Kiai Da’i

Saturday, January 9th 2016. | Cerpen

Kiai dai

Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik.

Di waktu kumandang talbiyah menggema, dan segenap hati bertahta menyebut keagunganNya, saat itu tiba-tiba aku merasakan sakit kepala yang hebat, apalagi di tengah desakan berjuta jama’ah haji. Sepertinya kaki ini tak mampu lagi berdiri, sehingga hampir-hampir saja tubuh renta ini terhuyung jatuh. Tapi seorang pemuda berperawakan gempal tiba-tiba menopangku, membawaku ke tepi pelataran Masjidil Haram.

Syukron…

Dengan pandangan yang masih buram aku ucapkan rasa terima kasihku kepada pemuda itu dengan bahasa Arab. Mungkin dia berasal dari Timur Tengah, melihat jambang dan kumis tebalnya, serta hidung lancip Arabnya.

Sami-sami, Ustadz.”

Loh, dia membalas dengan bahasa Jawa, belum selesai keherananku,

Tasek iling kulo?

Dia bertanya apa aku masih mengingatnya. Siapa sebenarnya pemuda ini? Dia mengenalku. Aku coba memperjelas pandangan, memutar paksa memori untuk mengingatnya.

Kulo Irsyad, Ustadz, Irsyadul Ibad, murid panjenengan riyen,

Pemuda itu membantuku mengingatnya dengan langsung menyebutkan namanya. Dan secara otomatis semua tentang pemuda ini tiba-tiba tampak jelas di mata.

Suwun yo, nak. Suwun seng uakeh.

Kupeluk pemuda itu dengan air mata yang begitu saja menetes tanpa kupinta.

***

“Ustadz, ini keluarga saya ada acara resepsi pernikahan di rumah. Saya meminta Ustadz berkenan mengisi pengajian.”

Entah dapat inisiatif dari mana, Irsyad memintaku ceramah. Mau menyampaikan apa nanti, wong pegang mic saja gemetaran, lha ini malah disuruh ceramah.

“Saya ini nggak bisa ceramah, Syad. Kamu ini ada-ada saja.”

“Tapi, Ustadz, setiap kali di kelas, di kamar Ustadz, ketika saya mendengar dawuh-dawuh Ustadz, hati saya ini lho kok adem, ayem mendadak. Teman-teman yang lain juga merasa begitu kok, Ustadz. Makanya saya ingin sekali Ustadz berkenan mengaji untuk keluarga saya.”

Irsyad masih kekeh dengan permohonanya yang setengah memaksa. Ingin rasanya memenuhi permintaannya, tapi apa saya ini pantas ndawuhi orang-orang. Ragu, iya atau tidak, cukup lama aku terdiam. Sementara Irsyad dengan wajah penuh harapnya masih setia menungguku memberi jawaban. Bismillah, segenap kepercayaan diri berhasil kukumpulkan.

“Baiklah, Syad. Tapi, sebelumnya maaf sekali kalau nanti saya tidak bisa seperti yang kamu harapkan.”

Demi mendengar jawaban yang dia inginkan, wajah Irsyad berbinar. Berkali-kali mengucapkan terima kasih sambil menciumi tanganku. Lagi-lagi air mataku menetes dengan deras.

***

Pripun, Ustadz, kabar njenengan, sehat?

Aku masih memandanginya penuh kagum dan haru.

Alhamdulillah, Syad, awakmu na ndi wae kok ora tahu nyambangi aku?

Sejak Irsyad memutuskan untuk pulang dari pondok, memang tak banyak yang mendengar kabarnya. Tapi sebagai seorang guru, saya hanya bisa mendo’akan Irsyad dari jauh, berharap dia mendapat kehidupan yang layak, ilmu manfa’at, dan kekuatan iman.

Ngapunten sanget, Ustadz. Saya tidak pernah menghubungi Ustadz. Maafkan saya.”

Suasana semakin haru. Irsyad malah bersimpuh mencium tanganku meminta maaf. Seperti melihat Irsyad yang dulu di pondok, dia adalah salah satu murid yang paling dekat dengan saya. Irsyad banyak membantu apa yang saya perlukan. Dia selalu merepotkan diri untuk melayani gurunya.

Gak popo, Syad, saiki awakmu nang ndi?

Aku ingin segera mendengar kabar Irsyad. Semoga kabar yang akan aku dengar membahagiakan.

“Setelah pulang dari pondok, enam bulan saya di rumah, Ustadz. Kemudian saya nekat menyusul kakak saya menjadi TKI di Arab Saudi. Saya niatkan untuk mengaji di sini.”

Aku masih menyimak cerita Irsyad.

“Dan alhamdulillah, Ustadz. Saya kesampaian bisa menimba ilmu kepada Abuya Sayyid Muhammad. Sebagaimana yang sering Ustadz ceritakan dulu tentang Abuya, saya pun sejak itu memendam mimpi untuk bisa mengaji kepada beliau. Tahun ini, setelah berhaji, saya diperbolehkan kembali ke tanah air.”

Subhanallah, aku mengusap rambut Irsyad, mengingat kembali sosoknya yang dulu masih kecil.

“Ini semua berkat motivasi dan do’a-do’a yang Ustadz panjatkan untuk saya selama ini. Berkat kesabaran Ustadz menghadapi kebandelan saya. Maafkan Irsyad, Ustadz. Syukron Katsiron.

Irsyad kembali mencium tanganku.

“Aku juga ingin mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya, Syad. Karena kamu, karena permintaan kamu yang memaksa saya untuk berceramah, akhirnya saya bisa mendakwahkan ilmu melalui ceramah, Syad, ini berkat kamu, kamu yang selalu memaksa saya, kamu yang selalu mau mengantarkan saya ke tempat-tempat undangan ceramah.”

Aku kembali memeluknya.

“Jika kamu kembali ke tanah air, dengan sangat, berkenanlah kamu membantuku di rumah. Banyak santri yang membutuhkan orang sepertimu, Syad.”

Labbaik, Ustadz. Panjenengan Kiai Da’i kulo. Benar-benar Da’i sebagaimana nama panjenengan.

 

Langitan, 13 Dzulhijjah

Adi Ahlu Dzikri

Santri Langitan dari Kaki Gunung Pegat

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Kiai Da’i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *