Khayalan “Musim Semi” di Syria

Saturday, May 4th 2013. | Cakrawala, Jalan-jalan

“Lupakan mereka, dan lahirkanlah anak-anak yang lain! Atau bawa kemari istri-istri kalian agar kami hamili bila kalian tidak mampu!”

Beberapa orang tua datang ke penjara di Bar’a untuk memohon kepada aparat setempat membebaskan anak-anak mereka yang masih belia. Tapi jawaban itulah yang mereka terima. Singkat namun menusuk hati.

Sehari sebelumnya beberapa bocah berusia di bawah lima belas tahun mencoret-coret tembok di salah satu sudut kota Bar’a dengan kalimat yang mereka contek sekenanya dari slogan-slogan revolusi yang umum didengunkan di bangsa-bangsa Arab saat itu. Mereka mungkin tak tahu benar apa makna slogan itu, tapi aparat kemanan menanggapi itu dengan serius. Bocah-bocah belia itu ditangkap. Dan orang tua mereka menemukan bahwa bocah-bocah itu diperlakukan dengan bengis. Ada bekas luka bakar, lebam dan kuku jari-jari mereka tercabut.

Entah bagaimana kalimat makian itu kemudian tersebar ke seantero Syria dan membakar semangat para pemuda untuk melakukan “revolusi”. Sesuatu yang rasanya mustahil terjadi di Negara yang selama hampir lima puluh tahun terakhir dikuasai oleh partai Baath di bawah pimpinan presiden Hafidz dan Bashar al-Asaad.

Presiden Bashar mendapatkan kekuasaannya secara aklamasi pada tahun 2000 dengan dukungan 91 persen suara dari parlemen. Sementara banyak pengamat menilai bahwa proses demokratisasi di Syria adalah akal-akalan rezim partai Baath semata. Mereka menganggap Bashar tidak lain mendapatkan warisan kekuasaan dari ayahnya, Hafedz al-Asaad setelah berkuasa selama kurang lebih empat dekade. Sebenarnya Bashar yang menjalani sebagian besar pendidikannya sebagai dokter mata di Damaskus dan Inggris itu belum cukup memenuhi syarat untuk menjadi presiden menurut undang-undang Syria. Ia baru 35 tahun waktu itu. Tapi dengan proses yang begitu singkat para petinggi negeri itu melakukan amandemen undang-undang karena menganggap tak ada satu pun pemuda Syria yang lebih pantas menjadi presiden selain Bashar. Maka dimulailah “era baru” pemerintahan Syria yang “demokratis”.

Pada bulan-bulan pertama pemerintahan Bashar, ia menampilkan diri sebagai sosok developer yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Ia gencar mengampanyekan penggunaan komputer dan internet kepada rakyat Syria. Bahkan, dia juga memberikan kembali izin terbit untuk beberapa media massa yang pada waktu pemerintahan ayahnya dilarang terbit.

bunga-bersemiTapi “angin segar” itu berhembus tidak lama. Dalam berjalannya waktu proses demokratisasi itu berhenti, bahkan berjalan ke arah sebaliknya. Rakyat Syria yang sudah terlalu terbiasa hidup dalam cengkraman rezim represif Hafedz al Asaad tidak terlalu kaget dengan hal itu.
Sejak resmi menjadi republik pada tahun 1949, Syria setidaknya telah mengalami tiga kali kudeta berdarah. Pada bulan Maret 1949 M, dilakukan oleh kelompok pimpinan Sami al-Hanawi. Kudeta yang kedua meledak bulan Agustus di bawah kepemimpinan Hasan al-Zaim yang dibantu oleh Inggris. Dan, pada bulan September di bawah pimpinan  Adib Al-Syisyakli. Sampai tibalah masa Hafedz Al Asaad dua puluh tahun kemudian juga dengan kudeta militer yang berdarah. Ia berangkat dengan menunggangi partai Baath yang berhaluan sosialis dan mendapat dukungan militer dari Russia dan China.

Para pengamat mengatakan bahwa Hafedz adalah manusia bertangan besi yang melindungi kekuasaannya dengan cara apapun. Pada tahun-tahun pertama kekuasaannya, ia menyingkirkan rekan-rekan seperjuangannya dari lingkungan kekuasaan. Selama hampir empat puluh tahun masa pemerintahan Hafedz adalah tahun-tahun yang berat bagi penduduk Syria. Pemerintah memberlakukan undang-undang darurat untuk menghindari kemungkinan kudeta. Ditambah lagi para petinggi partai Baath yang beraliran Alawaiyah melihat ancaman serius pada golongan sunni yang berjumlah 80 persen dari keseluruhan penduduk muslim di Syria. Sepanjang tahun-tahun itu catatan demi catatan ditorehkan dalam sejarah hitam kekuasaan militer Hafedz al Asaad. Dan gaya itulah yang diwarisi dengan sempurna oleh Bashar dalam memimpin Syria sepuluh tahun terakhir.

Lalu tiba-tiba dunia Arab meledak oleh revolusi. Rakyat Tunis keluar ke jalan-jalan raya (17/12/2010), disusul rakyat Mesir (25/1/2011), kemudian rakyat Yaman (11/2/2011) dan Libya (17/2/2011). “Musim semi telah tiba,” begitu kata para pengamat untuk mengomentari kebangkitan rakyat Arab merebut demokrasi dari tangan rezim otoriter, terlepas dari teori-teori yang berkembang selama ini tentang konspirasi intelegen dan sebagaianya. Tak ada yang menyangka “virus” revolusi itu akan pula menjangkit di Syria. Ketika terjadi badai revolusi di timur tengah itu, presiden Bashar memberikan keterangan pers, ia menjamin situasi negaranya akan tetap kondusif. Tapi diam-diam para pemuda melakukan kampanye anti pemerintah melalui jejaring sosial. Pada mulanya mereka tidak terlalu mendapat dukungan. Beberapa kali demonstrasi anti pemerintah pun berhasil dipatahkan dengan mudah. Lalu karena profokasi keamanan yang menganiaya seorang pedagang di sebuah pasar menyebabkan gelombang protes yang besar. Belum pernah terjadi kosentrasi massa yang sebesar itu sepanjang Negeri Syria berdiri. Pemerintah bereaksi dengan keras pula. Tank-tank dikerahkan dan perintah tembak dikeluarkan. Presiden Bashar melalui stasiun TV resmi mengatakan ada konspirasi jahat yang bertujuan untuk menggulingkan dirinya. Di sana ia juga menyampaikan bahwa sejak minggu pertama para demonstran sudah melakukan perlawanan bersenjata.

Aksi protes berlanjut menjadi gerakan sparatis. Para pemrotes mengorganisasi kelompok-kelompok kecil untuk melakukan gerilya. Pemerintah yang didukung militer memberikan serangan udara dan darat dengan gencar. Foto-foto dan video berdarah dirilis. Suatu kali tergambar para lelaki berseragam yang dikenali sebagai anggota oposisi berjajar-jajar tak bernyawa. Kali lain terekam para sandera dari kelompok pemerintah meratap-ratap ketakutan. Hingga hari ini darah masih tumpah di sana. Lebih dari 9000 nyawa melayang sebagai tumbal revolusi yang nampaknya belum akan berakhir.

[Atho’; dari banyak sumber].

Comments

comments

tags: , ,

Related For Khayalan “Musim Semi” di Syria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *