KH. Nurul Anwar, Dirikan Pesantren di Kampung Inggris, Pare

Thursday, January 14th 2016. | Tokoh

20150611_162030~1

Beliau adalah KH. Nurul Anwar. Lahir 25 Agustus 1975 M di Desa Kendal Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan. Sejak kecil, beliau dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya, yaitu Bapak M. Ichsan dan Ibu Lasimah. Menginjak usia sekolah dasar, putra keempat dari keluarga bahagia ini sudah menunjukkan kelebihannya. Nurul Anwar kecil mempunyai prestasi membanggakan dalam bidang matematika, yang dianggap sulit oleh kebanyakan siswa. Saat itu, ia juga sering mendapatkan peringkat satu di kelas.

Awalnya, beliau tidak ingin melanjutkan studi ke pesantren. Setelah tamat sekolah dasar, beliau berkesempatan mendapat beasiswa di Smp Negeri selama tiga tahun. Barang tentu menjadi kebanggaan tersendiri seandainya beliau jadi masuk sekolah menengah melalui jalur beasiswa. Namun, takdir berkata lain. Hasrat beliau harus disimpan dalam-dalam. Mungkin karena terinspirasi dari kiainya di Simo Lebak, akhirnya orang tuanya memerintahkannya mondok di Pesantren Langitan. Saat itu, beliau menjadi pemuda pertama yang mencari ilmu di pesantren salaf tersebut.

Semangat beliau kian bertambah saat melihat mayoritas pemuda di desa beliau menganut aliran  yang tidak sefaham dengannya. Mereka yang juga belajar di pesantren selalu membuat perdebatan saat liburan. Dalam situasi seperti itu, semangat mengibarkan bendera NU terpatri dalam diri beliau, sehingga beliau melakukan perdebatan dengan mereka.

Beliau mulai menimba ilmu di Langitan pada tahun 1988 M. Selama sembilan tahun, beliau ber-khidmah dengan cara roan. Ibarat mempesunting gadis, maka roan adalah mahar pasutri yang harus dipenuhi. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam beberapa organisasi, baik dalam lingkup asrama maupun sekolah. Bahkan, saking aktifnya, pernah dalam satu periode, beliau menjabat empat posisi: ketua lembaga bahtsul masail (LBM), ketua haflah akhirussanah, wakil ketua Daarut Tauhid, serta wakil ketua pembangunan ribath al-Bukhori.

 

Bimbingan Kiai

Sepulang dari pesantren, beliau masih belum memastikan diri untuk mengajar. Beliau memilih untuk memperdalam managemen dan akutansi di Malang. Selanjutnya beliau belajar ilmu bisnis di Solo. Kebetulan saat itu, di daerah tersebut terdapat program kelompok swadaya masyarakat Nahdlatul Ulama (KSMNU). Program yang cukup baik menurut beliau. Dimulai dengan modal tiga juta, selama sekitar dua tahun program ini dapat berkembang menjadi satu milyar.

Namun sayangnya, di tengah perjalanannya, timbul gejolak di KSMNU pusat. Imbasnya menjalar ke KSMNU daerah. Semua aset hasilkan dari KSMNU harus beliau lepaskan. Kondisi demikian memaksa beliau harus kembali melalangbuana, meninggalkan anak dan istri selama dua tahun.

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seseorang yang sudah berkeluarga. Beliau sering merenung dan berfikir pada masa-masa sulit itu. Namun alhamdulillah, sang guru senantiasa menjadi pembimbingnya. Untuk pertama kalinya, Mbah Yai (panggilan akrab KH. Abdullah Faqih dikalangan santri) hadir dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Mbah Yai menyuruhnya untuk kembali mengaji.

Satu demi satu pesantren ia jajaki. Tidak ada yang yang ia pegangi kecuali petunjuk dari kiai. Tujuan awalnya adalah pesantren di Gedang Sewu yang pernah ia tempati selama  lima belas hari. Selanjutnya ia dituntun untuk mengajar di pesantren Mujahidin Kediri. Di sana ia harus mengulangi dari awal. Saat itu, pesantren ini belum ada santrinya. Perlahan beliau mencari santri untuk diberi pengajaran ilmu agama.

Mulai tahun 2004-2007 M, santri yang belajar di pesantren Mujahidin mencapai enam puluhan. Tanah pesantren pun mulai ia beli dengan uang hutangan. Perjuangan beliau tidak selalu berjalan manis. Di pesantren ini, beliau sempat disangka bukan orang NU. Sebab, selama di sana, beliau jarang sekali berbaur dengan masyarakat.

 

Mendirikan Pesantren

Seberapa dekat kita dengan Mbah Yai, seberapa ingat kita dan mematuhi titah beliau. Barangkali itulah kesimpulan yang bisa diambil dari kisah KH. Nurul Anwar. KH. Nurul Anwar mengaku tidak begitu dekat dengan Mbah Yai saat di pesantren. Namun, justru sepulang dari pesantren, beliau begitu dekat dengan Mbah Yai. Hal ini merupakan buah dari usahanya yang senantiasa menjaga hubungan batin dengan sang kiai.

Saat berada di Kediri, beliau dipanggil Mbah Yai untuk mengajar anak putri setingkat pasca Aliyah. Sebagai bentuk sam’an wa tho’atan, beliau harus pulang pergi naik bus dari Kediri ke Langitan. Hal itu ia lakukan mulai tahun 2006 sampai 2012 M. Hikmah dari hal ini, beliau sering mendapatkan wasiat dan ijazah secara langsung dari Mbah Yai.

Setelah Pesantren Mujahidin stabil, ia diperintah Mbah Yai untuk mendirikan pondok pesantren di Pare. Masyarakat umum biasa menyebut daerah tersebut dengan Kampung Inggris. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri. Mendirikan pesantren di tengah-tengah penduduk yang memprioritaskan bahasa inggris bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, perintah itu ia jalani dengan tenang dan penuh kepastian, meskipun dana pembangunan didapatkan dari hutang. Pondok pesantren kemudian oleh Mbah Yai diberi nama al-Ma’ruf.

Ditinjau dari segi lokasinya, Pesantren al-Ma’ruf sangatlah unik. Pesantren ini berdiri di tengah puluhan kos-kosan dan tempat kursus Bahasa Inggris di Pare. Saat berkunjung, kami merasakan geliat para remaja pare mengayun ontel menuju ke tempat kursus. Mereka berbicara dengan bahasa Inggris kapanpun dan di manapun berada. Suasana ini sangat berbeda dengan lingkungan Pesantren al Ma’ruf. Dengan bimbingan Kh. Nurul Anwar, para santri memperdalam ilmu agama dengan penuh semarak.

Setiap tahun, Pesantren al-Ma’ruf mengalami perkembangan pesat, baik infrastruktur maupun yang lainnya. Uniknya, di pesantren ini terpasang wifi yang diperuntukkan bagi para santri. Alasannya cukup sederhana. Sang kiai bertutur, “Di sekitar pesantren ini hampir semua warung terpasang wifi. Jika tidak dipasang wifi, pasti mereka akan menyambungkan ke wifi tersebut. Ini merupakan antisipasi agar mereka terhindar dari ghasab tanpa disadari. Sedangkan menetapi dosa adalah sebuah dosa besar.” Kendati demikian, saat pengajian berlangsung, para santri harus mengikutinya dengan baik. Wifi di-disconnect-kan.

Pesantren ini juga menerapkan kurikulum ilmu alat dengan Imrity, Alfiyyah, Jauharul Maknun sebagai acuannya. Di samping itu juga ilmu fikih yang menggunakan kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu’in. Melalui titah Mbah Yai, sang muassis menggembleng para santri dengan menggunakan sistem SKS (standar kempetensi santri). Dengan sistem ini, masing-masing santri harus menyelesaikan minimal tiga bab dari masing-masing kitab dengan membaca, menerjemah, menulis, serta mempresentasikannya dalam tempo enam bulan. Dengan sistem pembelajaran seperti ini, bisa dipastikan, mereka yang lulus dari al-Ma’ruf bisa diterima di Ma’had Ali.

Beliau selalu ingat pesan Mbah Yai, “Di manapun kamu berada, jadikan tempatmu sebagai majlis ta’lim. Tempatnya pun harus diperjelas, hasil waqaf atau beli. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya pergolakan dengan masyarakat.”

[Muslimin Syairozi & Muhammad Faqih]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For KH. Nurul Anwar, Dirikan Pesantren di Kampung Inggris, Pare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *