Khilafiyah Tafaul dengan Al-Qur’an

Monday, April 9th 2018. | Aswaja, Kajian


Ketika seseorang bingung memilih antara dua pilihan, maka pertama yang harus dilakukan adalah melakukan istikharah. Rasulullah Saw mengajarkan sahabat melakukan istikharah dengan cara membaca Alquran setelah melaksanakan salat dua rakaat. Pada setiap rakaat membaca surat al-Fatihah, ayat kursi satu kali, surat al-Ikhlas tiga kali dan surat al-Muawwidzatain satu kali. Kemudian setelah salam membaca doa berikut:
الحمد لله رب العالمين اللّهم صلّ علي محمّد النّبيّ الامّيّ وعلى اله كما صلّيت على ابراهيم وعلى اله وبارك على محمّد وعلى اله كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم في العالمين انّك حميد مجيد. اللّهم انّي أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسئلك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وانت علام الغيوب . اللّهم ان كان هذا الامر خير لي في ديني ودنياى وعاقبة امري وعاجله واجله فيسره لي وان كنت تعلم ان هذالامر شر لي في ديني ودنياى واخرتي وعاقبة امري وعاجله واجله فاصرف عني واصرفني عنه واقدرلي الخير حيث كان ثم رضّني به يا ارحم الراحمين
kemudian mengucapkan
خيّر لي واختر لي x ٧
Bila semuanya telah dilakukan, maka ke arah mana hatinya lebih condong di antara dua perkara tersebut, maka itulah hasil istikharahnya.
Dalam Fatawi al-Sufiyah menukil dari Imam al-Zindusti bahwa istikharah atau tafaul dengan Alquran tidak masalah sebab hal ini telah dilakukan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal.
Diriwayatkan dari Ali Ra, beliau berkata, “Barang siapa yang ingin melakukan tafaul dengan Alquran maka bacalah surat al Ikhlas tujuh kali, lalu membaca doa tiga kali:
اللهم بكتابك تفاؤلت وعليك توكلت اللهم ارني فى كتابك ما هو المكتوم من سرك المكنون فى غيبك
Wahai Tuhan kami. Dengan kitab-Mu kami bertafaul dan kepada-Mu kami berpangku pasrah. Wahai Tuhan kami. Perlihatkan kepadaku hal yang tersimpan berupa rahasia ilmu gaib yang terkandung dalam kitab-Mu.
Kemudian dia melakukan tafaul dengan awal mushaf Alquran yang terbuka, lalu melihat pilihan yang ada dalam hatinya.
Sebagian ulama memperbolehkannya dengan memutlakan hadis yang diriwayatkan sahabat, “Nabi suka tafaul dan melarang thiyarah.”
Telah diterangkan oleh Al Imam Al Allamah Abu Bakar bin Arabi dalam kitabnya Al-Ahkam fi Surah al-Maidah mengenai haramnya tafaul dengan Alquran. Pendapat ini dinukil oleh Imam al-Qurafi dari Imam al-Thurthausy dengan menyatakan bahwa tafaul dengan Alquran termasuk istiqsam bi al azlam (mengundi nasib dengan panah) yang menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyyah.
Imam al Damiry berkata, “menurut madzhab kami hukumnya makruh akan tetapi Ibnu Bithah Al-Hanbali memperbolehkannya. Ia berkata dalam kitab Madinah ulum, “Pendapat lebih shahih yang syariat menyaksikan atas diperbolehkannya menguji coba atas kebenarannya adalah tafaul Alquran. Dan hal ini telah dinukil dari sahabat dan beberapa ulama al salaf al-shalihin. Tata cara tafaul dengan mushaf banyak sekali dan telah masyhur di masyarakat. Akan tetapi yang paling bagus adalah dengan merenungkan kandungan ayatnya bukan lafal atau hurufnya.”
Perbedaan ini terjadi karena sudut pandang yang berbeda. Ulama memperbolehkan tafaul dengan Alquran dengan memandang pada makna dari tafaul. Sedangkan ulama yang melarang melihat pada huruf yang dijadikan penentu nasib, yang mereka anggap sebagai bentuk istiqsam bi al azlam. Tafaul yang digemari Nabi Saw adalah tafaul yang menyatakan bentuk berbaik sangka kepada Allah Swt, bukan tafaul yang memunculkan prasangka buruk kepada Allah Swt tanpa sebab yang jelas. Wallahu a’lam
Muslimin Syairozi

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Khilafiyah Tafaul dengan Al-Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *