dari makam beliau. Sebenarnya beliau sendiri yang menghendaki agar makam beliau dibangun demikian. Permintaan ini disampaikan beliau sebelum wafat. Beliau juga berpesan kepada keluarganya untuk tidak menerima karangan bunga dari seorang pun. Tak heran jika pada waktu beliau wafat, banyak karangan bunga yang ditaruh di belakang rumah. Oleh pihak keluarga, karangan bunga itu dipereteli, sementara bunganya ditaburkan ke semua makam yang ada.

Beliau sama sekali tidak berhasrat membeli mobil. Adapun mobil yang dipunyai merupakan pemberian BEM. Padahal, untuk sekadar membeli mobil, uang beliau pasti mencukupi. Namun, atas berbagai pertimbangan, hal itu tidak beliau lakukan.

 

Humoris

Gus Ucuk bercerita, “Dulu ketika saya masuk SD, bapak telah pensiun. Setelah pensiun bapak meminta untuk menjemput sekolah. Waktu jemput itu jarang sekali yang langsung pulang. Kadang diajak ke IAIN atau pun ke tempat lain. Dan saat itu saya tahu kalau bapak itu suka bercanda. “

“Karena saya kembar, waktu digonceng berdua tentu saja akan jadi perhatian. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan bagi anak kembar kan biasanya, “iki tuek endi?” (ini yang lebih tua mana?) dan bapak selalu mendahului menjawab. “yo tuek aku” (ya tua saya). Itu pada kesempatan pertama, kemudian pada kesempatan kedua ketiga, ya kadang-kadang, saya atau kembaran saya yang mendahului menjawab “yo tuek bapak’e” (ya tua bapaknya).

“Bapak itu kemana-mana sering menceritakan bahwa ibu itu orang Muhammadiyah. Namun ibu selalu marah jika bapak berkata seperti itu. Ibu tidak suka dengan kata itu. Mungkin ini menjadi hal yang menarik bagi orang lain, namun tidak bagi ibu.”

 

Cinta Tebu Ireng

Mbah Muchit sangat mencintai Pondok Tebu Ireng. Di pondok inilah beliau menimba ilmu. Pada waktu Muktamar ke-33 diselenggarakan, beliau menyempatkan diri pergi ke sana. Pertimbangan beliau, jarang sekali Muktamar diadakan di Tebu Ireng. Tepat satu bulan setelah kunjungan inilah beliau menghembuskan nafas terakhir.

Sosok yang tercatat sebagai musytasyar (penasihat) PBNU 2015-2020 hasil Muktamar di Jombang ini adalah murid Mbah Hasyim yang gemar mengenalkan nilai perjuangan kepada kaum muda. Semoga kita bisa meniru sosok beliau yang istiqomah dalam berjuang. Aamiin.

[Muhammad Ichsan/Wildan Shofa]

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Kiai dan Motivasi Berjuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *