KH Nawawie bin Noerhasan, Kiai Ulet Cucu Sayyid Sulaiman

Monday, March 19th 2018. | Jejak Utama, Tokoh


Sidogiri, pesantren yang kini dihuni sekitar 9.000 santri, dulunya adalah sebuah hutan belantara yang dibabat oleh Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban. Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berkah.
Dari Sayyid Sulaimanlah, lahir ulama-ulama besar yang di kemudian hari menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Nahdlatul Ulama. Salah satunya adalah KH Nawawie bin Noerhasan yang lahir pada tahun 1862 Masehi. KH. Nawawi Merupakan salah satu cucu keempat Sayyid Sulaiman.
Karena hidup dan besar di lingkungan pesantren, Kiai Nawawie sudah tidak asing lagi dengan ilmu-ilmu keagamaan sejak kecil. Apalagi Sang Ayah, KH Noerhasan bin Noerkhotim dengan setia selalu membimbing dan mengarahkan Kiai Nawawie.

Dari Bangkalan Sampai Mekah al-Mukarramah
Kehidupan Kiai Nawawie muda dipenuhi dengan rihlah ke beberapa pesantren untuk mencari ilmu. Mekah al-Mukarramah juga tak luput dari pijakan beliau dalam proses pencarian ilmu.
Pesantren pertama yang menjadi oase Kiai Nawawie dalam mengarungi lautan ilmu adalah pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Syaikhona Kholil dan Kiai Nawawie sebenarnya masih tergolong sanak famili. Beliau berdua merupakan cicit Kiai Asror bin Abdullah bin Sulaiman Bangkalan (Bujuk Asror/Bujuk Langgundih), cucu Sayyid Sulaiman yang bertempat tinggal di Bangkalan Madura. Orang Madura biasa menyebut hubungan sanak antar cicit ini dengan du popoh (dua pupu), kelanjutan dari sepupu.
Selain nyantri di Bangkalan, Kiai Nawawie juga pernah mencecap ilmu agama di negara tempat lahirnya Islam, Arab. Di Mekah beliau mempelajari segala bidang ilmu pengetahuan Islam dengan rajin dan tekun.
Konon, Kiai Nawawie nyantri di Mekah selama tiga tahap. Pertama, Kiai Nawawie ditemani oleh KHR Syamsul Arifin, Situbondo. Setelah itu beliau kembali ke Sidogiri. Namun tak lama kemudian Kiai Nawawie kembali ke Mekah karena merasa ilmunya belum cukup dan karena saat itu masih ada kakaknya, Kiai Bahar yang menjadi Pengasuh Pesantren Sidogiri.
Kiai Nawawie kembali lagi ke Mekah setelah diberi pertanyaan oleh sang kakak dan beliau tidak bisa menjawabnya. Kiai Nawawie kembali ke Mekah seraya bersumpah tidak akan pulang selagi belum bisa ‘mengalahkan’ kakaknya.
Kiai Nawawie baru pulang dari Mekah setelah diminta untuk meneruskan estafet kepengasuhan Pesantren Sidogiri karena Sang Kakak, Kiai Bahar telah berpulang ke rahmatullah.

Salah Satu Tokoh Perintis NU
Bermula dari kerihatinan para ulama terhadap perkembangan lslam dunia, khusunya Indonesia, dimana pada masa itu sistem pemerintahan khilafah di Turki dihapus. Bagaimanapun juga, penghapusan sistem khilafah menyebabkan banyak masyarakat muslim, terutama di daerah bekas jajahan Inggris dan Belanda, merasa terpukul dan kehilangan orientasi.
Dari situlah KH A Wahab Hasbullah menghadap KH Hasyim Asyari untuk mengutarakan niatnya mendirikan suatu organisasi keagamaan agar umat Islam bermadzhab mendapat perlindungan dan kebebasan dalam wilayah kekuasaanya.
KH Hasyim Asyari tidak langsung menyutujui niat baik KH A Wahab Hasbullah tersebut, namun beliau menyarankan agar berkonsultasi terlebih dahulu kepada KH Nawawie Sidogiri. Atas saran gurunya itu, Kiai Wahab datang ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah Kiai Wahab menyampaikan maksud kedatangannya, Kiai Nawawie menyarankan agar terlebih dahulu bermusyawarah dengan Ulama Pasuruan. Akhirnya Kiai Nawawie dan Kiai Wahab sepakat untuk membicarakannya di Masjid Jami’ Pasuruan. Dari musyawarah tersebut kemudian dilanjutkan dengan pertemuan para ulama di Kediaman KH Wahab Hasbullah pada tanggal 31 Januari 1926 yang kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah jam’iyyah yang diberi nama Nahdlatul Ulama.
Dalam catatan Aboe Bakar Atjeh, KH Nawawie bin Noerhasan termasuk salah satu pengurus pertama NU bersama KH Ridlwan Mujahid (Kudus), KH Doro Munthaha (Bangkalan), Syekh Ahmad Ghana’im ( Surabaya asal Mesir), dan KH Rd Hambali.
Di struktur NU, Kiai Nawawie duduk di dewan mustasyar (penasehat) periode pertama. Beliau menjadi mustasyar NU sampai akhir hayatnya.
Air Pemandian tidak Jatuh Ke Tanah
Pagi itu, Jumat 25 Syawal 1347 H, ada tamu yang bermaksud mengundang Kiai Nawawie untuk melaksanakan salat jenazah. Beliau mengatakan pada tamu tersebut untuk menunggunya sebentar, lalu Kiai Nawawi masuk ke mihrabnya. Lama menunggu, Kiai Nawawie tak kunjung keluar. Santrinya juga menyangka Kiai Nawawie masih melaksanakan Salat Dluha. Beliau memang istikamah melaksanakan Salat Dluha sebelum membuka pengajian di surau. Lama berselang, Kiai Nawawie juga tak kunjung keluar. Akhirnya salah satu santri memberanikan diri untuk mengintip dari celah lubang kunci, dilihatnya Kiai Nawawie masih sujud. Karena masih tak kunjung keluar, akhirnya santri tadi mengintipnya dan melihat dari mulut Kiai Nawai keluar busa, itupun masih dalam keadaan sujud. Tenyata Kiai Nawawie memenuhi panggilan Sang Khalik dalam keadaan sujud. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Ada kejadian unik saat jenazah Kiai Nawawie dimandikan. Air yang dibuat memandikan jenazah beliau tidak sampai jatuh ke tanah, karena orang-orang yang hadir berebut menadahinya untuk dibawa pulang karena yakin air tersebut mengandung berkah. (Khozin)

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For KH Nawawie bin Noerhasan, Kiai Ulet Cucu Sayyid Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *