KH. Zainal Abidin Munawwir (Tegas dalam Hukum, Berpegang Teguh Pada Kitab Kuning)

Monday, October 20th 2014. | Tokoh

KH. Zainal Abidin MunawwirSatu per satu orang-orang alim telah dipanggil menghadap kehadirat Sang Pencipta, sesuai dengan janjiNya, bahwa cara Allah menghapuskan ilmu dari muka bumi ini bukan dengan mengambil ilmu itu dari diri seseorang, akan tetapi dengan meniadakan para ahli ilmu, para ulama’ kiai, sehingga yang tersisa hanya orang-orang yang dengan ngawurnya menjawab problematika umat.

Zainal Abidin Munawwir, seorang Kiai sepuh dari Krapyak, Yogyakarta yang menjadi panutan bukan hanya bagi masyarakat sekitar tapi juga bagi seluruh elemen masyarakat di bumi pertiwi ini.

Masa Remaja KH. Zainal Abidin Munawwir

Adalah putra kesembilan dari pasangan KH. Moenawir bin KH. Abdullah Rosyad dan Ny. Hj. Khodijah (Sukistiyah). Beliau lahir pada hari Sabtu Pahing, sekitar pukul 17.30, tanggal 18 Jumadil Akhir 1350/31 Oktober 1931.

Beliau beristrikan Ny. Hj. Ida Fatimah binti KH. Abdurrahman dari Bangil, pasuruan, Jawa Timur. Dan dari pernikahannya itu dikaruniai tiga putra-putri, Agus Muhammad Munawwir, Agus khoiruzzad dan Ning Khumairo’.

Mbah Zainal (KH. Zainal Abidin Munawwir) melewati masa remajanya sebagaimana halnya remaja-remaja pada umumnya. Menurut keterangan dari Ibu Ny. Hj. Ida, istri beliau, Mbah Zainal itu pernah sekolah rakyat (SR), SMP, SMA pada saat itu, terbukti dengan ditemukannya ijazah kelulusan beliau oleh Ibu Nyai. Selain itu, Mbah Zainal juga pernah sekolah di UNU (Universitas Nahdlotul Ulama’) Surakarta, hanya saja tidak sampai selesai.

Mbah Zainal tidak pernah mondok keluar dari pondok pesantren Al Munawwir yang didirikan oleh Sang Ayah, KH. Munawwir. Guru beliau adalah KH. Ali Maksum, yang tak lain adalah kakak iparnya. Mbah Zainal tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Bahkan menurut Ibu Nyai, Mbah Zainal itu mungkin santri KH. Ali Maksum yang paling banyak mewarisi ilmunya, karena sejak kecil 99 persen Mbah Zainal ngajinya kepada KH. Ali Maksum.

Meski Mbah Zainal adalah adik ipar dan juga muridnya, Mbah Ali Maksum tidak segan jika sekali waktu ada permasalah lalu bermusyawarah dengan Mbah Zainal, karena memang keilmuan beliau yang diakui Sang Guru, dan juga perangai KH. Ali Maksum yang sangat menghargai ilmu, tak memandang dari siapapun itu.

Foto:  KH. Zainal Abidin Munawwir bersama Istri

Foto: KH. Zainal Abidin Munawwir bersama Istri

Guru yang Diceritakan dalam Kitab-kitab

Menurut salah seorang santri alumni PP. Al Munawwir, H.M. Ikhsanuddin, M.SI, yang juga menjabat Wakil Katib Syuriah PWNU DI Yogyakarta, Mbah Zainal adalah sosok guru yang digambarkan oleh Syeikh az Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim nya, Syeikh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim, atau bahkan dalam kitab karangan Mbah Zainal sendiri; Wadloiful Muta’allim.

Mbah Zainal sangat memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai guru yang utama bagi para santri yang ingin menuntut ilmu dan bagi masyarakat umum sebagai panutan dan teladan.

Pakar Kitab Kuning

Sejak masih nyantri pada kakak iparnya, Mbah Zainal sudah didapuk sebagai pengajar oleh Sang Kakak yang menitikberatkan pada pelajaran Fiqih, Tasawwuf dan Aqoid. Beliau memang pakarnya dalam kitab kuning.

Sepeninggal KH. Ali Maksum, Mbah Zainal melanjutkan estafet kepengasuhan pondok pesantren Al Munawwir. Dan pada masa itu pula Mbah Zainal mendirikan Madrasah Salafiyah dan Ma’had Aly, hal itu tak lain demi menjaga tradisi santri salaf yang kompeten dalam bidang keilmuan, dan keberadaan Madrasah Salafiyyah serta Ma’had Aly itu demi membantu menertibkan proses pembelajaran santri.

Karena saking ngefannya dengan kitab kuning, Mbah Zainal dalam setiap pendapat dan saran yang diberikan baik kepada para santri, pengurus pesantren, keluarga dan masyarakat, semua pasti merujuk pada kitab kuning, jadi beliau itu memegang teguh apa yang telah diijtihadkan oleh Salafuna as Soleh.

Mbah Zainal dan Dr. Syarif

Mbah Zainal dan Dr. Syarif

Tegas dalam Hukum : Fiqih, Aqoid, Keimanan

Sebagai seorang kiai yang segala laku (perilaku kehidupan) berdasar pada kitab-kitab salaf, Mbah Zainal adalah sosok yang tegas dan sangat hati-hati dalam menentukan dan menerapkan hukum.

Ada salah satu keterangan yang menyebutkan, bahwa Mbah Zainal ketika sakit dan harus diinfus, beliau selalu meminta agar infus itu diletakkan di atas siku-siku atau di atas mata kaki yang tidak termasuk anggota badan yang wajib dibasuh ketika wudlu. Dan itu tak lain karena beliau sangat hati-hati, beliau tetap ingin ibadahnya sempurna meskipun dalam keadaan sakit.

Bagi beliau, keringanan hukum itu bisa digunakan jika memang kita sudah berusaha mencoba normal lalu tidak bisa, jadi kalau masih bisa, meskipun berat, beliau akan tetap melakukannya sebagaimana dalam keadaan normal.

Selain itu, Mbah Zainal juga sangan ikhtiyath (hati-hati) dalam mengamalkan kitab kuning. Beliau senantiasa memilih qoul (pendapat) yang rojih atau paling kuat, paling berat dan tidak akan dengan mudah mengatakan ada hajah atau dzorurot walaupun beliau dalam kondisi sakit. Karena banyak sekarang, apa lagi kaum santri, yang selalu menggunakan dalil Adlorurotu Tubihul Mahdzuroot.

 

Membaca Dinamika Sosial Dari Kaca Mata Kitab Kuning

Mbah Zainal bukan hanya kiai yang konsen pada santri dan pesantrennya saja. Beliau juga sangat memperhatikan dinamika social, politik dan kebudayaan umat yang selalu berkembang. Setiap hari, di jam-jam istirahat beliau, Mbah Zainal selalu menyempatkan diri untuk membaca koran untuk mengetahui perkembangan berita yang terjadi di luaran sana. Dan ketika beliau menemukan kejanggalan dalam pemberitaan itu, dan tidak sesuai dengan aturan yang seharusnya, Mbah Zainal pun kemudian mengutus para santri untuk mendalami informasi tersebut, mencari sumber-sumber yang valit, untuk kemudian Mbah Zainal mencari rujukannya dalam kitab kuning. Setelah mengkaji dan menemukan ibaroh nya dari kitab-kitab, beliau lalu membuat keputusan hokum yang kemudian disetujui oleh ulama’-ulama’ lain, kemudian direkomendasikan kepada pihak terkait.

Begitu perhatian Mbah Zainal terhadap isu yang berkembang di tengah kondisi masyarakat, dan beliau lagi-lagi kembali kepada prinsipnya bahwa Kabeh Ilmu Kudu Dilakoni, Kabeh Laku Kudu Dielmuni; semua ilmu harus diamalkan, dan setiap perilaku itu ada ilmunya.

Semoga kita mendapat barokah dan manfaat dari Mbah Zainal Abidin Munawwir. Amiin.

[Adi Ahlu Dzikri]

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For KH. Zainal Abidin Munawwir (Tegas dalam Hukum, Berpegang Teguh Pada Kitab Kuning)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *